Demo Anti Hijab dan Rekam Jejak Busuk AS di Timur Tengah

0
336

LiputanIslam.com –Aksi-aksi kerusuhan menolak jilbab di Iran yang didukung kuat oleh AS saat ini bisa dikatakan mereda. Aksi-aksi yang didukung oleh negara-negara Barat, terutama AS itu, mengingatkan kita semua kepada jejakpjejak sejarah AS di Iran dan Timur Tengah. AS memang punya rekam jejak berdarah, busuk, dan jahat di Timur Tengah, termasuk Iran. Karenanya, orang yang berpikir logis mestinya tak boleh melupakan sejarah serta harus bersikap skeptis terhadap segala macam manuver AS di Timur Tengah.

Persekutuan AS dengan Rezim Zionis Israel bisa disebut sebagai kejahatan paling nyata AS selama tujuh dekade ini. Ketika banyak negara dunia, termasuk Indonesia, menempatkan Israel sebagai penjajah atas Negeri Palestina, AS berdiri di garda terdepan dalam membela penjajah Zionis. Lebih dari empat puluh draft resolusi pengecaman atas kejahatan HAM Israel diveto oleh AS dengan semena-mena.

Irak, Afghanistan, dan Suriah adalah korban kejahatan AS lainnya. Di Afghanistan, AS adalah inisiator utama pembentukan Al-Qaeda. Ketika Al-Qaeda (Taleban) berkuasa, AS menempatkannya sebagai teroris yang harus diperangi. Lalu, AS menginvasi Afghanistan dan mendudukinya selama dua dekade. Ratusan ribu nyawa warga sipil melayang selama masa-masa pendudukan itu.

Irak juga menjadi korban kejahatan AS. Tahun 1990, Gedung Putih merekayasa berita hoaks yang disampaikan seseorang bernama Nayirah yang mengaku sebagai perawat di rumah sakit Kuwait. Ia bersaksi di depan Kongres AS bahwa ia melihat bagaimana bayi-bayi yang masih berwarna merah tewas meregang nyawa setelah dilemparkan dari inkubator oleh tentara Irak. Dengan berdasarkan kesaksian itu, AS mengebom Irak. Ratusan ribu nyawa juga melayang. Belakangan, terbongkar bahwa Nayirah adalah anak dari Dubes Kuwait untuk AS. Dia bukanlah perawat, dan saat Kuwait diserang, Nayirah sedang berada di Washington.

Irak kembali menjadi korban kejahatan AS di tahun 2003 ketika negara itu dituduh memiliki senjata kimia dan biologis yang berbahaya. Pentagon menunjukkan berbagai gambar yang diklaim sebagai hasil jepretan satelit tentang keberadaan gudang-gudang senjata pembunuh massal itu. Maka, AS pun menggalang tentara koalisi untuk membormbardir Irak. Setelah Irak luluh lantak dan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia, barulah AS menyatakan bahwa Irak sebenarnya tak punya senjata dimaksud.

Suriah adalah contoh terbaru kejahatan AS. Bersama sekutu-sekutunya, AS mensponsori gerakan jihad palsu yang mendatangkam banyak sekali milisi bersenjata dari seluruh dunia, dengan tujuan menggulingkan pemerintah Assad. Kita tentu masih mengingat kengerian yang ditimbulkan oleh kelompok teroris jahat bernama ISIS yang dideklarasikan tahun 2014. Maka, Suriah pun hancur lebur. Meskipun saat ini pemerintahan Assad berhasil memberangus kelompok-kelompok teroris, tapi, negara itu hingga saat ini dihadapkan kepada fakta hancurnya infrastruktur negara mereka.

Terbaru, Iran menjadi target AS. Dengan dalih pembelaan terhadap kebebasan kaum perempuan, serta dipicu oleh kematian Mahsa Amini, AS menyatakan dukungannya terhadap para pendemo di Iran. Seruan akhirnya adalah penggulingan rezim Islam di Negeri Kaum Mullah itu. Seruan dukungan itu disebarkan oleh AS bukan hanya kepada kalangan internal Iran, melainkan juga ke seluruh dunia, dengan harapan warga dunia dan juga pemerintahan dari berbagai negara ikut serta mendukung kampanye penggulingan rezim Iran. AS tak peduli dengan bukti-bukti tak terbantahkan (rekaman CCTV dan catatan medis) bahwa Mahsa Amini meninggal bukan karena penyakit yang dideritanya, bukan karena disiksa.

Untunglah sekenario AS di Iran hanya sampai kepada gelombang demo yang kini sudah mereda, sehingga Iran tak sampai bernasib seperti Afghanistan, Irak, ataupun Suriah. Meskipun demikian, melayangnya nyawa puluhan orang selama gelombang demo tetaplah bencana yang buruk. Semua kejahatan itu menjadi tanggung jawab aktor intelektual di balik berbagai kerusuhan tersebut, yaitu AS. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: