Dewan Kerja Sama Teluk Makin Rusak dan Susah Diperbaiki

0
1936

LiputanIslam.com –Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang beranggotakan Oman, Qatar, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab baru-baru ini (16/9) menggelar pertemuan ke-149 tingkat menteri luar negeri, yang diadakan di markas organisasi ini, yaitu di Riyadh. Pertemuan itu menghasilkan sejumlah pernyataan yang menunjukkan bahwa GCC memang gagal menjadi lembaga kerjasama strategis yang kuat. Berbagai pernyataan GCC sama sekali tidak menyentuh hal-hal yang aktual; dan bahkan sama sekali tidak mencoba menyentuh berbagai masalah perpecahan internal yang secara serius sedang mereka hadapi.

Perhatikan, bagaimana dalam pernyataan resminya itu, GCC kembali mengangkat isu klaim tiga pulau di Teluk Persia, yaitu “Tunb Besar”, “Tunb Kecil” dan “Abu Musa”. Dewan Kerjasama Teluk menyatakan bahwa bahwa setiap tindakan yang diambil oleh Iran di ketiga pulau ini adalah tidak sah dan tidak akan mempengaruhi kedaulatan UEA atas pulau-pulau ini. Ini adalah pernyataan yang sangat ganjil, karena memang saat ini tak ada pemberitaan atau pergerakan apapun yang terkait dengan sengketa atas ketiga pulau di antara kedua negara (Iran dan UEA). Tak ada manuver politik dari salah satu pihak yang bersengketa. Tak ada pernyataan apapun yang keluar baru-baru ini. Tak ada angin, tak ada hujan. Tiba-tiba saja GCC merilis pernyataan tentang sengketa atas ketiga pulau itu.

Pernyataan GCC berikutnya adalah soal nuklir Iran. Para menteri luar negeri GCC dalam pertemuannya itu mengutuk apa yang mereka sebut dengan ketidakpatuhan Iran terhadap komitmennya dan peningkatan tingkat pengayaan uraniumnya. GCC menuntut Iran untuk mematuhi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan melakukan kerja sama yang diperlukan.

Pernyataan GCC soal nuklir Iran ini juga punya masalah dengan konteks yang tidak ‘nyambung’. Benar bahwa nuklir Iran selalu menjadi isu panas di kawasan dan dunia. Akan tetapi, saat ini, isu nuklir tak sedang mengemuka sama sekali. Sama seperti kasus sengketa atas tiga pulau, saat ini juga sedang tak ada isu panas yang meyangkut nuklir Iran. Saat ini, Iran masih sedang dikenai sanksi ekonomi oleh AS, dan perundingan nuklir Iran sedang dalam kondisi macet, gara-gara AS secara sepihak menarik diri dari perundingan. Tapi itu adalah kasus yang sangat lama. Penarikan diri AS dari perjanjian nuklir Iran juga terjadi yang berkuasa di Gdeung Putih adalah Donald Trump.

Lagipula, tuduhan tentang ketidakpatuhan Iran dan tuntutan agar Iran bekerjasama dengan IAEA adalah tuduhan basi yang sama sekali tak pernah terbukti. IAEA sendiri secara jelas dan tegas bahwa sejauh ini, proyek nuklir Iran masih berada di jalur yang benar, yaitu hanya untuk keperluan damai.

Ada hal yang menarik di sini. GCC sebagai sebuah lembaga begitu gencar menyerang Iran. Akan tetapi, faktanya, di antara negara-negara GCC sendiri, masing-masing memiliki posisi yang berbeda-beda terhadap Iran. Kualitas hubungan mereka dengan Teheran sama sekali tidak seragam. Misalnya, Oman, Qatar, dan Kuwait memiliki hubungan politik dan ekonomi yang baik dengan Iran. Dari sisi ini, hampir dipastikan bahwa pernyataan kecaman terhadap Iran atas nama lembaga GCC itu tak akan pernah bisa terimplementasikan, karena di luar konteks GCC, tiga dari enam negara anggota GCC itu secara Goverment-to Goverment (G-to-G) tetap menjalin hubungan yang baik dengan Iran. Ketiga negera itu sama sekali tak pernah secara langsung berpolemik dengan Iran untuk kedua isu tersebut.

