Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Analisis

Perang Gas di Gaza

Published 24/02/2017 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

Oleh: Prof. Michel Chossudovsky*

Berdirinya Israel sering disebut sebagai untuk melindungi ‘kaum Yahudi yang selama ini terancam Holocaust’. Mengapa Israel didirikan di atas tanah Palestina? Alasannya selalu saja: karena zaman dulu, ribuan tahun yang lalu, Yahudi hidup di atas tanah itu.

Namun, sebenarnya ada jawaban lain: karena Palestina kaya sumber gas alam. Benjamin Netanyahu pada Desember  2015 menyebut gas di bawah Laut Mediterania itu sebagai “hadiah dari Tuhan,” dan ia bersumpah akan memimpin Israel mencapai kemandirian energi.

Lima belas tahun yang lalu, mendiang pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina Yasser Arafat juga membuat deklarasi yang sama. Setelah adanya konfirmasi dari British Gas bahwa di kawasan yang berjarak kurang dari 20 mil laut di lepas pantai Jalur Gaza (dalam zona maritim wilayah Gaza) ada cadangan gas alam, ia berdiri di atas kapal nelayan di Mediterania, dan berkata “Ini hadiah dari Tuhan untuk kita, untuk orang-orang kami, anak-anak kita. Ini akan memberikan dasar yang kuat bagi perekonomian kita, untuk mendirikan sebuah negara merdeka dengan Yerusalem yang kudus sebagai ibukotanya.“

Pada tahun 2009 Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza, membombardirnya habis-habisan. Serangan yang diberi sandi “Operation Cast Lead” (Operasi Menuang Timah) itu memberikan kesempatan kepada Israel untuk menguasai sumber gas Palestina, yang jelas melanggar hukum internasional.

Setahun setelah “Operation Cast Lead”,  Tel Aviv mengumumkan ditemukannya ladang gas Leviathan di timur Mediterrania, di “lepas pantai Israel.” Saat itu diumumkan bahwa ladang gas itu: “ … ladang paling utama yang pernah ditemukan di wilayah Levantine Basin, yang luasnya 83.000 kilometer persegi, di kawasan Mediterrania.”

Bila digabungkan dengan ladang gas Tamar, di lokasi yang sama, ditemukan pada  tahun 2009, ladang gas ini memberikan prospek yang sangat menguntungkan bagi Israel dan bagi perusahaan-perusahaan minyak,  Noble Energy and partners Delek Drilling, Avner Oil Exploration dan Ratio Oil Exploration.

Dan, ladang gas Gaza adalah bagian dari ladang gas yang ‘ditemukan’ tersebut. Baru-baru ini terungkap bahwa Israel telah ‘menggabungkan’ ladang gas milik rakyat Gaza itu dengan ladang gas yang ‘dimiliki’ Israel (lihat peta di bawah ini).

levant-gas-map1-felicity

Perlu dicatat bahwa garis pantai timur Mediterrania yang memanjang dari Sinai-Mesir hingga Suriah, memiliki kekayaan gas dan minyak yang sangat kaya.

Siapa Sesungguhnya Pemilik Ladang Gas?

Isu kedaulatan Gaza atas ladang gas itu sangat krusial. Dari sudut pandang hukum legal, ladang gas itu adalah milik rakyat Palestina.

Kematian Yasser Arafat, menangnya Hamas dalam pemilu, dan melemahnya Otoritas Palestina telah memberi peluang Israel untuk secara de facto mengontrol cadangan gas di lepas pantai Gaza.

British Gas (BG Group) telah menjalin kontrak eksplorasi gas dengan rezim Tel Aviv. Dalam hal ini, pemerintahan Hamas telah dilangkahi. Pada 2006, British Gas disebut-sebut hampir menandatangani kontrak untuk mengekspolrasi gas Gaza dan membawanya ke Mesir. Sebagaimana dilaporkan Times  (23 Mei 2007), PM Inggris, Tony Blair, telah mewakili Israel dalam bernegosiasi dengan Mesir.

Awalnya, dalam perjanjian dengan British Group, ada klausul bahwa sebagian keuntungan diberikan kepada Otoritas Palestina (kala itu perjanjiannya ditandatangani pula oleh Yaser Arafat). Namun, Tel Aviv tidak berniat membagi hasil ladang gas itu dengan Palestina. Sebuah tim negosiator Israel kemudian dibentuk untuk membatalkan perjanjian itu sehingga tidak ada lagi keuntungan yang akan mengalir ke Palestina.

Akibatnya, BG Group mundur dari negosiasi dan menutup kantor mereka di Israel pada 2008. Pada tahun itu pula (2008), “Operation Cast Lead” direncanakan, dan di saat yang sama, Israel dan BG kembali ke meja perundingan.

Lalu, tahun 2015, Israel mengetatkan blokade kepada Gaza, yang tujuannya juga terkait ladang gas ini. (LiputanIslam.com)

*Prof. Michel Chossudovsky adalah analis politik internasional dari Kanada, analisis-analisisnya dimuat di Global Research

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Analisis

Sang Pria Tua dari Teheran dan Strategi Ala Stoik: Keseimbangan antara Rudal dan Diplomasi

By Rachel
Analisis

USAID dan Neokolonialisme AS di Asia

By Farid
Analisis

11 Fakta ‘Kekalahan’ Israel di Front Palestina

By Farid
Analisis

BRICS dan Potensi Lumpuhnya Sanksi terhadap Iran

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account