Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Sindir SBY, Menteri Susi Sebut Indonesia Rugi Masuk G20

Published 11/11/2014 4 Min Read
Share
4 Min Read
SHARE

susi2Jakarta, LiputanIslam.com — Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan menyindir mantan presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang membangga-banggakan capaian Indonesia masuk forum G20. Oleh SBY, hal tersebut dianggap sebagai prestasi pemerintah yang telah mensejajarkan Indonesia dengan negara adidaya di seluruh dunia. Mengapa?

Menurut Susi, masuknya Indonesia dalam forum 20 negara perekonomian terbesar dunia itu tidak ada manfaatnya. Sebaliknya, ia justru melihat kerugian yang harus diterima Indonesia. Kerugian itu harus dialami di sektor kelautan. Semisal, nilai ekspor tuna Indonesia mencapai USD 700 juta. Gara-gara G20, Indonesia tidak dapat kemudahan zero persen tarif dan harus membayar tarif 14 persen dengan nilai USD 105 juta.

“Masuk G20 tidak ada untungnya untuk kelautan kita. Karena ini kita jadi kena impor tarif. Padahal nilai udang kita saja mencapai miliaran dolar Amerika. Kemudian ada impor tarif beberapa, tidak ada untungnya dibantu G20,” ucap Susi dalam dialog bersama pengusaha di KKP, Jakarta, Selasa (11/10/2014) seperti dilansir Merdeka.

Susi menyatakan, Indonesia tidak perlu gengsi dan sombong karena berada dalam organisasi G20. Apalagi Indonesia hanya jadi negara penggembira dan tidak memiliki pengaruh kuat. Bahkan keputusan mereka cenderung merugikan Indonesia.

“Kita tidak perlu sombong. Kalau duit hilang buat apa. Kita di G20 tidak bisa kasih keputusan apa-apa karena kita bukan negara G8. Kita pengikut penggembira saja,” tegasnya.

Dalam pandangannya, dengan keluar dari organisasi G20 justru membuat Indonesia lebih mandiri dan berdaulat serta berdiri di kaki sendiri seperti visi Presiden Joko Widodo.

“Kita semua orang dagang dan mau bisnis. Lobi diplomatik bukan kita, lobi kita perdagangan. Kalau kita keluar dari G20 maka negara untung USD 300-500 juta. Just get out dari G20. Tidak perlu gengsi pak, saya tidak perlu prestise,” tutupnya.

Seperti diketahui, Indonesia menjadi anggota G20 sejak tahun 2009, yang menuai pro kontra di berbagai kalangan. Pemerintah selalu mengklaim, hal ini adalah sebuah keberhasilan mengingat dari 10 negara ASEAN, hanya Indonesia satu-satunya negara yang bergabung.

Sedangkan para akademisi berkata sebaliknya. Masyarakat Ilmuwan dan Tekhnologi (MITI), pada Maret lalu di Universitas Gajah Mada menyatakan, bahwa masuknya Indonesia ke dalam G20 adalah kebodohan.

Seperti dikutip dari halaman resmi MITI, secara kualitas nilai tambah ekonomi Indonesia masih sangat rendah, ekspor lebih dari 70% masih berbasis bahan mentah tak diolah atau produk berbasis buruh murah, dan hanya kurang dari 30% berbasis teknologi.

Di bidang pangan kebutuhan pangan kita 65% masih impor, sementara 40% penduduk Indonesia adalah petani yang notabene hanya mampu memproduksi pangan, sehingga bisa dikatakan untuk sekedar bertahan hidup pun kemampuan yang dimiliki rakyat kita tidak cukup.

Di bidang energi, sebentar lagi tidak sampai 5 tahun lagi Indonesia akan melampaui Amerika sebagai negara pengimpor BBM terbesar di dunia, padahal 10 tahun yang lalu, Indonesia masih menjadi anggota OPEC. Saat ini sudah mencapai 65% kebutuhan BBM dipenuhi dari impor. Di bidang kesehatan 95% obat dan alat kesehatan yang digunakan di dalam negeri juga berasal dari impor.

“Kalau kita lihat bahwa 70% lebih komoditas yang kita jual adalah bahan mentah hasil galian dari kekayaan alam kita, maka kita paham bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidup kita dan menjadikan kita masuk daftar 20 negara terkaya di dunia adalah karena kita menjual bagian tanah dan air kita. Tentunya ini merupakan kebodohan yang luar biasa untuk membiarkan hal ini terus terjadi,” jelas Dr. Warsito P. Taruno, Ketua Umum MITI.

“Apa yang akan terjadi pada anak cucu kita yang pada tahun 2035 yang akan mencapai 300 juta jiwa? Bagaimana mereka akan bisa bertahan hidup kalau bagian tanah dan air sudah dijual oleh orang-orang tua mereka, yaitu kita?” tambahnya. (ba)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account