Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Analisis

Omar Mateen: Produk Wahabi dan Kebijakan Luar Negeri AS

Published 21/06/2016 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

Celeb MaupinOleh: Celeb Maupin*

Omar Mateen, yang teridentifikasi sebagai pembunuh massal di Orlando bukanlah ‘some Muslim’ seperti yang dinisbatkan oleh Trump dan pendukungnya. Dia juga bukan ‘some anti-gay bigot’ seperti yang dinisbatkan oleh orang-orang liberal dan Demokrat. Kehidupan Omar Mateen di New York dan Florida justru sangat dipengaruhi oleh dukungan Amerika Serikat (AS) untuk teroris Wahabi yang menyebarkan ekstremisme di seluruh dunia. Serangannya yang mengguncang dunia hanyalah salah satu konsekuensi atas kebijakan AS.

Mateen lahir di AS pada tahun 1986, setelah orangtuanya berimigrasi dari Afghanistan. Ayahnya Siddique Mateen adalah tokoh terkemuka di dalam kancah politik Afghanistan dan bahjkan memiliki program televisi sendiri. Siddique telah bertemu dengan anggota Kongres AS untuk membahas kebijakan Afghanistan. Ia melobi Kongres, mengatakan bahwa Pakistan arus bertanggung jawab atas terorisme yang terjadi di Afghanistan. Ia bahkan mengadakan pertemuan dengan Departemen Luar Negeri AS pada bulan April tahun ini. Dalam salah satu video di Youtube, ia berkata akan ikut dalam pemilihan presiden di Afghanistan di waktu mendatang.

Siddique memilih untuk tinggal di Afghanistan karena ia dan banyak orang dari sayap kanan yang fanatik di Afghanistan memiliki kerjasama yang erat dengan AS dan Arab Saudi.

Sebuah Produk dari Brzeziski

Pada tahun 1978, rezim yang didukung AS di Afghanistan (dipimpin oleh Daoud Khan) memulai tindakan keras pada aktivis kiri. Namun Saur Revolution kemudian menjadi titik balik berakhirnya rezim monarki yang diarsiteki Inggris di Afghanistan, dan dimulailah republik yang demokratis.

Kelompok Leninis Marxis yang seide dengan Uni Sovyet membentuk Partai Rakyat Demokratik, dan terpilih sebagai partai yang berkuasa secara de facto. Pemerintahan ini memiliki basis besar di perkotaan di kalangan intelektual, mahasiswa, aktivis serikat buruh, namun tidak mendapat dukungan dari para petani di pedesaan. Jika rezim monarki di Afghanistan (yang telah jatuh) sangat bergantung pada AS dan Inggris, maka penguasa baru ini berpaling ke Uni Sovyet.

Dalam sebuah wawancara, Zbigneiw Brzezinski yang menjabat penasihat atas Presiden Jimmy Carter dan Ronald Reagan menyebut bahwa peristiwa yang bermula tahun 1978 tersebut sebagai sebuah ‘perangkap Afghanistan’. AS telah mengatur agenda. Uni Sovyet digiring agar masuk ke Afghanistan, negara akan menjadi ‘Vietnam-nya’ Uni Sovyet.

Siddique adalah bagaian dari upaya blok-AS untuk melemahkan partai Rakyat Demokratik. Mereka bekerjasama dengan Osama Bin Laden, pewaris dari perusahaan konstruksi yang kaya raya di Arab Saudi. Lalu, dilakukan mobilisasi tentara yang disebut ‘mujahidin’ untuk melawan Partai Rakyat Demokratik.

Rakyat Afghanistan di pedesaan memiliki karakteristik yang sangat religius. Mereka memusuhi sekularisme dan pemerintahan yang baru. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh AS. Rakyat yang lugu ini dilatih dan dipersenjatai oleh AS, dan diajarkan doktrin agama ala Saudi. Mereka lalu menjadi penganut Wahabisme, yang memiliki ciri khas tekstual, represif, dan menyerukan pembantaian kepada orang-orang kafir. Dengan senjata dari CIA, uang berlimpah dari Saudi, juga heroin, akhirnya berujung pada teror kepada Partai Rakyat Demokratik.

Relawan Partai Rakyat Demokratik digantung oleh para mujahidin karena mereka mengajarkan membaca kepada para perempuan. Mujahidin juga menuangkan cairan asam di wajah para perempuan yang menolak memakai burqa.

Saat itu, para pemimpin AS mengaku tidak keberatan atas tindakan kriminal yang dilakukan para mujahidin. Namun ironisnya, kini para penerus mujahidin ini disebut sebagai ‘Islamic Terrorism’ dan ‘Islamic Extremism’. Dulu, Presiden AS Ronald Reagan bahkan mengundang anggota mujahidin ke Gedung Putih sebagai tamu kehormatan. Sementara Jimmy Carter secara terbuka berbicara tentang pengiriman pasukan AS ke Afghanistan untuk membantu mujahidin di Afghanistan.

Siddique Mateen, ayah dari pembunuh massal di Orlando, yang secara terbuka menyatakan bahwa dirinya beriringan dengan kekuatan ekstremis Wahabi, toh diizinkan untuk berimigrasi ke Amerika Serikat. Ia tinggal di New York dan secara terbuka mendukung pemerintahan Taliban yang berkuasa di Afghanistan setelah Partai Rakyat Demokratik kalah pada tahun 1992. Sebagai sosok terkemuka di Afghanistan, ia memiliki program televisi untuk mengomentari politik Afghanistan. Tampaknya ia membenci Pakistan, yang kerap ia tunjukkan dalam siarannya.

Sementara Omar Mateen yang nampaknya memiliki penyakit mental (mentally ill), juga menganut ideologi yang sama dengan ayahnya. Menurut Siddique, Omar sangat membenci homoseksual. New York sendiri sendiri dikenal sebagai kota yang toleran terhadap para lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Di Arab Saudi, homoseksual dihukum dengan hukum pancung atau dalam beberapa kasus, mereka dicambuk hingga tewas. Mujahidin di Afghanistan dan Taliban juga memberlakukan kebijakan serupa. Di negara sekutu AS lainnya seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, yang juga menyiksa kaum LGBT, namun uniknya, organisasi-oraganisasi yang biasanya sangat vokal membela LGBT tidak banyak bereaksi. Malahan, mereka mengkoordinasikan agar propaganda yang mereka lakukan selaras dengan kebijakan luar negeri AS.

Ketika Siddique telah sedikit melunak, namun tidak demikian dengan Omar. Ia menyimpan kekaguman besar terhadap kelompok Wahabi ekstrem yang saat ini beroperasi di Irak dan Suriah. Dan sebelum melakukan pembunuhan massal di Orlando, Omar disebut-sebut telah menyatakan janji setia kepada kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Sama seperti kelompok mujahidin dan Taliban, ISIS pun merupakan produk dari kebijakan luar negeri AS. ISIS adalah kelompok yang memiliki ideologi Wahabi esktrem yang anggotanya banyak berasal dari FSA, Jabhat Al Nusra, dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya yang bekerja untuk menggulingkan pemerintah Suriah. AS, Arab Saudi, Yordania, dan Turki, telah melatih dan mendanai seluruh kelompok terroris di Suriah, dengan harapan agar Presiden Bashar Al Assad jatuh.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Analisis

Sang Pria Tua dari Teheran dan Strategi Ala Stoik: Keseimbangan antara Rudal dan Diplomasi

By Rachel
Analisis

USAID dan Neokolonialisme AS di Asia

By Farid
Analisis

11 Fakta ‘Kekalahan’ Israel di Front Palestina

By Farid
Analisis

BRICS dan Potensi Lumpuhnya Sanksi terhadap Iran

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account