Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Dari Redaksi

Trump, Rasisme, dan Islamophobia: Sisi Gelap Teror Christchurch

Published 18/03/2019 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

Otong Sulaeman

LiputanIslam.com –Dunia berduka dan marah atas aksi teror di Christchurch, Selandia Baru, Jumat 15 Maret 2019. Sejumlah orang yang menenteng senapan menyerbu dua masjid yang ada di kota itu, yaitu Masjid Noor di Deans Avenue dan Masjid Linwood di Linwood Avenue. Kaum Muslimin yang sedang melaksanakan ibadah salat Jumat menjadi sasaran serangan brutal. Hingga kini, sudah 50 orang diberitakan tewas akibat serangan tersebut.

Motif tindakan terorisme itu sendiri sudah cukup jelas. Ini adalah tidakan terorisme yang berasaskan kepada rasisme, yaitu keyakinan keunggulan ras (dalam hal ini adalah kulit putih). Di sisi lain, tindakan biadab ini juga menjadikan orang-orang Islam sebagai objek serangan. Bagi pelaku, kaum Muslimin adalah orang-orang yang berbahaya dan harus dilenyapkan. Inilah yang secara sederhana disebut sebagai sindrom Islamophobia.

Salah seorang pelaku aksi ini adalah warga negara Australia bernama Brenton Tarrant. Dialah yang menyiarkan rekaman serangannya secara langsung melalui Facebook. Sebelumnya, Tarrant mengumumkan manifesto yang menyebut imigran sebagai penjajah. Menariknya, dalam menifesto itu, Tarrant memuji Presiden AS Donald Trump sebagai simbol identitas kulit putih dan simbol tujuan bersama. Artinya, bagi Tarrant, Trump adalah idola dan sumber inspirasi. Saat mengidolakan Trump, Tarrant merujuk kepada serangan gencar terhadap imigran, terutama orang-orang dari negara Muslim, yang merupakan inti dari kebijakan America First Presiden Trump.

Aksi biadab terorismne tersebut memang dikecam oleh pemerintah AS. Akan tetapi, terkait dengan “ideologi nasionalisme ras kulit putih” yang melatarbelakangi aksi terorisme itu sendiri, Trump menanggapinya dengan santai. Ia menolak gagasan bahwa gerakan ekstremisme kulit putih dengan sasaran ras dan agama lain sebagai ancaman. Baginya, peristiwa Christchurch tak lebih dari ulah sekelompok kecil orang yang punya masalah psikologi serius. Dengan bahasa lain, bagi Trump, aksi terorisme itu hanyalah ulah oknum yang terlalu ekstrem dalam memaknai dan mempraktekkan rasisme kulit putih dan Islamphobia. Adapun ideologinya sendiri legal dan mulia.

Keyakinan senada disampaikan oleh Senator Australia Fraser Anning. Dalam sebuah cuitan di medsos, Anning malah menyampaikan blaming of the victim, alias prinsip menyalahkan korban. Alih-alih berduka atas peristiwa serta menyampaikan simpati kepada korban, Anning malah menyalahkan imigran Muslim sebagai penyebab peristiwa teror. Menurutnya, kalaulah tidak ada “serbuan” kaum imigran Muslim di Australia, Selandia Baru, dan negara-negara “kulit putih” lainnya, tak akan ada kebencian dan kecemburuan dari kelompok yang ia sebut sebagai kaum nasionalis kulit putih.

Rasisme adalah hal yang sangat tercela dan sama sekali tidak rasional. Rasisme tidak hanya membela kepentingan kelompoknya saja. Bahaya rasisme ada pada pembenaran atas setiap tindakan yang dilakukan oleh kelompoknya, meskipun kelompoknya itu berada dalam posisi atau melakukan tindakan buruk. Akal, hukum, HAM, konvensi, dan etika dikesampingkan. Yang menjadi prioritas adalah ras. Bahkan, semua aturan hukum harus disesuaikan dengan prinsip-prinsip keunggulan ras.

Adapun Islamophobia itu sendiri adalah bagian dari politik imperialisme Barat. Perhatikanlah, ketika muncul sentimen negatif terhadap Islam, hampir pasti yang dimunculkan sebagai contoh adalah kelompok-kelompok ekstrem semisal Al-Qaeda, ISIS, Jabhah Al-Nusra, dan yang semisalnya. Padahal, pembentukan dan aktivitas kelompok-kelompok itu sendiri diinisiasi serta didanai oleh Barat. Padahal, takfirisme sebagai landasan teologis kelompok itu tumbuh subur di negara-negara seperti Arab Saudi yang menjadi sekutu-strategis AS.

Jumlah kelompok-kelompok ekstrem ini sebenarnya sangat minor. Akan tetapi, tindakan merekalah yang terus di-blow up oleh media Barat hingga terkesan bahwa mereka adalah representasi ajaran Islam. Maka, wajah Islam pun menjadi buruk. Lebih jauh lagi, kemunculan kelompok takfiri ini juga berdampak kepada kalangan internal ummat Islam. Prinsip mudah menjatuhkan vonis kafir mau tidak mau akan menciptakan perpecahan tragis di antara kaum Muslimin.

Aksi terorisme di Selandia Baru adalah tindakan terkutuk. Tapi kita juga harus mengutuk rasisme dan Islamophobia sebagai faktor ideologisnya. (os/editorial/liputanislam)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Analisis

USAID dan Neokolonialisme AS di Asia

By Farid
Editorial

Zionis Israel Sedang Tidak Baik-Baik Saja

By Farid
Fokus

Runtuhnya Israel Sebuah Keniscayaan

By Farid
Internasional

Ayatullah Khamenei: AS Kian Lemah, Israel Terburu-buru Ingin Binasa

By Hadi
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account