Jebolnya Dinding Blokade Venezuela

0
314

Atilio A. Boron

Oleh: Atilio A. Boron*

Kedatangan kapal tanker Iran Fortune ke kilang besar El Palito di Venezuela mengandung makna yang jauh lebih besar daripada jumlah bensin dan pasokan penting lainnya yang diangkut di kapal ini. Ada aspek lain yang jauh lebih penting. Saya ingin menunjukkan tiga aspek itu.

Pertama, kapal tanker itu berhasil menentang blokade AS yang menghambat kedatangan semua jenis produk — dari makanan, obat-obatan, onderdil kereta metro Caracas, hingga bahan bakar — ke Republik Bolivarian Venezuela yang diblokade dan diserang. Ini merupakan kemenangan besar bagi pemerintah Nicolás Maduro dan kekalahan besar bagi Gedung Putih. Kemenangan ini lebih terasa ketika kita mempertimbangkan bahwa kapal-kapal militer Armada Keempat AS berpatroli di Karibia selama beberapa bulan hingga sekarang, dan dapat dengan mudah mencegat kapal Iran ini, tapi tidak mereka lakukan.

Kedua, bahwa justru Republik Islam Iran yang berhasil mengatasi sanksi Washington. Iran adalah negara lain yang telah dikenai sanksi kejam Gedung Putih. Bahkan, AS membunuh salah satu tokoh utama pemerintah Iran, Jenderal Qasem Soleimani, pada awal tahun ini. Media internasional, yaitu kaki tangan AS dan terbiasa menutupi kejahatan negara itu, yang dengan berani mengabaikan pembunuhan perlahan Julian Assange di London, nyaris tidak mencatat fakta ini dan tidak memperlihatkan kecenderungan untuk mengungkapkan dan menganalisisnya.

Ketiga, masih harus dilihat apa yang akan terjadi dengan empat tanker lainnya yang sedang dalam perjalanan. Jelaslah bahwa pemerintahan Trump telah membalikkan sikap awalnya dan ancamannya tetap menjadi ancaman, sebuah bualan khas ala bos yang menganggap dirinya sebagai Mesias yang dipanggil untuk mengembalikan supremasi AS yang dipertahankan sejak jatuhnya Uni Soviet hingga serangan 11 September 2001. Seorang sosiopat yang bertanggung jawab atas 100.000 kematian rakyatnya sendiri karena campuran kesombongan dan ketidaktahuan yang telah ia tunjukkan dengan jelas, seperti saat ia memainkan strategi pemilunya saat berhadapan dengan pandemi COVID-19 yang dalam waktu kurang dari 6 bulan telah mengakibatkan resesi ekonomi yang lebih buruk daripada tahun 1930-an.

Namun, jelaslah bahwa kita belum mencapai akhir sejarah ini. Kita harus melihat apa yang terjadi dengan empat tanker lainnya. Tampaknya tidak mungkin bahwa Trump, yang dihantam oleh masalah domestik yang serius, akan memerintahkan kapal-kapal itu dihentikan, diserang, atau ditenggelamkan karena itu akan menjadi tindakan perang serius yang sarat dengan konsekuensi tak terduga yang akan merusak peluang kepemilihannya kembali pada 3 November mendatang. Survei pemilu AS yang paling dapat diandalkan menunjukkan bahwa Trump kekurangan 5 atau 6 poin di belakang lawannya Joe Biden. Semuanya menunjukkan bahwa kesenjangan ini akan meningkat ke tititik yang sama dengan memburuknya situasi internal AS. Masalah lain lagi, ancaman Trump telah ditanggapi dengan tegas oleh Teheran. Presiden Hassan Rouhani memperingatkan Washington bahwa Iran tidak akan diam jika ada “masalah” atas kapal tanker dalam perjalanan ke Venezuela. Lewat sebuah deklarasi yang luar biasa kuat, dia berkata, “Jika AS menciptakan masalah bagi kami di perairan Karibia atau di mana pun di dunia, kami akan membalas dan menciptakan masalah bagi mereka. Kami punya hak yang sah untuk mempertahankan integritas wilayah kami dan kepentingan nasional kami, dan kami berharap AS tidak membuat kesalahan. ”

Jelaslah bahwa pemerintah AS terus menuai kegagalan dalam kebijakan luar negerinya. Kedatangan kapal Fortune adalah satu lagi bukti dari banyak lainnya. Trump tidak berbasa-basi ketika menghina pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada 2017,  dan dua tahun kemudian ia akhirnya melintasi separuh dunia untuk bertemu dengan Kim di Zona Demiliterisasi yang memisahkan kedua Korea.

Mengapa perubahan ini terjadi?

Noam Chomsky telah mengatakan ini ratusan kali: AS hanya menyerang negara-negara tak berdaya. Korea Utara bukan tidak berdaya, mereka telah mengembangkan kekuatan nuklir yang bahkan di bawah agresi AS, tetap bisa menghancurkan kota-kota besar Seoul (hanya berjarak 195 km) dan Tokyo (1.291 km). Venezuela, Kuba, dan Iran juga tidak termasuk dalam kategori negara tak berdaya. Karena alasan itu, mereka mampu melawan tekanan diplomatik, sanksi ekonomi, blokade, dan kampanye tercela dari para “cendekiawan munafik” seperti Vargas-Llosa dan ratusan wartawan Imperial di berbagai media massa raksasa, yang disebut-sebut “pers bebas” di benua kita.

Ketika Presiden Prancis dahulu, Nicolas Sarkozy, meyakinkan Muammar Gaddafi untuk tidak perlu merenovasi angkatan udaranya karena Libya dan Barat sudah menjadi “teman,” Gaddafi seakan-akan menandatangani surat kematiannya. Dia menerima saran dari pemimpin Prancis dan kepala Mafia Italia, Silvio Berlusconi. Maka ketika Washington memobilisasi NATO untuk memblokade ruang udara Libya pada tahun 2011, Gaddafi jatuh ke bawah kekuasaan para musuhnya yang menggulingkannya dan tidak hanya menangkapnya, tetapi juga menghukumnya dengan brutal, serta membunuh ketiga putranya. Gaddafi telah melucuti senjatanya sendiri. Venezuela, Kuba dan Iran tidak melakukan itu dan karenya, mereka tetap menjadi negara bebas, meskipun harus membayar harga selangit untuk harga diri mereka yang berani, yang telah melepaskan amarah Imperial.

Bukan saja mereka tidak melucuti senjata sendiri, tetapi juga mereka belajar dari sejarah semua revolusi. Mereka menciptakan milisi rakyat yang kuat — dalam kasus Venezuela, ada empat juta anggota milisi– yang namanya saja membawa kengerian bagi para penghasut perang AS ketika mereka mengingat kekalahan luar biasa dari Viet Cong selama Perang Vietnam. Kesimpulan pasti dari analisis ini harus menunggu beberapa hari sampai kita melihat apa yang terjadi dengan keempat kapal tanker lainnya. Salah satunya kapal bernama Forest sudah ada di perairan Venezuela. Kami akan kembali ke membicarakan hal ini segera setelah episode ini berakhir. (LiputanIslam.com)

*sosiolog asal Argentina

DISKUSI:
SHARE THIS: