Ketika “Drone Iran” Mengubah Suasana Perang Ukraina

0
1231

Oleh: Abdel Bari Atwan*

LiputanIslam.com    Pesawat nirawak (UAV/drone) Iran menempati berita-berita utama di media Barat karena perannya di balik kemenangan Rusia belakangan ini dalam perang Ukraina, terutama serangan balasan Rusia atas pemboman Jembatan Krimea (Kerch) dan meledaknya dua pipa gas  Nord Stream 1 dan  Nord Stream 2  di bawah Laut Baltik. Rusia membalasnya dengan menggempur fasilitas dan infrastruktur energi di Kyiv, ibukota Ukraina, dan memperlihatkan strategi militer Rusia baru dengan tampilnya panglima baru Rusia.

Menurut klaim resmi Ukraina, drone Iran menghentikan kemajuan tentara Ukraina di empat wilayah di selatan dan timur Ukraina yang dianeksasi oleh Rusia, menggempur bangunan-bangunan infrastruktur di Kyiv, dan mengancam akan menimpakan petaka musim dingin pada Ukraina.

Tak pelak, isu drone Iran memusingkan negara-negara Eropa sehingga mereka menyerukan pertemuan puncak darurat pada Kamis 20 Oktober guna membahas penerapan sanksi bersama yang berat terhadap Iran,dan  AS pun menyerukan sidang tertutup Dewan Keamanan PBB untuk membahas masalah krusial ini.

Drone  “Shahed 136” buatan Iran tercatat sebagai senjata asing pertama yang digunakan oleh pasukan Rusia,  tepatnya dalam perang Ukraina. Drone ini memperlihatkan keunggulan yang belum pernah terjadi sebelumnya atas senjata canggih Barat dalam perang ini. Sebab, fitur utama drone ini antara lain ukurannya yang kecil, harga yang murah, dapat diluncurkan dari jarak jauh, terbang di ketinggian rendah sehingga menyulitkan radar untuk mendeteksinya, dan dilengkapi hulu ledak seberat 40 kilogram, yang dapat menimbulkan kerusakan yang sangat besar pada sasaran dan sekitarnya.

Drone ini mengejutkan NATO dan diandalkan Moskow untuk menghentikan gerak maju tentara Ukraina dan sebagai senjata alternatif demi mempertahankan persediaan rudal balistik Rusia, mengubah suasana pertempuran dan banyak perimbangan militer yang tidak hanya di Ukraina, melainkan juga di sektor industri senjata Barat, terutama AS.

Menariknya lagi, Pemimpin Besar Iran Sayid Ali Khamenei, menyimpulkan tekanan yang dialami negara-negara Barat sekarang dengan pernyataan bahwa pihak yang semula memperolok drone Iran dan mengatakan bahwa gambar-gambarnya adalah hasil editan program semisal Photoshop kini sadar, waspada dan menjerit atas krusialitas drone itu.

Pada kenyataannya, negara-negara Eropa dan AS yang telah mengirim senjata, perlengkapan berat dan sistem-sistem pertahanan udara ke Ukraina senilai US$ 60 miliar sampai sekarang masih berteriak-teriak mengenai suplai drone itu ke Rusia dan mengancam akan menjatuhkan sanksi terhadap Iran.

Dengan kata lain, boleh bagi Barat menyuplai senjata ke Ukraina,bahkan dengan jumlah dan nilai sebesar itu, tapi tidak boleh bagi Iran, negara yang sudah empat dekade menjadi target embargo dan campur tangan destruktif Barat, menyuplai drone ke Rusia.  Parahnya, akibat tekanan Barat dan demi mematuhi resolusi PBB, Rusiapun enggan menyuplai Iran dengan sistem pertahanan udara S-400.

Perang Ukraina akan menjadi titik transformasi sejarah serta mengungkap kerapuhan di balik kecongkakan Barat.  Kepalsuan netralitas Israel dalam perang ini juga makin terbongkar manakala belakangan ini terjadi negosiasi intensif antara Kyiv dan Tel Aviv untuk pembekalan Ukraina dengan sistem Kubah Besi buatan Israel untuk menghadapi drone Iran yang terbukti efektif dan sulit dihadapi dengan sistem pertahanan udara Eropa.

Menhan Israel Benny Gantz Rabu lalu berterus terang mengatakan, “Israel bisa jadi akan membantu membekali Kyiv dengan sistem peringatan dini untuk menyelamat nyawa” orang-orang Ukraina. Dia berdalih bahwa Israel menyokong Ukraina dengan bantuan kemanusiaan dan perlengkapan pertahanan yang dapat menyelamat jiwa. Dalih itu digunakan Israel terhadap Rusia untuk mempertahankan klaim bahwa Israel tetap netral.

Belum jelas bagaimana Presiden Rusia Vladimir Putin akan menanggapi klaim Tel Aviv itu, dan bagaimana pula dampaknya pada kedekatan hubungan Rusia dengan Israel selama ini, yang membuat Rusia bahkan enggan menyuplai sistem rudal S-300 kepada Suriah yang notabene sekutunya dalam menangkis serangan udara Israel yang berlanjutan sejak lima tahun silam.

Zaman sudah berubah, dan kekuatan-kekuatan besar Barat mulai menciut di depan kekuatan baru yang terus menanjak dalam persaingan kepemimpinan atas dunia. Betapa tidak, negara semisal Iran yang sudah diblokade selama empat dekade dan terus menerus ditekan oleh AS dan Israel malah melaju pesat dalam pengembangan kekuatan rudal dan drone, berhasil mengorbitkan satelit, memiliki 60 kg uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi yang memungkinkannya untuk membuat hulu ledak nuklir dalam tempo sesingkat mungkin, dan memiliki ribuan mesin sentrifugal buatan dalam negeri pada beberapa pusat nuklir di bawah maupun di atas permukaan tanahnya. Dulu tak seorangpun membayangkan negeri mullah itu dapat mencapai semua prestasi sedemikian memukau.

Negara-negara lain berhak bersaing dengan Iran, namun harus mampu menyamai dan menirunya, terutama di bidang-bidang swasembada pertahanan.

*Jurnalis Arab pamred media online Rai Al-Youm, London.

DISKUSI: