Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Disiksa Majikan, TKI di Arab Saudi Cacat Permanen

Published 17/10/2014 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE
Foto: Merdeka
Foto: Merdeka

Jakarta, LiputanIslam.com — Kasus penyiksaan TKI di Arab Saudi, belum juga berhenti. Paling baru, pekerja perempuan asal Karawang, Jawa Barat, bernama Hayanti B. Mujiono Minarjo cacat permanen akibat rutin disiksa majikannya selama tujuh tahun terakhir.

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Ibu Kota Riyadh mengaku akan segera memulangkan wanita yang sempat dibuang di Masjidil Haram itu. Setelah pemerintah melaporkan sang majikan ke polisi, Hayanti mendapat ganti rugi 300.000 riyal, atau setara Rp 976 juta, sesuai keterangan tertulis Sekretaris III Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Riyadh Chairil Siregar, Kamis (16/10/2014).

Walau memperoleh ganti rugi, korban saat ini menderita cedera parah, dengan wajah rusak dan sebagian besar kulit luar mengalami luka. Penyiksaan itu dilakukan oleh majikan bernama Jazaa Awadh Al Muthairy.

Selama bekerja, Hayanti hampir tiap hari dipukul. Aksi keji sang majikan termasuk memaksanya meminum cairan pembersih lantai. Alat vital wanita malang itu juga dikabarkan mengalami cacat permanen.

Data Migrant Care pada 2010, menyatakan 1.047 TKI bekerja di Saudi disiksa majikan. Hasil analisis peneliti Lembaga Studi Islam dan Kebudayaan Fahrurozy, banyaknya fenomena TKI disiksa karena pengaruh budaya Arab.

“Sebagian kultur masyarakat Arab memandang TKW sebagai budak. Secara sosiologis, orang Arab sejak era kekhalifahan sampai saat ini, masih banyak yang menganut model perbudakan itu,” ujarnya.

Duta Besar Kerajaan Arab Saudi Mustafa Bin Ibrahim al-Mubarak beberapa waktu lalu menampik imej warganya gemar menyiksa pembantu rumah tangga. Dia mengakui ada kasus seperti itu, tapi media dianggapnya membesar-besarkan masalah.

“Sebenarnya hanya masalah kecil, bukan karena peraturan yang ada di Arab Saudi, Tapi media massa yang membesar-besarkan dan membentuk opini masyarakat. Akibatnya masyarakat menyalahkan kami,” kata Mustafa saat mengisi Kuliah Umum di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Rabu (24/4/2014).

Didesak publik, pemerintah menghentikan sementara (moratorium) pengiriman pembantu rumah tangga ke Saudi mulai 1 Agustus 2011.

Hingga akhirnya pada Rabu, 19 Februari 2014 telah dilakukan Penandatanganan Agreement Penempatan dan Perlindungan TKI Sektor Domestik oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar dan Menteri Tenaga Kerja Arab Saudi Adiel M Fakeih di Riyadh.

Namun penandatanganan ini tidak serta merta dilakukan pencabutan moratorium. Indonesia sampai sekarang masih bernegosiasi soal perbaikan upah dan standar keselamatan kerja dengan Saudi, sebelum mengirimkan lagi TKI ke Saudi.

Tim Kemenakertrans mengajukan gaji minimal 1.900 riyal atau setara Rp 5,81 juta per bulan. Itu termasuk insentif sebesar 400 riyal. Ini lantaran TKI sering diminta bekerja di hari libur, biasanya Jumat.

“Kita kukuh tetap meminta Rp 5,8 juta. Dan yang penting moratorium tetap berjalan sampai sekarang,” kata Muhaimin di kantornya, Jakarta, Senin (26/5/2014).

Pemerintah di kawasan teluk sudah menyerukan para majikan mengubah sikap. Situs emirates247.com melaporkan, pada 2012 Kepolisian Dubai, Uni Emirat Arab, memperkirakan, tingkat kejahatan buruh migran meningkat hingga 17 persen karena disiksa majikan.

Lembaga Swadaya Human Rights Watch sampai kini masih memasukkan Saudi sebagai salah satu negara tak menghormati hak asasi pekerja. Dalam laporan mendalam terbit 2010, kesaksian buruh migran Indonesia, Sri Lanka, sampai Filipina menunjukkan penyiksaan itu adalah fenomena laten di Saudi.

Rata-rata disebutkan kalau pembantu rumah tangga asing dipaksa bekerja hingga 20 jam sehari, tanpa ada jeda istirahat barang sejam. Bahkan ketika sakit, majikan menolak memeriksakan mereka ke dokter.

Perlindungan buat buruh migran di Saudi semakin pelik, lantaran tak sedikit dari TKI masuk secara ilegal. Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat bahwa 600.000 pekerja di Saudi tak dikirim oleh PJTK.

Paling tidak, Filipina menjadi salah satu ‘eksportir’ TKI yang menolak mengirimkan tenaga kerja ke Saudi dan sekitarnya, sebelum ada perubahan sikap para majikan. Alhasil, kini pekerja Filipina dapat bayaran minimal USD 400 per bulan.

“Pekerja kami dihina dan disiksa sedemikian rupa di kawasan teluk,” kata Anggota Parlemen Filipina Walden Bello. (ba/merdeka.com)

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account