Saat ini, orang dapat melihat kesenjangan yang sangat jelas di GCC mengenai hubungan dengan Teheran. Arab Saudi, Bahrain, dan, pada tingkat lebih rendah, UEA, memang bersitegang dengan Iran. Akan tetapi, Oman malah sedang menjalin kerjasama yang terus berlanjut pada tingkat setinggi mungkin. Selain memiliki hubungan politik yang erat, Muscat juga memainkan peran penting dalam memulai pembicaraan nuklir antara Teheran dan Barat dalam beberapa tahun terakhir. Oman bahkan saat ini tampil sebagai penengah dalam krisis Yaman.

Juga, hubungan politik dan ekonomi Iran dengan Qatar dan Kuwait berlangsung pada tingkat yang tepat, dan Doha telah berulang kali menyerukan mediasi dan memajukan dialog untuk mengurangi perbedaan antara Iran dan Arab Saudi.

 

Poin menarik lainnya adalah tingginya tingkat perbedaan dan friksi di antara negara-negara anggota GCC sendiri. Sangatlah aneh ketika mereka secara bersama-sama mengutuk pihak lain, padahal, di antara sesama mereka sendiri saling bersitegang.

UEA dan Arab Saudi, misalnya, menjadikan perlawanan terhadap pergerakan Ikhwanul Muslimin di Asia Barat dan Afrika Utara sebagai salah satu strategi utama kebijakan luar negeri mereka di kawasan itu dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, kelompok Ihwanul Muslimin yang diperangi Arab Saudi dan UEA inilah yang sangat didukung oleh Turki dan Qatar.

Di sisi lain, ada perbedaan perbatasan dan politik yang luas antara negara-negara GCC. Selain itu, ada juga perlombaan senjata di antara anggota GCC, serta kurangnya konsensus tentang berbagai krisis di tingkat regional dan trans-regional. Ini semua menjadi bahan pertanyaan tentang seberapa efektif eksistensi dan fungsi Dewan Kerjasama Teluk.

Di tengah-tengah fakta banyaknya perbedaan friksional secara internal, penerbitan pernyataan bersama yang menentang Iran tampaknya menunjukkan, di atas segalanya, bahwa ada intervensi dan tekanan eksternal kepada anggota –yang dengan mudah ditebak, bahwa tekanan itu datangnya dari Amerika Serikat. AS yang menjadi patron bersama untuk semua negera anggota GCC menekan negara-negara Arab di Teluk itu untuk mengesampingkan perbedaan atas masalah hubungan yang sangat kontroversial, dengan memunculkan isu Teheran sebagai “musuh” bersama.

Jadi, simpul dari semua itu adalah kepentingan AS; bukan kepentingan masing-masing negara, apalagi kepentingan rakyat sebagai pemilik daulat di masing-masing negara itu. Tak pelak lagi, dengan pola-pola yang terus berulang seperti itu, Dewan Kerjasama Teluk menjadi lumpuh dan kehilangan energi. Berbagai masalah internal mereka biarkan saja mengambang tanpa penyelesaian. Mereka tak akan pernah bisa secara independen membicarakan hal-hal aktual yang terjadi di TimurTengah dan Dunia Islam.

Maka, memang pantas, di saat dunia saat ini sedang hangat memperbincangkan berkuasanya Taliban di Afghanistan, GCC malah mengeluarkan pernyataan tentang tiga pulau di Teluk Persia dan nuklir Iran. Absurd dan menggelikan. Tapi itulah memang kenyataannya. Lembaga ini sudah makin rusak, dan mungkin kerusakan kali ini tak akan mungkin bisa diperbaiki lagi. (os/LI)

DISKUSI: