LiputanIslam.com –Berbagai peristiwa mengiringi kematian Jenderal Qassem Soleimani. Ada banyak perubahan konstelasi politik pasca peluncuran rudal Iran yang menghantam dua pangkalan militer AS di Ain Al-Assad, Irak. Respon Washington yang secara umum menghendaki peredaan ketegangan –alih-alih membalas serangan Iran, menunjukkan bahwa AS betul-betul sedang melakukan kalkulasi ulang yang lebih teliti terkait dengan segala langkah yang diambil di Timur Tengah. Kesalahan kalkulasi (seperti yang dilakukan Trump dengan meneror Jenderal Qassem) bakal berakibat sangat fatal.

Sampai saat inipun AS tampak masih gamang. Dan Trump sebagai tokoh antagonis, tampak tidak lagi segagah sebelumnya. Tidak ada cuitan-cuitan provokatif dan rasis yang ia tuliskan di media sosial. Ia juga tidak mewacanakan keputusan-keputusan kontroversial. Trump juga irit berkomentar terkait dengan soal apapun.

Barangkali sebagian orang mengira bahwa di balik sikap diam para pejabat Gedung Putih itu, ada rencana yang sedang dirancang; ada konspirasi jahat yang sedang diproyeksikan. Barangkali di balik pernyataan-pernyataan sejuk soal peredaan ketegangan di kawasan Timur Tengah, sebenarnya Trump dan para sekutunya sebenarnya sedang sangat sibuk mengadakan berbagai pertemuan rahasia.

Kemungkinan ini bisa saja benar. Akan tetapi, rencana busuk dan konspirasi apapun yang sedang mereka rancang, semua itu tak akan bisa mengubah fakta bahwa saat ini, reputasi AS, Israel, dan sekutu-sekutunya sudah terlanjur jatuh. Rakyat di negara-negara Arab yang selama ini melihat AS dengan perasaan inferior; melihat Barat sebagai kekuatan yang tak mungkin dilawan, kini mulai melihat dengan jelas titik lemah mereka yang menganga lebar. AS ternyata bukan kekuaatan yang tak terkalahkan. Kelengkapan senjata, kekuatan ekonomi, kelicikan politik, dan kerapihan dalam membangun rencana ternyata bukanlah segala-galanya. Kini, di kalangan kaum Muslimin di Timur Tengah makin tersebar ungkapan: “tentara AS hanya kelihatan digjaya di film-film Hollywood”.

Momentum munculnya energi perlawanan dan pulihnya kepercayaan diri sebagai bangsa Muslim ini mestinya dijaga dan dimanfaatkan sebaik-baiknya. Ada begitu banyak agenda kaum Muslimin di berbagai penjuru dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah. Agenda paling besar tentulah persoalan Palestina. Sudah terlalu lama bangsa ini dijajah, diusir dari negeri sendiri, dibunuhi, dirampas, dan dilemahkan. Semua kejahatan yang sudah berlangsung selama lebih dari 70 tahun itu mendapat perlindungan sepenuhnya dari AS dan sekutu-sekutunya.

Setiap upaya pencegahan atau penghukuman atas kejahatan Israel selalu saja membentur dinding tebal perlindungan AS. Milyaran dolar bantuan diberikan secara gratis oleh AS untuk pemerintahan Israel tiap tahunnya. Uang itu lalu dipakai untuk pembuatan senjata dan pembangunan permukiman ilegal Yahudi di kawasan-kawasan Palestina. Setiap presiden terpilih AS bersumpah bahwa kepentingan nasional Israel adalah kepentingan AS. Lalu, ketika masyarakat internasional hendak menjatuhkan hukuman kepada Israel atas kejahatannya itu, AS tampil dengan hak-hak vetonya. Akibatnya, kejahatan Israel tak pernah bisa dijamah.

Tak lupa, AS juga mengintimidasi serta memberi status “teroris” kepada siapapun atau pihak manapun yang dianggap “mengganggu” Israel. Bertahun-tahun Iran dikenai sanksi. Suriah kini porak-poranda. Hizbullah, HAMAS, Jihad Islam, Hasd Al-Shaabi, dan berbagai kelompok perlawanan lainnya dicap sebagai organisasi teroris.

Kini, kaum Muslimin sudah mulai melihat bahwa AS sebenarnya punya banyak kelemahan. Artinya, dukungan dan perlidungan AS terhadap Israel juga punya titik lemah. Ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk mendukung dan menuntaskan agenda kemerdekaan bangsa Palestina.

Seperti yang disampaikan oleh Kepala Biro Politik HAMAS Ismail Haniye dalam pidatonya di Teheran saat memberikan penghormatan terakhir, Qassem Soleimani adalah Syahid Al-Quds. Qassem mendarmabaktikan hidupnya untuk Palestina, dan kematiannya bisa menjadi titik balik kemenangan bangsa itu. (os/editorial/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*