Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Analisis

Menakar Kualitas Sang Mufti Ketika Murka

Published 10/09/2016 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

Oleh: Husein Muhammad Alkaf

husein alkafLiputanIslam.com – Perang pernyataan antara dua ulama besar, Pemimpin Spiritual Republik Islam Iran Ali Khamenei dengan Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi Syekh Abdul Aziz Al Syekh, telah menghiasai headline beberapa media dalam dan luar negeri, cetak dan non cetak. Kritikan Ayatullah Khamenei kepada Arab Saudi atas penyelenggaraan ibadah haji dibalas dengan pernyataan keras Al Syeikh yang menyebut Iran sebagai keturunan Majusi. Menyusul dua pernyataan itu, bermunculan sikap pro dan kontra terhadap keduanya.

Yang menarik saya adalalah adanya pergeseran dari isu politik menjadi isu sektarian dan rasis. Dalam surat terbukanya, Pemimpin Spiritual secara khusus menyoroti tragedi Mina yang terjadi pada tahun 2015, sebuah tragedi yang memakan korban ratusan jiwa, termasuk jamaah haji Indonesia. Menurutnya, pihak kerajaan Saudi tidak bertanggung jawab dalam menyelesaikan tragedi tersebut. Keluarga jamaah haji Indonesia yang menjadi korban juga belum mendapatkan dana konpensasi yang dijanjikan oleh dari pihak Kerajaan.

Beranjak dari tragedi Mina itu dan, tentunya, dari masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan urusan haji, Khamenei mengkritik rezim yang berkuasa di Jazirah Arabia itu yang dianggapnya tidak becus dalam menangani urusan haji.

Sebenarnya, kritikan terhadap keluarga Saudi tidak hanya datang dari Ayatullah Khamenei.  Banyak pemimpin dunia dan para ulama dalam berbagai kesempatan melontarkan kritikannya. Syeikh Yusuf Al-Qaradawi, misalnya, beberapa waktu yang lalu mengecam keras Arab Saudi yang menurutnya telah menyerahkan keamanan pengurusan ibadah haji kepada Israel. Qaradawi menyebut penguasa dan ulama Saudi sebagai gerombolan penjahat. (Lihat disini)

Kritikan Khamenei juga hanya terfokus pada pihak penguasa (keluarga Saudi), Amerika, serta PBB. Tidak sedikitpun dalam pernyataannya itu, beliau menyinggung rakyat Arab Saudi Arabia. Coba simak pernyataan beliau di bawah ini.

“Ini adalah musibah terbesar dunia Islam di era sekarang ini. Kita lihat bagaimana Keluarga Saudi tak sepatah katapun meminta maaf kepada seluruh korban tragedi Mina, baik kepada korban atau negaranya. Sungguh memalukan. Jika mereka melakukan itu dengan sengaja, maka dunia Islam layak untuk menangis darah. Lebih memalukan lagi, dunia yang mengaku terdepan dalam mengusung  HAM, seakan buta dan diam seribu bahasa terhadap korban tragedi Mina. Lihatlah bagaiman PBB diam seribu bahasa terhadap semua itu.

“Yang harus bertanggung jawab atas tragedi Mina tidak hanya keluarga Saudi, melainkan Amerika Serikat sebagai sekutu mereka. Amerika memiliki andil besar terhadap tragedi itu. Sombong dan sikap acuh mereka adalah bukti kebiadaban  mereka.

“Jika kita melihat kebiadaban mereka di Yaman, Irak, Bahrain dan Suriah, maka tragedi Mina adalah hal remeh bagi mereka. Kita harus mengungkap kebobrokan, kebejatan, kebiadaban Keluarga terlaknat Saudi Arabia. Mereka adalah “syajarah mal’unah”  (pohon terkutuk) yang mulut mereka sudah disumbat uang dan jabatan “.

Keluarga kerajaan Saudi berhak untuk marah dan melakukan pembelaan diri atas kritikan Iran. Namun, harus diingat bahwa cara mengkritik balik juga akan menunjukkan bobot atau kualitas. Balik mengkritik dengan cara mengumbar tuduhan yang tidak logis, rasis, dan sektarian tentulah bukan cara pembelaan diri yang benar. Sayangnya, justru inilah yang dilakukan oleh seorang agamawan sekaliber Mufti Besar Syekh Al Syekh.

Dalam menanggapi kritikan Iran,  Al Syeikh bukannya membuat klarifikasi, atau balik mengkritik Iran dari sisi HAM atau sepak terjang politiknya. Al Syeikh malah mengangkat isu Ahlu Sunnah dan Persia-Majusi.

“Harus kita pahami bahwa mereka bukan kaum Muslimin. Mereka adalah keturunan Majusi. Permusuhan mereka terhadap kaum Muslimin, dan secara khusus terhadap Ahlu Sunnah wal Jamaah, adalah masalah klasik. “

Ada beberapa kemungkinan dari pernyataan Sang Mufti yang berbunyi tersebut.

  1. Jika yang dimaksud dari “mereka” adalah masyarakat Iran, maka pernyataan ini tidak hanya menyerang orang Iran yang bermazhab Syiah, melainkan juga menyerang mereka yang bermazhab Ahlu Sunnah. Perlu diketahui bahwa terdapat puluhan juta Ahlu Sunnah yang tinggal di Iran.
  2. Jika yang dimaksud dari “mereka” adalah Syiah, maka bagaimana dengan orang Syiah di negara-negara Arab? Apakah mereka bukan Muslimin juga? Data demografis menunjukkan bahwa 15% dari warga Arab Saudi adalah orang-orang Syiah yang tinggal di wilayah Timur Saudi Arabia.

Cibiran  Al Syeikh soal “keturunan Majusi” juga patut dikritisi. Apakah maksud dari pernyataannya ini mengacu kepada fakta sejarah bahwa masyarakat Iran beragama Majusi sebelum mereka masuk Islam? Ataukah menurut Al Syeikh Iran masih beragama Majusi hingga saat ini?

Jika yang dimaksud adalah fakta sejarah sebelum orang Iran masuk Islam, maka tentulah pernyataan itu benar. Tapi jangan lupa bahwa masyarakat Arab sebelum datangnya Islam adalah penyembah patung. Saya kira maksud beliau bukan masyarakat Iran sebelum Islam, karena jika ini yang dimaksud, maka pernyataannya tersebut tidak bermakna apa-apa dalam konstelasi umat beragama dewasa ini.

Akan tetapi, jika yang dimaksud adalah masyarakat Iran dewasa ini, maka Sang Mufti sepertinya tidak bisa membedakan antara Islam dan Majusi sebagai agama. Al Syeikh kiranya perlu menjelaskan dengan data yang lebih gamblang tentang perilaku religius masyarakat Iran dewasa ini yang mengindikasikan bahwa mereka adalah penganut agama Majusi.

Ala kulli hal, Sang Mufti telah murka. Pernyataannya sudah keluar dan tidak bisa ditarik kembali. Umat Islam saya yakin sudah cerdas dan bisa menilai dengan mudah seberapa berbobot kemurkaan Al Syeikh. Tanyalah hatimu (Istafti qalbak). (fa)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Analisis

Sang Pria Tua dari Teheran dan Strategi Ala Stoik: Keseimbangan antara Rudal dan Diplomasi

By Rachel
Analisis

USAID dan Neokolonialisme AS di Asia

By Farid
Analisis

11 Fakta ‘Kekalahan’ Israel di Front Palestina

By Farid
Analisis

BRICS dan Potensi Lumpuhnya Sanksi terhadap Iran

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account