Sanaa,LiputanIslam.com-Dilansir dari stasiun televisi al-Jazeera, seiring meningkatnya serangan rudal dan nirawak Yaman atas infrastruktur dan bandara-bandara Saudi, terbetik kabar tentang potensi dimulainya negosiasi Yaman-Saudi.
Negosiasi ini bisa menjadi kelanjutan perundingan tahun 2016 yang dikenal dengan “Perjanjian Dhahran al-Janub.” Konflik sempat terhenti beberapa bulan menyusul dijalinnya perjanjian tersebut.
Menteri Informasi Yaman melalui akun Twitter-nya menyatakan, sejumlah pihak internasional telah berupaya meyakinkan tentara dan pejuang rakyat Yaman untuk menghentikan serangan ke instalasi vital Saudi dan UEA, termasuk bandara-bandara.
Berita Terkait: Ansarullah Yaman Kembali Gempur Bandara di Saudi dengan Nirawak
“Saat ini mediasi internasional, terutama oleh Inggris, sedang dilakukan untuk menghentikan serangan ke bandara-bandara dan infrastuktur vital Saudi serta UEA,”cuit Dhaifullah al-Shami.
Menurut sumber-sumber al-Jazeera, para pejabat Saudi telah melakukan sejumlah kontak dengan Ansharullah, menyusul diserangnya fasilitas minyak dan bandara Abha, Najran, serta Jizan.
“Saudi memohon agar Yaman menghentikan serangan-serangannya. Hal ini masih dikaji, namun belum ada perkembangan sejauh ini,”kata sumber-sumber tersebut.
Muhammad al-Bukhaity (anggota senior Ansharullah) kepada al-Jazeera mengatakan, mediator internasional dalam dialognya dengan Ansharullah menekankan penghentian serangan rudal dan nirawak ke Saudi dan UEA. Menurut al-Bukhaity, ini adalah bukti kesuksesan operasi-operasi yang dilancarkan Yaman.
Dalam rentang sebulan terakhir, tentara Yaman telah melancarkan 11 serangan ke fasilitas dan bandara Saudi.
Serangan terbaru dilancarkan pada Senin malam (17/6) ke bandara Abha dengan menggunakan pesawat nirawak.
Dilansir oleh kanal al-Masirah, Yahya Sarie (jubir tentara Yaman) mengabarkan, serangan dengan nirawak Qasef-2K itu sukses menyasar target-target di bandara Abha secara akurat. (af/alalam)
Baca: