
LiputanIslam.com– Dalam latihan militer tahunan yang digelar pekan lalu, militer AS dan Jepang mengadakan latihan bersama yang disebut Iron Fist. Tentara Jepang dan Marinir AS berlatih cara untuk menyerang dan merebut kembali sebuah pulau yang dikuasai oleh pasukan musuh. Latihan tersebut di selenggarakan di Camp Pendleton, California.
Para pejabat militer AS mengatakan latihan militer bersama IronFist ini bukanlah sebuah sinyal/pesan kepada China. Namun perlu dicatat, latihan gabungan ini dilangsungkan ditengah meningkatnya ketegangan antara China dan Jepang akibat adanya pulau di Laut Cina Timur yang masing-masing negara baik China maupun Jepang merasa memilikinya.
Ketegangan antara Beijing dan Tokyo meningkat setelah Jepang menasionalisasi beberapa pulau pada tahun 2012. Sedangkan Beijing mengklaim sekitar 80 persen dari Laut Cina Selatan merupakan perairan bersejarah miliknya.
Namun, menurut New York Times, yang dikutip oleh Press TV, para pejabat militer AS bersikeras bahwa latihan militer bersama di California tidak ada hubungannya dengan sengketa wilayah yang memanas antara kedua negara, dan latihan ini bukanlah ‘pesan’ kepada China.
Sementara itu, Letnan Kolonel John O’Neal, komandan Ekspedisi Marinir ke-15 AS mengatakan bahwa tentara Jepang datang ke California dengan sebuah tujuan, dan peristiwa yang terjadi saat ini memang memberikan ‘penekanan’ terhadap latihan bersama tersebut.
Dalam pertemuan pada hari Jumat (21/2) dengan jajaran tinggi Jenderal dari China, Kepala Staf Angkatan Darat AS Jenderal Raymond Odierno menyerukan dialog antara Cina dan Jepang untuk mengakhiri kemelut. Namun para analis politik mensinyalir bahwa Washington memiliki agenda tersendiri dalam masalah ini.
Dalam sebuah wawancara telepon dengan Press TV pada hari Sabtu, Kim Petersen, yang merupakan co-editor dari Dissident Voice, menyatakan bahwa seruan Odierno untuk mengadakan dialog antara Jepang dan China adalah wajar, tapi bukan berarti Amerika Serikat tidak tergiur dengan adanya sengketa di kawasan tersebut.
Mark Dankof, mantan kandidat Senat AS dari San Antonio, juga mengatakan kepada Press TV pekan lalu bahwa Washington ikut campur dalam perselisihan kedaulatan di kawasan ini dan juga di tempat lainnya di dunia karena memiliki agenda yang berlipat ganda, termasuk eksploitasi sumber daya alam di wilayah sengketa. (LiputanIslam.com/AF)