Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Analisis

Pembajakan Israel Terhadap Kapal Marianne

Published 13/07/2015 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

felicityOleh: Felicity Arbuthnot

“Pembajakan: praktik penyerangan dan perampokan kapal di laut” (kamus Oxford).

Kapal Marianne, satu dari empat kapal yang ikut dalam misi Freedom Flotilla III, pada awal 29 Juni 2015 telah dihentikan oleh militer Israel, lalu digiring ke pelabuhan Ashdod Israel. Padahal tujuan kapal Marianne adalah pantai Gaza, untuk menyalurkan bantuan dari masyarakat internasional kepada rakyat Gaza yang telah 10 tahun diblokade Israel.

Sejatinya, Israel telah melakukan pembajakan. Namun “komunitas internasional” telah menggunakan kata ‘pembajakan’ ini dengan tidak adil. Menghadapi ancaman pembajak Somalia, berbagai negara mengirimkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal di perairan internasional. Dalam salah satu kejadian, seorang pembajak Somalia terbunuh dan seorang remaja pembajak dibawa ke AS untuk diadili, sementara 11 orang lainnya diadili di Kenya. Sebaliknya, menanggapi pembajakan Israel, semua diam.

Pagi hari tanggal 29 Juni, 3 kapal militer Israel telah membajak kapal berbendera Swedia, the Marianne av Göteborg yang berada dalam rute ke Gaza yang merupakan bagian dari Negara Palestina (status negara telah diberikan kepada Palestina pada 30 November 2012). Kapal itu berada di perairan internasional. Namun tentara Israel naik ke kapal itu, memaksa kapal berlayar ke Ashdod (Israel). Kamera, komputer, handphone, dan berbagai harta benda pribadi lainnya telah dirampas. Tentu saja, ada harapan semua dikembalikan. Namun, track record Israel pada pembajakan kapal-kapal pro-Palestina lainnya, membuat harapan itu tipis. Bahkan barang-barang bantuan internasional untuk Gaza pun tak dikembalikan. Kapal Marianne membawa panel-panel surya untuk rakyat Gaza yang sejak lama tidak bisa mendapatkan akses listrik.

Israel mengeluarkan pernyataan bahwa kapal Marianne ‘ditangkap’ karena menolak permintaan untuk mengganti arah. Padahal, Israel tidak punya landasan hukum apapun untuk meminta apapun dari kapal yang berada di perairan internasional.

Pemerintah Israeli menyatakan, “Tidak ada blokade di Jalur Gaza dan Anda diminta untuk mengantarkan bantuan internasional tersebut melalui Israel.”

Bila tidak ada blokade, mengapa bantuan kemanusiaan itu harus lewat Israel? Mengapa kapal-kapal pengangkutnya harus diserang? Mengapa kapal-kapal itu dipaksa masuk ke Israel, padahal tujuan asli kapal adalah pantai Gaza?

Pemerintah Israel bahkan ‘menyesalkan’ mengapa penumpang Marianne tidak memilih berkunjung ke Israel, karena “mereka pasti akan terkesan melihat penegakan demokrasi, persamaan hak, dan kebebasan beragama” di negeri itu. Ironis, mereka bicara soal demokrasi, tetapi memenjarakan para penumpang kapal Marianne di penjara Givon.

Pemerintah Israel bahkan telah mendiskriminasi anak-anak; sebuah tindakan yang jelas jauh dari ‘demokrasi atau persamaan hak’. Dilaporkan bahwa alokasi dana untuk sekolah Kristen jauh berkurang, sementara dana untuk sekolah swasta ‘yeshivas’milik Yahudi ultra-ortodoks ditingkatkan. Bahkan, sekolah itu didanai 100% oleh negara. Sementara itu dana bagi sekolah-sekolah negeri untuk anak-anak Palestina sangat minim. Alokasi dana negara untuk tiap pelajar Yahudi adalah $1.100 pertahun, sementara untuk pelajar Israel keturunan Arab hanya $192. Tak heran bila kualitas pendidikan di sekolah Arab jauh lebih rendah dibanding sekolah Kristen atau Yahudi. Lebih lagi, guru-guru di sekolah Arab harus diawasi oleh intel Israel, Shin Bet. Kurikulum mereka pun diawasi, pengajaran sejarah dan sastra Palestina sangat dihalangi. Belum lagi bila kita bicara soal pemisahan jalan, pemisahan bus, larangan bepergian, pengusiran, pelarangan ekspor, dan lain-lain.

Israel sama sekali tidak berhak bicara soal demokrasi dan persamaan hak. Apalagi kini para penumpang Marianne tengah dipenjara. Mereka antara lain Dror Feiler (pemusik Swedia), Ana Miranda (anggota parlemen Spanyol), Nadya Kervorkova (jurnalis Russia), dan Robert Lovelace (profesor dari Kanada). Sementara keberadaan Dr. Moncef Marzouki (mantan PresidenTunisia 2011-2014) dan politisi Palestina, Bassel Ghattas, tidak jelas hingga kini.

Semua tindakan Israel ini adalah pembajakan. Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang ditandatangani oleh 154 negara dan Uni Eropa (tapi belum diratifikasi oleh AS) menyebutkan “pembajakan adalah kejahatan universal dan pelaku pembajakan bisa ditahan dan diadili oleh negara manapun”. Seharusnya, tentara Israel yang membajak Marianne telah ditahan dan diadili. Namun apa daya, Israel tidak menandatangani konvensi ini.

Sampai kapankah ketidakadilan ini dibiarkan? (LiputanIslam.com)

*diterjemahkan bebas dari globalresearch.ca

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Analisis

Sang Pria Tua dari Teheran dan Strategi Ala Stoik: Keseimbangan antara Rudal dan Diplomasi

By Rachel
Analisis

USAID dan Neokolonialisme AS di Asia

By Farid
Analisis

11 Fakta ‘Kekalahan’ Israel di Front Palestina

By Farid
Analisis

BRICS dan Potensi Lumpuhnya Sanksi terhadap Iran

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account