Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Kenikmatan Secangkir Kopi Saat Menatap Suriah

Published 04/03/2014 7 Min Read
Share
7 Min Read
SHARE
Tentara Israel di Golan
Tentara Israel di Golan

LiputanIslam.com — “This is a playoff situation in which you need both teams to lose, but at least you don’t want one to win — we’ll settle for a tie. Let them both bleed, hemorrhage to death: that’s the strategic thinking here. As long as this lingers, there’s no real threat from Syria.”

Kalimat tersebut terlontar dari Alon Pinkas, Mantan Konsulat Jenderal Israel di New York, yang dipublikasikan oleh the New York Times pada tanggal 5 September 2013. Kala itu, Presiden Amerika Barack Obama berencana akan melancarkan intervensi militer untuk ‘menghukum’ Presiden Suriah Bashar al-Assad atas tuduhan telah melanggar ‘red line’ dengan menggunakan senjata kimia di Ghouta, Suriah.

Akibat serangan senjata kimia pada tanggal 21 Agustus 2013 tersebut, dikabarkan sekitar 300 warga sipil tewas termasuk anak-anak. Pemerintah dan pemberontak saling tuduh. Walau demikian, Obama merasa punya bukti kuat untuk bahwa pemerintah Suriah merupakan pelaku dari serangan mematikan tersebut, dan karenanya pantas untuk dihukum.

Dimanakah posisi Israel saat itu? Mungkin pernyataan Alon Pinkas cukup mewakili. Tergambar dengan jelas bahwa pihaknya adalah yang paling diuntungkan dengan adanya perang Suriah yang telah berlangsung selama tiga tahun. Menurut Pinkas, posisi Israel dalam perang Suriah adalah “menghendaki  kedua tim kalah, dan tidak ingin melihat salah satunya menang. Dengan membiarkan mereka [umat Islam yang sedang berperang di Suriah] berdarah-darah, maka dipastikan tidak akan ada ancaman yang datang dari Suriah.”

Mungkin kita akan dibuat bertanya-tanya, apakah Suriah merupakan ancaman bagi Israel?

Melihat kisah perseteruan Israel dengan Suriah sejak awal negara Israel berdiri, dan mendapati fakta bahwa Suriah tidak pernah berdamai dengan Israel dan posisi mereka hanya gencatan senjata, sangat wajar bila Israel khawatir, bahwa sewaktu-waktu, akan ada ancaman terhadap eksistensi mereka dari Suriah. Sepertinya, hal ini memang sudah tercium oleh Israel, dan dari khotbah Grand Mufti Suriah saat pemakaman anaknya yang tewas dibunuh oleh pemberontak, sangat besar kemungkinan bahwa suatu saat Suriah akan bertatap muka kembali dengan Israel di medan pertempuran.

“Saya serukan kepada semua ibu para syuhada, semua anak dari para syuhada, semua ayah para syuhada, atas nama semua istri para syuhada, untuk berkata kepada semua orang yang membunuh:  Berhentilah kalian. Berhentilah kalian membunuhi anak-anak bangsa ini.  Kami tidak mempersiapkan pemuda-pemuda kami untuk dibantai oleh bangsa sendiri. Sesungguhnya kami persiapkan mereka untuk syahid di tanah Palestina. Dengarkanlah wahai para pemimpin Arab! Saya mempersiapkan anak saya untuk syahid di Palestina.”

Ucapan seorang alim ulama yang  berhasil ‘mengurus’ kehidupan beragama dari 23 juta rakyat Suriah, cukup layak untuk dipercaya. Sheikh Ahmad Hassoun jujur menyatakan bahwa pemuda-pemuda Suriah, dipersiapkan untuk syahid di Palestina. Artinya, selama masih ada Suriah, maka Israel akan terancam. Apalagi dukungan Suriah yang tidak terbatas terhadap kelompok perlawanan seperti Hamas, Hizbullah, dan Jihad Islam. Dengan membiarkan Suriah terjebak dalam perang yang berkepanjangan, maka Israel aman dari ancaman ‘jihad ke Palestina’ yang berpotensi melenyapkan Israel dari peta dunia.

Dengan pesatnya perkembangan tekhnologi saat ini dan mudahnya mengakses informasi, rasanya sangat tidak mungkin bahwa pihak-pihak yang berseteru di Suriah tidak mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Bukankah sangat mudah sekali membaca bahwa Israel menghendaki kehancuran Suriah, baik di kubu Bashar al-Assad maupun di kubu pemberontak?

Namun peristiwa yang terjadi hari ini di Suriah sungguh memprihatinkan.  Benyamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel dengan ringan melangkahkan kakinya menuju rumah sakit di Dataran Tinggi Golan yang disediakan untuk merawat para pemberontak Suriah yang terluka. Dengan senyum penuh arti, Bibi bersalaman dengan salah satu tentara pemberontak. Tentu, bagi siapapun yang mampu berpikir dengan logika sehat akan bertanya-tanya, tidak tahukah mereka [pemberontak ] bahwa Israel sama sekali tidak menghendaki mereka menang? Atas kunjungan yang penuh perhatian ini, Muhammad Badie, pemimpin oposisi yang bertempat di Turki sangat berterima kasih kepada Netanyahu.

netanyahu fsa golan
Bibi menyalami pemberontak Suriah.

Tersiar pula kabar bahwa komandan baru Free Syrian Army yaitu Abdul – Ilah al – Bashir,  merupakan hasil didikan Israel. Al – Bashir menggantikan mantan komandan FSA sebelumnya yaitu  Salim Idris yang telah dipecat. Untuk mengelabui publik, al-Bashir dikabarkan telah meninggal dunia dan dimakamkan di provinsi Daraa, sehingga keberadaannya di Israel untuk dilatih tidak terendus.

Memiliki telinga namun tidak mampu mendengar, memiliki mata namun tidak mampu melihat, mungkin tepat untuk menggambarkan kondisi pemberontak di Suriah hari ini. Kemenangan Israel adalah ketika umat Islam saling bunuh satu sama lain sehingga tidak ada terlintas kembali dipikiran mereka untuk membebaskan Palestina. Ada informasi yang beredar, bahwa Israel sangat menikmati pertunjukan demi pertunjukan yang diperlihatkan dalam perang saudara di Suriah, dan mereka menyaksikan drama tersebut dengan ditemani secangkir kopi dan snack yang gurih. Sungguh sayang, kitalah aktor – yang sedang di tonton oleh mereka dengan penuh antusias. Tidak hanya di Suriah, namun juga di negara Timur Tengah lainnya seperti Mesir dan Irak.

Dan karena Tuhan berfirman bahwa Dia tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang berusaha untuk mengubah nasibnya, alangkah baiknya jika mulai detik ini, kita mulai mawas diri dan memperdalam ilmu. Dengan begitu, kita bisa membedakan mana kawan dan mana lawan. Salah mengidentifikasi lawan, bukan hanya merengut jiwa-jiwa yang tidak berdosa, atau menghancurleburkan sebuah negara berdaulat, tetapi juga meniadakan cinta kasih yang merupakan rahmat Tuhan. Sudah terbukti dengan sangat jelas di negeri Syam – bagi kelompok yang telah salah mengenali musuhnya, saat berhadapan dengan yang dianggap lawan, tidak ada lagi cinta dan pengampunan. (LiputanIslam.com/AF)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account