[Editorial] Iran, Embargo di Tengah Pandemi

0
699

LiputanIslam.com –Satu persatu, topeng yang dikenakan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya semakin terbuka lebar. Pandemi Covid-19 betul-betul menjadi ujian bagi ketulusan klaim-klaim mereka, dan mereka gagal melewatinya. Berbagai klaim mereka selama ini sebenarnya sudah menciptakan banyak skeptisisme di kalangan masyarakat dunia. Kini, pandemi yang meluluhlantakkan tatanan global dunia itu semakin menegaskan bahwa masyarakat dunia memang layak bersikap skeptis.

Di antara negara-negara dunia yang saat ini menjadi sasaran utama tekanan dari AS dan sekutunya adalah Iran (selain Suriah, Yaman, dan Irak, tentunya). Iran selama beberapa dekade terus diembargo dari segala lini, termasuk di bidang ekonomi dan kemanusiaan. Embargo ini betul-betul telah memperparah kondisi Iran di saat negara ini menghadapi pandemi Covid-19.

Sebelum pandemi Covid-19 ini merebak, keputusan gila dan arogan Trump untuk mencabik-cabik perjanjian nuklir yang sebelumnya ditandatangani oleh Barack Obama, telah menimpakan kesulitan ekonomi yang sangat berat kepada Iran. Negeri kaum Mullah ini tak bisa menjual minyaknya, karena perusahaan atau negara manapun yang berani bertransaksi ekonomi dengan Iran akan berhadapan ancaman sanksi AS. Sanksi bahkan diperluas kepada segala macam komoditas, termasuk alat-alat kesehatan dan obat-obatan.

Ketika Covid-19 melanda dunia, Iran termasuk negara yang paling terdampak, sehingga menjadi episentrum pandemi di kawasan Timur Tengah. Data terakhir per tanggal 12 April 2020, jumlah warga Iran yang positif terinfeksi Korona melampaui angka 71.000. Dari jumlah itu, angka kematian mencapai angka 4.400 orang. Akan tetapi, kabar baiknya, mereka yang sudah dinyatakan sembuh total mencapai angka 43.000. Artinya, lebih dari setengah pengidap virus telah sembuh total, dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat, meskipun jumlah yang terinfeksi juga tetap bertambah.

Tingginya angka orang yang terjangkit virus tak bisa dilepaskan dari kondisi Iran yang masih dikenai embargo. Alat-alat kesehatan dan obat-obatan termasuk di antara komoditas yang terlarang untuk dibeli oleh Iran. Akhirnya, Iran setengah mati berjuang sendirian menghadapi pandemi. Jangankan mendapatkan bantuan, utuk membeli pun Iran tidak bisa. Iran betul-betul hanya mengandalkan industri dalam negeri dan bantuan yang diberikan oleh negara-negara sahabat yang punya kemampuan untuk membantu, semisal China dan Rusia.

Berbagai petisi dan protes dilancarkan kepada AS yang berhati keras, enggan untuk melunakkan sanksi atas dasar kemanusiaan. Alih-alih bersikap lunak, AS malah menyatakan bahwa tekanan kepada Iran justru harus dimaksimalkan (maximum pressure). Iran yang lemah harus dimanfaatkan sedemikian rupa agar terjadi pergantian rezim dan sistem. AS malah menyalahkan rezim yang berkuasa di Iran sebagai biang kerok kesulitan yang dihadapi. Menurut AS, Iran sebenarnya punya cukup dana dan kemampuan untuk memberikan pelayanan kesehatan terbaik buat rakyatnya. Akan tetapi, dana yang ada malah dipakai untuk membiayai apa yang disebut AS sebagai  kejahatan terorisme internasional. Jadi, dalam pandangan AS, pandemi virus ini adalah pelajaran bagi Iran agar menghentikan dukungan terhadap terorisme internasional.

Tentu kita semua sudah sama-sama mafhum bahwa apa yang dituduhkan kepada Iran sebagai tindakan terorisme itu adalah dukungan Teheran kepada pejuang HAMAS dan Jihad Islam di Palestina, Hezbollah Lebanon, dan rakyat Suriah. Semua itu adalah kelompok-kelompok yang melakukan perlawanan terhadap Zionis Israel. Jadi, parameter tindakan teroris versi AS adalah jika gerakan itu membahayakan Israel.

Covid-19 memang sangat memukul Iran. Akan tetapi, berbagai berita menunjukkan bahwa negara ini sepertinya sudah mampu melewati badai, dan kini sedang melakukan recovery. Sebaliknya, AS yang sejak awal ingin menjadikan pandemi ini untuk menekan Iran, saat ini malah sedang berhadapan dengan situasi yang sangat tidak mereka duga sebelumnya. Kini, AS betul-betul menjadi episentrum pandemi di dunia. Jumlah mereka yang terinfeksi melampaui angka 500.000, jauh melampaui angka 161.000 pengidap Covid-19 di Spanyol yang berada di urutan kedua dunia. Jumlah korban yang meninggal akibat pandemi di AS juga menembus angka 20.000, tertinggi di dunia.

Drama pandemi sepertinya masih akan terus bergulir. Apapun juga hasilnya, konstelasi dunia pasti akan berubah pasca pandemi ini mereda. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: