[Editorial] Ramadhan di Tengah Pandemi

0
881

LiputanIslam.com – Ramadhan tahun 2020 ini sangat istimewa. Tak pernah kaum Muslimin di Indonesia mengalami situasi Ramadhan seperti sekarang ini, dan sepertinya, ke depannya pun situasi serupa tidak akan pernah terjadi lagi. Pandemi Covid-19 adalah penyebabnya. Kita lihat bagaimana kesemarakan Ramadhan menjadi jauh berkurang. Tak ada lagi jalanan yang ramai di saat menjelang buka puasa. Masjid-masjid pun sepi. Bahkan salat taraweh ditiadakan. Hanya sebagian kecil masjid atau surau yang menggelarnya. Itupun dengan pembatasan yang sangat ketat.

Ramadhan yang kita masuki di tengah keterbatasan aktivitas ini sejatinya penuh dengan hikmah. Salah satu pesan moral paling penting diturunkannya kewajiban puasa di bulan Ramadhan adalah soal kepedulian kita terhadap sesama. Puasa yang secara sederhana bermakna menahan rasa haus dan lapar selama seharian semestinya mengingatkan kita kepada momen-momen kehausan dan kelaparan yang pernah kita alami dan yang sangat mungkin akan kita alami.

Jika momen itu terkait dengan yang pernah kita alami, ingatan itu sangat berguna dalam rangka membuat kita semakin menjadi orang yang bersyukur, karena hidup kita saat ini sudah menjadi lebih baik. Lebih jauh lagi, ingatan tersebut mestinya mendorong kita untuk mempertebal kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang saat ini sedang didera beragam penderitaan.

Dihubungkan dengan konsep ini, biasanya imajinasi kita melayang kepada kemiskinan dan kezaliman yang merupakan fenomena yang merajalela di dunia Islam. Palestina, misalnya. Puluhan tahun lamanya jutaan warga Palestina terlunta-lunta menjadi pengungsi dan hidup dalam kemiskinan. Mereka yang tinggal di kawasan pendudukan tak pernah merasakan ketenangan dalam hidupnya. Hari ini bisa makan, entah dengan esok lusa. Jika sanak keluarga bepergian ke luar rumah (bekerja untuk ayah atau anak-anak yang pergi ke sekolah), tak pernah ada jaminan bahwa mereka akan kembali pulang ke rumah dengan selamat. Bahkan, tinggal di rumah pun bukan merupakan jaminan. Setiap saat, rumah mereka bisa saja menjadi sasaran serangan roket serdadu Zionis Israel.

Situasi yang sama juga terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman. Keganasan mesin-mesin perang kelompok-kelompok radikal dan juga tentara koalisi pimpinan Arab Saudi menciptakan penderitaan yang luar biasa bagi warga di tempat-tempat tersebut. Mereka, termasuk anak-anak kecil dan kaum perempuan, didera kehausan, kelaparan, dan ketidakpastian masalah keamanan. Apa yang terjadi di sana tentulah jauh berlipat-lipat dibandingkan dengan “penderitaan puasa” kita yang tak seberapa.

Tahun ini, ketika badai pandemi melanda dunia, kita ikut merasakannya. Virus yang sangat mematikan dengan penularan yang luar biasa cepat itu membuat kita semua khawatir. Yang sudah positif terkena virus khawatir penyakitnya menjadi berat, lalu menjadi bagian dari orang-orang yang gagal bertahan alias meninggal dunia. Yang masih sehat takut tertular. Maka, diberlakukan berbagai macam pembatasan untuk memutus mata rantai penularan. Akibatnya, sirkulasi kehidupan sosial-ekonomi terhambat dengan serius. Jutaan orang Indonesia tidak bisa lagi bekerja. Maka, muncul ketakutan berikutnya. Selain takut tertular virus, orang-orang juga takut tidak bisa makan.

Inilah agaknya yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 155 yang menyatakan bahwa Allah akan memberikan cobaan kepada manusia berupa rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan (bahan pangan). Menurut ayat ini, kunci utama melewati ujian ini adalah mempertebal sikap sabar.

Saat berpuasa, kita bersabar menahan rasa haus dan lapar hingga diperkenankan untuk berbuka di saat Maghrib tiba. Di saat berbuka itulah kita akan merasakan lezatnya bersantap; kelezatan yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang mau bersabar menahan diri dari makan dan minum.

Sebagai orang yang beriman, kita mestinya yakin bahwa pandemi ini pada akhirnya akan berlalu. Ujian pandemi ini harus kita hadapi dengan sikap sabar, seperti yang biasa kita tunjukkan di saat berpuasa. Akan ada saatnya ketika kita merayakan kesabaran kita itu. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: