Lockdown dan Solusi Neoliberal

0
6434

Oleh: Michel Chossudovsky

Dalam situasi lockdown, yang terjadi adalah kebangkrutan, pengangguran massal, dan destabilisasi ekonomi yang tersebar di seluruh negara. Jutaan orang telah kehilangan pekerjaan dan tabungan seumur hidup mereka. Mereka tidak mampu membayar kredit rumah mereka. Di negara-negara berkembang, kemiskinan dan keputusasaan merajalela.

Implikasi politiknya sangat luas. Lockdown merusak demokrasi sejati.

Adalah naif untuk percaya bahwa krisis keuangan yang terjadi saat ini adalah semata-mata hasil dari kekuatan pasar yang spontan. Krisis ini direkayasa dengan hati-hati.

Virus corona terus melakukan kamuflase. Ketakutan dan kepanikan (yang dibuat oleh perusahaan media) menciptakan “kondisi yang menguntungkan” bagi “spekulator institusional”. Banyak dari spekulator ini sudah lama mengetahui keputusan WHO untuk meluncurkan Darurat Kesehatan Masyarakat Global pada 30 Januari, pada saat hanya ada 150 “kasus yang dikonfirmasi” di luar China.

Runtuhnya pasar saham telah menciptakan salah satu transfer kekayaan paling penting dalam sejarah modern, meskipun ini belum dapat dipastikan.

Virus corona bukanlah penyebab kehancuran finansial. Yang terjadi adalah suasana ketakutan dan ketidakpastian yang memungkinkan para pemangku kepentingan finansial untuk memanipulasi pasar saham dan mengkonsolidasikan posisi keuangan mereka. Krisis ini telah menyebabkan konsentrasi kekayaan uang yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pada awal Februari lalu, sekitar $6 triliun dihapuskan dari nilai pasar saham di seluruh dunia. Tabungan pribadi (warga Amerika menengah) lenyap besar-besaran, belum lagi kegagalan dan kebangkrutan perusahaan. Setiap kali Trump berbicara atau menyalahkan orang China di Twitter, pasar saham merespon. Mereka yang punya informasi dari orang dalam atau yang tahu tentang keputusan kebijakan pemerintah AS akan menghasilkan banyak uang.

Di balik situasi darurat kesehatan publik global, ada kepentingan ekonomi yang kuat: Wall Street, Big Pharma (perusahaan farmasi global), Washington Consensus, badan-badan amal dan yayasan, IMF, Bank Dunia, dkk. Mereka bertemu di sela-sela Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada 21-24 Januari, satu minggu sebelum peluncuran Darurat Kesehatan Masyarakat Global oleh WHO.

Komunitas internasional menyerukan pemulihan ekonomi. Apa saja cara yang diinstruksikan untuk pemulihan itu? Antara lain, “bailout perusahaan” yaitu “pemberian” untuk bank, perusahaan-perusahaan besar termasuk maskapai penerbangan.

Satu triliun dijanjikan oleh Federal Reserve AS, satu triliun lagi oleh Bank Sentral Eropa (ECB) yang kini dipimpin oleh Christine Lagarde.

“Kami memiliki tanggung jawab untuk memulihkan [krisis] dengan lebih baik” daripada setelah krisis keuangan tahun 2008, kata sekretaris jenderal PBB António Guterres. Dia juga mengatakan, “Kami punya kerangka kerja untuk bertindak yaitu Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim. Kita harus menepati janji kita untuk manusia dan planet.”

Apa yang dia maksud dengan “janji” adalah mempromosikan ” Green Bonds”, sebuah proyek investasi multimiliar yang disponsori oleh salah satunya Rockefeller. Tujuannya adalah untuk “mengarahkan rencana pensiun dan reksa dana ke proyek-proyek hijau.”

Untuk Big Money (orang kaya raya) di AS dan Eropa Barat, janji ini bermakna “pemberian gratis”. Untuk Big Pharma, janji ini adalah program vaksinasi global bernilai miliaran dolar itu akan didanai oleh utang.

 

Nasib Negara Berkembang

Lalu apa yang terjadi pada negara-negara berkembang yang sebagian besar menanggung utang kepada mereka?

Proses pemiskinan di Amerika Latin dan Afrika sub-Sahara sudah tidak bisa digambarkan. Di kota-kota besar, pekerja sektor perkotaan informal adalah wiraswasta dan dibayar setiap hari. Yang lain dibayar setiap minggu. Ini berarti, bagi sektor besar populasi perkotaan, pendapatan rumah tangga benar-benar telah dilenyapkan.

Di India, Perdana Menteri Narendra Modi memerintahkan lockdown selama 21 hari yang menciptakan pengangguran disertai dengan kelaparan, keputusasaan, dan penyakit.

“Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari virus corona adalah jika kita tidak meninggalkan rumah kita, apa pun yang terjadi, kita tinggal di rumah …” kata Modi. Pernyataan ini disertai dengan ancaman langsung, “Jika kita tidak dapat mengelola 21 hari ke depan, banyak keluarga akan hancur selamanya.”

Ini adalah pernyataan jahat dari kepala pemerintahan yang katanya dipilih secara demokratis. Pada saat Modi mengumumkan itu pada 20 Maret, India sudah mendapati 482 kasus virus corona dan 10 kematian (total populasi India: 1,37 miliar). Lupakan COVID-19? Di India, diperkirakan 37. 500 anak balita meninggal setiap hari. Dan angka itu akan meningkat di bawah lockdown 21 hari (perkiraan dari The Lancet pada 2015).

Pesan saya kepada PM Modi, “Anda membunuh anak-anak India.”

 

Kebergantungan Utang Negara Dunia Ketiga

Utang yang ditanggung di negara-negara berkembang mencapai triliunan. Ini adalah agenda utang yang ditujukan terhadap negara-negara berkembang yang sudah terlilit hutang: pinjaman baru untuk membayar “utang buruk”. Ini adalah “jaring pengaman” baik untuk kreditor Barat dan konglomerat Big Pharma yang terlibat dalam proyek vaksinasi global multimiliar.

Mereka tidak memikirkan pembatalan utang riil. Sebuah paket penyelamatan negara-negara berkembang yang dililit hutang telah diumumkan. Pada awal Maret lalu, Direktur Pelaksana IMF bersama dengan Presiden World Bank Group mengadakan konferensi pers bersama. Di sana mereka banyak menyampaikan retorika kemanusiaan.

Angka ajaib, “Kami menyediakan 1 triliun Dollar dalam kapasitas pinjaman,” kata Direktur Manajemen IMF, Georgieva.

Jika dilihat sekilas, mereka tampak murah hati, punya banyak uang. Ini mendorong korupsi di tingkat pemerintahan tertinggi. Tetapi pada akhirnya itulah yang kita sebut “uang fiktif”, apapun itu artinya.  Jika diparafrase, sebenarnya mereka mengatakan ini, “Kami akan meminjamkan uang kepada Anda dan dengan uang yang kami pinjamkan kepada Anda, Anda akan membayar kami kembali.”

Ini sama saja dengan riba.  Kebenaran yang ditutupi adalah bahwa satu triliun dolar ini dimaksudkan untuk meningkatkan utang luar negeri. Dan kemudian para kreditor Barat akan memaksakan reformasi ekonomi besar-besaran termasuk privatisasi kesehatan dan pendidikan, membekukan upah, dll. Itulah solusi neoliberal yang diterapkan di tingkat global. Tidak ada pemulihan ekonomi nyata, lebih banyak kemiskinan dan pengangguran di seluruh dunia.

IMF itu eksplisit. Salah satu badan peminjamannya, ‘Dana Pencegahan dan Bantuan Bencana’ yang beroperasi untuk peristiwa pandemi, memberikan hibah untuk kepada anggota yang paling miskin dan paling rentan untuk ‘mengurangi utang’. Pernyataan ini tidak masuk akal. Uang itu ada untuk mengisi kembali pundi-pundi para kreditor dan dialokasikan untuk pengaturan utang.

“Untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, kami memiliki hingga $50 miliar yang [bisa dipinjam] di luar program baku IMF.”

Tidak ada ketentuan pasti tentang bagaimana Anda boleh menghabiskan uang itu. Tetapi uang ini meningkatkan stok hutang dan akan membutuhkan penggantian. Negara-negara [miskin dan berkembang] sudah dipenjara. Semakin banyak IMF meminjamkan uang pada mereka, mereka akan semakin ditekan untuk mematuhi kehendak politik  AS. Dan inilah tujuan AS sebenarnya.

“Dewan Group Bank Dunia mengumumkan paket $12 miliar … untuk memberikan respon cepat dan fleksibel, … untuk mengurangi transmisi patogen. (suplai, peralatan, obat-obatan, dll. vaksinasi?) ” Pendanaan program vaksinasi ini tidak disebutkan secara eksplisit. Kemungkinan besar itu pinjaman untuk program vaksinasi akan diumumkan di kemudian hari.

 

Negara-Negara Maju di Ambang Kehancuran

Negara-negara anggota Uni Eropa sedang menuju kebangkrutan bila pemulihan perbaikan ekonomi nasional yang bangkrut disetir oleh utang. Tanpa keringanan atau pembatalan utang yang signifikan, apa yang bisa kita harapkan di tengah lockdown? Apakah ini suatu proses membuat Eropa menjadi “negara Dunia Ketiga”?

Jika program utang ini diterima oleh negara-negara anggota UE, upah riil akan anjlok, Welfare State [negara yang memberikan pelayanan publik] yang berkembang di era pasca perang akan dihapuskan. Layanan sosial akan diprivatisasi. Aset akan dijual untuk membayar utang.

Jutaan perusahaan kecil dan menengah termasuk pertanian keluarga dan pelayanan kota, pariwisata, dll akan terpengaruh.  Restrukturisasi hutang brutal model Yunani pada 2015 dapat diterapkan ke Italia dan Spanyol.

Kami telah memberikan penjelasan singkat tentang proses yang kompleks ini. Negosiasi dengan kreditor sedang berlangsung dalam proses lockdown.

Sementara kepanikan dan ketakutan muncul akibat wabah COVID-19, ada dampak potensial yang bisa kita sebut sebagai “obat ekonomi yang kotor”.

Orang-orang di seluruh dunia harus memahami apa yang terjadi secara nasional dan internasional dan menjalin solidaritas. Mereka harus menyadari, di tengah kondisi lockdown, apakah dampak ekonomi dan sosial dari krisis ini?

Kita harus menolak dengan paksa “solusi neoliberal” atas krisis ini yang dibuat dengan penimbunan hutang. (LiputanIslam.com)

Michel Chossudovsky adalah seorang ekonom dan pengamat politik dari Kanada. Dia adalah profesor ekonomi di University of Ottawa dan presiden dan direktur Pusat Penelitian Globalisasi. Tulisan ini diterjemahkan dari, Global Research.

DISKUSI: