Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Harga Minyak Jatuh, Seberapa Lama Saudi Mampu Bertahan?

Published 16/02/2015 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE
A handout picture released by the Saudi Press Agency (SPA) on February 2, 2015 shows Saudi new King Salman bin Abdulaziz chairing the cabinet meeting in the capital, Riyadh. AFP/SPA
A handout picture released by the Saudi Press Agency (SPA) on February 2, 2015 shows Saudi new King Salman bin Abdulaziz chairing the cabinet meeting in the capital, Riyadh. AFP/SPA

LiputanIslam.com — Berapa harga minyak dunia hari ini? Sebagaimana dilansir situs Forex.com, harga minyak dunia jenis brent menyentuh harga 60,89 USD per barrel, mengalami sedikit kenaikan daripada beberapa waktu sebelumnya yang menyentuh harga di bawah 50 USD per barrel.

Jika sebelumnya telah diulas bahwa jatuhnya harga minyak merupakan agenda Arab Saudi untuk menekan rival-rivalnya terutama Iran dan Rusia, maka yang menarik untuk ditanyakan hari ini adalah, seberapa lama Arab Saudi bisa menjaga stabilitasnya di dalam negeri dengan harga minyak yang sedemikian murah? Tidakkah suatu hari nanti – Arab Saudi akan mengalami semacam kebangkrutan?

Hassan Chakrani, kolumnis Al-Akhbar mengingatkan sejarah di masa lalu, yaitu kegagalan Raja Philip II mengelola keuangan dalam pemerintahannya. Spanyol yang ia pimpin, terjerat utang, dan sayangnya, informasi ini tidak akan bisa ditemukan di website populer seperti Wikipedia. Justru sebaliknya, Spanyol disebutkan berada dalam masa kejayaan di bawah kepemipinan Raja Philip II.

Bagaimana masalah-masalah ekonomi timbul di Spanyol?

Ketika Philip II mewarisi tahta pada tahun 1556, ia terlihat sebagai raja yang paling kaya di Eropa. Namun dibalik glamornya kehidupan kerajaan, kesulitan ekonomi mewabah di negerinya. Warisan yang ia terima dari ayahnya, Charles V, tidak banyak membantu.

Kerajaan akhirnya bergantung pada pajak. Rakyat dikenakan pajak yang sangat tinggi, sementara para bangsawan bebas pajak. Harga-harga barang meningkat empat kali lipat, dan dalam kondisi yang sangat sulit seperti itu, Philip II tetap mengerjakan proyek-proyek megah yang membutuhkan anggaran dana dalam jumlah yang besar. Singkatnya, kekayaan atau kemewahan yang terlihat hanyalah sebuah ilusi [I]

Dalam jurnal yang disusun oleh Mauricio Drelichman, dari The University of British Columbia dan Hans-Joachim Voth dari ICREA/Universitat Pompeu Fabra, juga ditegaskan bahwa keterlibatan Spanyol dalam peperangan, ambisinya yang tinggi dalam menjadikan Spanyol sebagai pemain penting di kawasan, semakin memperparah kondisi perekonomiannya. Philip II, telah gagal membayar utang-utang negaranya pada tahun 1557, 1560, 1575 dan 1596. [2]

Kegagalan Philip II telah melegenda, dan jika kita perhatikan hari ini, kerajaan Arab Saudi memiliki beberapa kemiripan dengan kondisi Spanyol di masa lalu. Raja dan bangsawan yang hidup dengan bergelimpang kemewahan, sementara sebagian besar rakyatnya hidup dalam kemiskinan. Pendapatan negara yang besar tidak berimbang dengan laporan bahwa 70 persen warga negara ini hidup dalam kondisi perekonomian yang rapuh. Intelektual Arab Saudi, Tawfik el-Seif, mengklaim lebih dari 10 juta penduduk Arab Saudi hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara menurut statistik yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja dan Sosial, lebih dari 3 juta orang membutuhkan bantuan pemerintah untuk menangani kemiskinannya. [3]

Arab Saudi juga melebarkan berbagai pengaruhnya di negara-negara Timur Tengah, tidak peduli walau dilakukan dengan cara yang amat kotor, yaitu mendukung kelompok-kelompok teroris, baik itu di Irak, Suriah, dan Yaman. Sedangkan di Bahrain, Arab Saudi mengirimkan satuan militer untuk membantu Rezim Al-Khalifa meredam revolusi. Untuk permainan ini, Arab Saudi harus menggelontorkan dana yang tidak sedikit.

Menurut laporan yang diterbitkan IMF pada bulan Januari, akibat jatuhnya harga minyak, Arab Saudi berpotensi kehilangan 130 miliar USD pada tahun 2015, dan jumlah ini setara dengan 25 persen dari total produk domestik bruto (PDB).

Citibank juga melaporkan hal yang senada. Disebutkan, Arab Saudi akan kehilangan hampir dari sepertiga pendapatan minyak dari total yang biasa diterima, akibat jatuhnya harga minyak di level terendah.

Selama ini, Arab Saudi menggantungkan pendapatannya dari minyak. Dan untuk membiayai belanja negara agar seimbang dengan pendapatannya, paling tidak harga minyak harus dijual di angka 80 USD per barrel. Apalagi, Arab Saudi memiliki sebuah program kesejahteraan sosial untuk rakyat, yang bertujuan untuk menjaga stabilitasnya. Bukankah semua proyek tersebut memerlukan dana yang besar?

Secara umum, mungkin terlihat Arab Saudi masih aman karena memiliki cadangan sebesar 700 miliar USD, yang berasal dari tingginya harga minyak di masa lalu. Dan dana ini bisa digunakan untuk menutupi kondisi sulit saat ini. Namun mengingat situasi keuangan Arab Saudi berada dalam kondisi yang defisit, maka seberapa lama mereka mampu bertahan?

Rezim sendiri menyatakan pada akhir tahun 2014, bahwa Arab Saudi pada anggaran 2015 akan mengalami defisit besar. Dalam pernyataan resmi, diumumkan bahwa defisit anggaran negara mencapai 38,6 miliar USD. RAPBN Saudi tahun 2015 memproyeksikan belanja pemerintah sebesar 860 miliar riyal atau setara 229,3 miliar USD, dan pendapatan sebesar 715 miliar riyal atau  190,70 miliar USD.

Raja Abdullah wafat, dan digantikan oleh Salman. Guna mendapatkan dukungan politik dan mengamankan posisinya, maka Raja Salman pun mengalokasikan dana sekitar 32 miliar USD ke berbagai daerah, dalam bentuk hibah, dana kesejahteraan, dan investasi. Seberapa seringkah raja baru ini harus ‘menyuap’ rakyat dan segenap birokrasi negara untuk memastikan tahtanya tetap aman? Apalagi, naiknya Salman sebagai raja, dibarengi dengan kembalinya klan Sudairi, yang rentan menimbulkan kecemburuan atauu oposisi dari klan lainnya yang tersingkirkan. [4]

Dari jaman ke jaman, hingga sejarah kebangkrutan yang dialami oleh House of Habsburg, Spanyol, di abad ke-16, seluruhnya memiliki pesan yang jelas. Sebuah rezim yang tirani, boros, suka bermewah-mewahan ataupun berfoya-foya, akan membawa negaranya pada kehancuran. Tinggal menunggu waktu saja. (ba)

 

—-

[1] http://www.historylearningsite.co.uk/phil2.htm

[2] http://crei.cat/people/voth/voth_sustainabledebts.pdf

[3] http://liputanislam.com/berita/saudi-kerapuhan-di-balik-kekuatan/

[4] http://liputanislam.com/berita/35457/

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account