Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Mengapa Nobar “Senyap” Digeruduk?

Published 24/12/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE
Joshua Oppenheimer dan Adi Rukun
Joshua Oppenheimer dan Adi Rukun

Jakarta, LiputanIslam.com–Acara nonton bareng (nobar) film Senyap di Malang dan Yogyakarta beberapa kali batal karena digeruduk sejumlah ormas. Di Institute Seni Indonesia misalnya, massa datang di tengah-tengah pemutara film dan sempat terjadi baku hantam antara anggota ormas dan penonton (17/12).

Di Malang, massa yang mengaku dari organisasi masyarakat Pribumi membubarkan nobar di Warung Kelir, Jalan Panglima Sudirman (10/12). Puluhan orang dari Pribumi datang saat film dokumenter Senyap atau The Look of Silence baru diputar sepuluh menit.

“Kami sebagai anak korban komunis tidak rela dengan film ini karena film ini menetralkan sejarah. Seakan peristiwa itu tidak berbahaya bagi negeri ini. Tolong hentikan ini,” kata Haris Budi Kuncahyono, seperti dikutip Tempo.

Film Senyap atau ‘The Look of Silence’ karya sutradara Joshua Oppenheimer ini berkisah tentang pembantaian massal 1965 di Sumatera Utara. Tokoh dalam film dokumenter ini adalah seorang laki-laki bernama Adi Rukun. Ia dan ibunya yang sudah lansia masih memendam kepedihan dari tragedi pembantaian massal tahun 1965 di Indonesia. Kakak Adi, Ramli, adalah salah seorang korban pembantaian di Sumatera Utara.

Adi, yang baru lahir dua tahun setelah peristiwa itu, menjalani kehidupannya dengan tanda tanya besar; bagaimana kakaknya dibunuh dan siapa pelakunya? Film ini mengikuti perjalanan Adi yang menemui pelaku pembunuh kakaknya, bukan untuk balas dendam, namun untuk mencari pemahaman. Ia mewawancarai ibunya, para pembunuh dan penyiksa Ramli, para koordinator aksi pembantaian, dan pihak-pihak terkait lainnya.

Film ini memenangkan lima Penghargaan dalam Festival Film Internasional Venesia ke 71 di Italia akhir Agustus 2014.

Tanggapan NU dan Komnas HAM

Nahdlatul Ulama Yogyakarta menyesalkan pembubaran acara nonton bareng film ini. “Kalau sekadar untuk romantisme dan mengetahui sejarah, ya biarkan saja, kenapa harus dicurigai dan dilarang?” ujar Wakil Sekretaris NU Yogyakarta, Mashruri, seperti dikutip Tempo (18/12).

NU pun mengecam ketika aksi penggerebekan di Yogya sampai merambah lingkungan kampus yang notabene merupakan basis kawasan ilmiah. Menurut Mashruri, memutar film Senyap adalah hak mereka. Mashruri juga menegaskan bahwa pemutaran Senyap tidak berarti menyebarkan paham komunis.

Sementara itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menilai film tersebut bisa memberikan edukasi kepada masyarakat agar kasus pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada 1965 tidak kembali terulang.

“Ini sangat edukatif, tapi belum apa-apa sudah dilarang,” kata Komisioner Komnas HAM Subkomisi Pendidikan dan Penyuluhan, Muhammad Nurkhoiron.

Menurut Nurkhoiron, pelarangan pemutaran film Senyap juga bertentangan dengan semangat Presiden Joko Widodo yang menginginkan penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat. “Pelarangan kontra produktif dengan yang dikatakan Presiden Jokowi saat di Yogyakarta,” kata Nurkhoiron.

Sutradara: Film Ini Bukan Untuk Mengorek Luka Lama

Sutradara film Senyap, Joshua Oppenheimer mengatakan, film dokumenter garapannya itu tidak berkeinginan mengorek luka lama antara masyarakat dan para penyintas atau korban Tragedi 1965.

“Masa lalu tak akan berlalu selama ancaman masih terus membuat kita terlalu takut mengakui apa yang telah terjadi atau untuk menyuarakan makna peristiwa di masa lalu,” kata Joshua, seperti dikutip Kompas (10/11).

Dia mengatakan, Senyap mengungkapkan pelanggaran HAM serius bagi korban dan keluarga yang dianggap tersangkut Partai Komunis Indonesia.

Meski begitu, dia mengakui tidak sedang membela sebuah ideologi lewat film. Akan tetapi, dia ingin agar masyarakat menyadari bahwa ada pelanggaran HAM yang dialami keluarga yang tersangkut Gerakan 30 September.(fa)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account