Corona di Palestina

0
1352

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Jurnalis Yumna Patel, yang tinggal di Palestina, kemarin (24/3) menulis update dari Betlehem, antara lain: jumlah kasus corona di Palestina mencapai 60 orang; 58 di Tepi Barat dan 2 di Gaza. 40 di antara mereka tinggal di Bethlehem, yang merupakan episentrum wabah corona di Palestina. 17 orang dinyatakan sudah sembuh.

Bethlehem adalah kota yang banyak dikunjungi turis atau peziarah, terletak di Yerusalem selatan. Dan karena itulah, baik aparat Palestina maupun Israel sama-sama menutup kota itu dari kunjungan turis. Koordinasi untuk mengisolasi kota ini oleh sebagian media digembar-gemborkan dengan judul “Palestina dan Israel BERSATU karena Corona”.

Menurut Patel, bisnis di Bethlemen ditutup, polisi membuat blokade di penjuru kota dan diberlakukan jam malam. Masjid-masjid dan gereja-gereja kosong. Suara azan masih terdengar, tapi dengan tambahan kalimat “sholat di rumah saja”. Setiap beberapa hari sekali, dilakukan penyemprotan desinfektan di seluruh kawasan kota ini. Warga juga patuh mengikuti perintah untuk diam di rumah.

Namun kondisi jauh berbeda dengan wilayah Tepi Barat yang lain. Hari Selasa (24/2) Otoritas Palestina (PA) mengumumkan bahwa seorang perempuaan Palestina yang baru kembali dari AS positif Corina dan dikarantina di Ramallah. Lalu ada 7 mahasiswa Palestina yang kembali dari Italia, pulang ke Tepi Barat lewat Israel, juga dikarantina.
Kemarin beredar video di sosmed, ada pekerja Palestina yang dibuang begitu saja di wilayah Palestina (oleh tentara Israel) setelah menunjukkan gejala terinfeksi Crona. Orang itu lalu dijemput ambulans PA.

Sebagaimana diketahui, banyak orang Tepi Barat yang terpaksa mencari kerja di Israel (umumnya menjadi buruh) sehingga terjadi arus pulang-pergi Israel-Palestina. Karena jumlah kasus corona di Israel jauh lebih banyak (mencapai 1656 kasus pada 24/2), tentu arus pekerja ini membawa resiko penyebaran virus ke Tepi Barat.

PA menjanjikan kepada warga Tepi Barat bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan Israel mengenai kepulangan buruh ini dan buruh yang baru datang dari Israel akan dikarantina. Namun, sikap tentara Israel yang membuang para pekerja yang terpapar virus di jalan, menunjukkan koordinasi itu hanya sebatas rencana.

Sementara itu, di Gaza situasinya jauh lebih buruk. Di Twitter, muncul banyak cuitan “Wahai dunia, bagaimana rasanya lockdown? -Gaza”. Akun @MohMhawesh menulis, “Wahai warga dunia, kalian takut kehilangan orang yang kalian cintai? Tidak bisa bergerak bebas? Apakah kalian kesulitan mendapat layanan kesehatan? Kami memahami kalian, kami sudah menjalani situasi seperti ini bertahun-tahun.”

Bisa dibayangkan, bila negara-negara kaya saja kelabakan menghadapi virus ini, apalagi Gaza, yang kondisinya, menurut PBB, sangat tidak layak huni dan diprediksi benar-benar tidak lagi layak huni pada tahun 2020. Dan sekarang sudah 2020. Kurang dari 4% air di Gaza yang layak minum; listrik hanya menyala 6-8 jam sehari, sekitar 70% warga tidak punya pekerjaan.

Penyebabnya, sejak 2007 Gaza diblokade oleh Israel, sehingga keluar masuk orang dan barang amat-sangat dipersulit. Kapal militer Israel juga berpatroli di laut Gaza, melarang nelayan untuk mencari ikan jauh ke tengah laut. Kualitas air laut Gaza juga sangat buruk karena dijadikan pembuangan limbah (fasilitas pengolahan limbah tidak berfungsi akibat kurangnya listrik sehingga langsung dibuang ke laut). Mesir juga membantu Israel dengan menutup gerbang Rafah (perbatasan Mesir-Gaza).

Blokade yang sudah berlangsung 13 tahun itu membuat infrastruktur dan sistem kesehatan di Gaza hampir ambruk. Hanya ada 1 tempat tidur untuk setiap 1000 orang. Hanya tersedia sekitar 50-60 ventilator untuk dewasa.

Selain itu, Gaza adalah daerah yang terpadat di dunia, rata-rata ada 6028 orang hidup per 1 km2 . Di kamp-kamp pengungsian, lebih padat lagi. Misalnya di Jabalia, ada 82.000 orang yang hidup per 1 km2. Warga Gaza sebagian besarnya adalah pengungsi. Di tanah dan rumah mereka yang kini dirampas Israel, orang-orang Israel hidup dengan rata-rata 0-500 orang per 1 km2. [2]

Di tengah wabah Corona, Israel sama sekali tidak berniat mencabut blokade fisik dan ekonomi Gaza. Sama seperti AS, yang malah memperketat embargo ekonomi kepada Iran, sambil basa-basi menawarkan “bantuan”. (LiputanIslam.com)

[1] https://bit.ly/3bpTjAt
[2]https://bit.ly/2Uvzz7E

DISKUSI:
SHARE THIS: