Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Analisis

Mengapa Rusia Tak Bisa Ditundukkan?

Published 09/12/2014 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

kirilOleh: Kirill Kovalenko*

Presiden Rusia Vladimir Putin, secara eksplisit telah menguraikan pandangan deterministik terhadap negaranya, seperti yang dicatat oleh Ingmar Oldberg di Russia’s Great Power Ambitions and Policy under Putin, “Rusia adalah suatu kekuatan besar, dan akan tetap menjadi kekuatan besar, yang terbentuk dan tidak dilepaskan dari  karakter geopolitik, keberadaan ekonomi dan budaya.”

Memang, bahkan seorang pemikir seperti Robert Kagan telah menyatakan bahwa status kontemporer Rusia adalah salah satu tempat kembalinya sejarah yang paling dramatis, jika mengacu pada kerusakan tatanan dunia yang disponsori oleh demokrasi-liberal ala Amerika Serikat.

Menariknya, Kagan juga membuat pengamatan atas kekalahan Rusia dalam Perang Dingin, yang memiliki kemiripan dengan sentimen pasca Versailles Jerman. Analogi ini mungkin harus dipertanyakan, tapi masalah Revanchisme* merupakan salah suatu hal yang sangat penting. Namun, kita juga harus mempertimbangkan sisi budaya dan kesadaran publik yang sering diabaikan dalam perumusan kebijakan dan persepsi nasional —  tetapi menjadi faktor yang signifikan dalam mendukung kebijakan luar negeri Rusia. Bahkan jika Rusia menganggap dirinya sebagai kekuatan besar sebelum akhir Perang Dingin, pemikiran realis akan mendikte bahwa hal ini tidak sepenuhnya benar, atau bahkan tidak ada relevansinya pada masalah yang dihadapinya dalam dunia kontemporer.

Meskipun demikian, untuk menganalisis Rusia diperlukan fokus secara khusus pada kesadaran sejarah, yang terlihat jelas dalam imperatif politik luar negerinya. Inilah sebuah keadaan, dimana historisitas unjuk gigi di berbagai negara, seperti yang diungkapkan Henrik Larsen,”Saat dihadapkan dengan ketidakpastian atau kurangnya informasi, atau ketika kepemimpinan tidak memiliki preferensi yang jelas dalam mengatasi krisis, faktor sejarah kemungkinan akan memainkan peran besar dalam perumusan kebijakan luar negeri.”

Hal ini muncul dari konstruktivis pemahaman nasionalisme, bahwa nasionalisme itu bukanlah sebuah ‘bawaan’ dalam suatu bangsa, melainkan interaksi dari tanda-tanda dan simbol budaya, yang beroperasi dalam wacana nasional, dan tunduk pada redefinisi politik yang terjadi secara terus menerus.

Dalam  jurnal “Russia as a Great Power”, dinyatakan bahwa dalam Perang Dingin, Rusia merupakan kekuatan adidaya – dan bahkan dalam sepanjang sejarah Tsar-nya, terlihat adanya sebuah perbedaan pandangan terhadap definisi ‘power’ antara Rusia dengan Barat. Hal ini tidak berarti bahwa kekuatan militer Rusia lebih rendah, karena pada titik tertentu, Rusia dan Barat memiliki pemahaman yang sama dalam memahami sebuah ‘power’, yang ditandai dengan perang Rusia-Georgia pada tahun 2008.

Pandangan yang lebih luas bisa dilihat dalam gagasan ‘messianisme nasional**’ atau ‘Roma Ketiga’, yaitu sebuah mentalitas yang mendefinisikan pemikiran Rusia.  Hal ini didefinisikan dengan fokus pada fakta bahwa Rusia memiliki sejarah unik. Rusia tidak bisa disebut sebagai Eropa ataupun Asia sepenuhnya. Selain itu, Rusia juga memiliki perkembangan sejarah yang cukup unik, sebagaimana yang diungkapkan oleh Janko Lavrin dalam “Populists and Slavophiles.”

Nampaknya, ada sebuah korelasi antara komunitas para petani yang dihormati oleh penulis pada abad ke-19 dan sosialisme pasca 1918 dengan karakter bangsa Rusia, seperti yang disebutkan oleh Vatro Murvar dalam “Messianism in Russia: religious and revolutionary.” Murvar mengutip Konstantin Leontiev, yang menorehkan visinya dalam sejarah Rusia, sebagai berikut, “Sebelumnya saya percaya, dan hingga kini masih percaya bahwa Rusia yang adalah pemimpin wilayah Timur yang baru, yang akan membentuk dunia dengan budaya baru, sehingga peradaban Slavia-Oriental dapat menggantikan peradaban Latin-Eropa.”

Pandangan ini bertolak belakang dengan merek eksepsionalisme sejarah yang berakar dalam Konstitusi AS atau Revolusi Perancis. Memang, jika dilihat dari pemahaman spiritual, nasib Rusia telah digambarkan oleh Guru Bangsa Rusia, Dostoyevsky, seperti dikutip Nancy Ries dalam Russian Talk:

“Tampaknya orang-orang (Rusia) telah terinfeksi rasa sakit dan haus sejak awal waktu, dan penderitaan ini menghiasi sejarah demi sejarah Rusia, bukan hanya karena kemiskinan dan faktor eksternal lainnya, tetapi juga berasal dari setiap jantung rakyatnya.”

Hal ini penting untuk diingat ketika mencoba untuk mengontekstualisasikan Rusia dalam norma-norma internasional kontemporer. Mungkin, hal ini tampak tidak relevan untuk menutupi sejarah intelektual eksepsionalisme Rusia, tetapi ini tidak bisa dipungkiri, semua ini merupakan aspek penting untuk memahami bagaimana bangsa menganggap dirinya sebagai penentu dalam takdir dunia, memiliki keistimewaan, dan hal-hal unik lainnya, tidak selalu berujung pada kemerdekaan dan kemakmuran, sebaliknya, mereka justru akan berorientasi pada penderitaan dan kekuasaan.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa perlawanan atas tekanan berbasis ekonomi yang dikenakan terhadap Rusia, sangat bertumpu pada kekuatan sejarah, dan faktor ini menjadi kekuatan terpenting bagi Rusia untuk terus memukul balik atas berbagai tekanan dari luar.

*Kirill Kovalenko adalah Master Hubungan Internasional lulusan dari University of Melbourne. Tulisan ini diterjemahkan dari thediplomat.com dengan judul Why No One Gets Russia.

 

—

*Revanchisme berasal dari bahasa Perancis (revanche) yang artinya balas dendam, mulai populer pada tahun 1870-an. Istilah ini mengacu pada kebijakan politik yang bertujuan untuk mendapatkan kembali sebuah wilayah yang hilang dalam sebuah peperangan.

** Messianisme adalah suatu gerakan sosial yang dikendalikan, dan sebagai suatu kepercayaan, dapat ditemukan dalam agama Zoroaster Persia, Yahudi, Kristen dan Islam; doktrin ini meyakini tentang kedatangan seorang penebus yang disambut sebagai pahlawan dan pembangun dengan karakter yang khas. Messianisme tidak hanya memengaruhi pemikiran agama di Barat tetapi juga memberikan inspirasi dalam gerakan sekular modern.

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Analisis

Sang Pria Tua dari Teheran dan Strategi Ala Stoik: Keseimbangan antara Rudal dan Diplomasi

By Rachel
Analisis

USAID dan Neokolonialisme AS di Asia

By Farid
Analisis

11 Fakta ‘Kekalahan’ Israel di Front Palestina

By Farid
Analisis

BRICS dan Potensi Lumpuhnya Sanksi terhadap Iran

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account