Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Turki dan Kegamangannya dalam Perang Melawan ISIS

Published 26/10/2014 6 Min Read
Share
6 Min Read
SHARE

ErdoganLiputanIslam.com — Akhirnya pada tanggal 20 Oktober lalu, Turki mengijinkan beberapa ratus pejuang Kurdi asal Irak (Peshmerga) untuk memasuki kota Kobane di perbatasan negara itu dengan Suriah, yang terancam jatuh ke tangan kelompok teroris ISIS dan menjadi korban kekejaman kelompok teroris itu di depan mata rakyat dan para pemimpin Turki. Tentu saja, para pemimpin itu tidak ingin dipermalukan dalam pergaulan internasional sebagai para pemimpin yang tidak berdaya. Terlebih lagi mereka tidak ingin rakyat Turki yang marah melihat pemimpin-pemimpin mereka diam melihat kekejaman ISIS di depan mata, memakzulkan mereka.

Namun ijin bagi para pejuang Kurdi Irak itu pun harus melalui tarik ulur yang sangat keras. Salah satunya melibatkan Amerika yang berusaha keras membujuk Turki untuk bergabung dengan koalisi yang dipimpinnya, memerangi ISIS sekaligus mengembalikan kedudukan strategis Amerika di Irak yang tersingkir setelah pasukannya hengkang dari negara itu. Intervensi Amerika melawan ISIS juga memungkinkan Amerika mengubah jalannya perang di Suriah yang semakin tidak menguntungkan Amerika, Turki dan sekutu-sekutunya, setelah pasukan pemerintah Bashar al Assad, dengan dukungan Hizbollah, Iran, Irak dan Rusia, berhasil mengalahkan para pemberontak.

Dan tindakan terakhir Turki sebelum mengijinkan pejuang Kurdi itu membantu saudara-saudara mereka di kota Kobane yang terancam menjadi korban pembantaian ISIS, selain menumpas aksi-aksi demonstrasi orang-orang Kurdi adalah membom para pejuang Kurdi Turki.

Kegamangan Turki menghadapi perkembangan ISIS di Suriah yang berbatasan langsung dengan Turki, hingga Irak tentunya bertolak belakang dengan wawasan, atau cara pandang Turki, terhadap konstalasi politik di kawasan. Hingga tiga tahun yang lalu Turki adalah negara yang sangat percaya diri untuk menjadi “pemain utama” perpolitikan di kawasan Timur Tengah. Stabilitas politik serta pertumbuhan ekonomi yang pesat selama hampir 10 tahun kepemimpinannya, membuat Perdana Menteri Recep Erdogan untuk berfikir lebih jauh lagi, yaitu mengembalikan kejayaan Turki sebagai negara yang memiliki sejarah panjang negara terkuat di kawasan.

Cara pandang seperti itulah yang membuat Menlu Davutoglu pada tahun 2010 mengatakan bahwa “tidak ada selembar daun yang jatuh di Timur Tengah, kecuali atas sepengetahuan kami.” Ditambah dukungan “negara gudang uang” Qatar, Turki pun memulai petualangannya untuk menjadi negara paling berpengaruh di Timur Tengah dan bahkan di antara negara-negara Islam di dunia, dengan mendukung gerakan Ikhwanul Muslim dan beberapa kelompok Sunni lain di Timur Tengah.

Dengan dukungan Turki dan Qatar itulah, beberapa negara Arab dan Afrika Utara pun jatuh ke bawah pengaruh Ikhwanul Muslimin. Seiring munculnya gerakan Arab Springs pada akhir tahun 2010, Tunisia, Mesir, dan Libya pun jatuh ke tangan Ikhwanul Muslimin, dan karena itu juga, ke tangan Turki. Turki pun semakin bersemangat untuk mewujudkan ambisinya setelah melihat gerakan Arab Spring itu juga melanda Suriah tahun 2011, negara tetangga yang oleh Erdogan dianggap sebagai penghalang ambisinya. Dukungan serius pun diberikan Turki kepada para pemberontak Suriah dari faksi Ikhwanul Muslimin.

Namun kegembiraan Turki tidak bertahan lama. Setelah petualangannya di Suriah mengalami kebuntuan dengan tetap bertahannya Bashar al Assad, sekutu paling kuat Turki, yaitu pemerintahan Ikhawnul Muslimin Mohammad Moersi di Mesir pun tumbang di tangan militer tahun 2013. Itulah sebabnya, Turki tidak bisa lagi terlalu mengandalkan faksi Ikhwanul Muslimin dalam pemberontakan Suriah dan mengalihkan sebagian dukungannya kepada kelompok-kelompok militan, termasuk ISIS.

“Saat itu, Turki masih memiliki kepercayaan diri bahwa mereka mampu mengendalikan para ekstremis dan teroris itu,” kata seorang diplomat dalam sebuah laporan situs berita independen The Daily Beast.

Dengan dukungan Turki itulah, ISIS leluasa mendapatkan suplai senjata, manusia dan barang-barang kebutuhan mereka melalui Turki. Tidak hanya itu, mereka juga bisa leluasa menjual minyak rampasan mereka di Suriah dan Irak ke pasar gelap di Turki.

Namun, seiring berjalannya waktu, para teroris itu semakin sulit dikendalikan. Media-media massa Turki melaporkan beberapa pemimpin ISIS yang mengancam akan melakukan serangan di wilayah Turki. Dengan jumlah anggota kelompok itu yang mencapai 1.000 orang lebih yang berasal dari Turki, serangan-serangan maut ISIS sama sekali tidak bias diabaikan Turki. Padahal Turki sendiri masih belum bisa menjinakkan perlawanan bersenjata kelompok Kurdi Turki yang selama ini telah menewaskan puluhan ribu orang. Bertambahnya ISIS sebagai musuh yang harus diperangi di wilayah Turki, akan membuat Turki berubah menjadi medan perang, dan status nama besar Erdogan pun hancur ke tingkat yang sama dengan Saddam Hussein dan Khadaffi.

Di sisi lain, Turki juga dilanda kebingungan terkait dengan kelompok pemberontak Kurdi Turki (Kurdistan Workers’ Party/PKK) yang memainkan peran signifikan dalam memerangi kelompok ISIS di Suriah dan Irak utara. Turki beranggapan koalisi internasional melawan ISIS bisa memberikan keuntungan bagi PKK, terutama mengalirnya senjata-senjata canggih dari Negara-negara barat ke tangan PKK.

Bagaimana pun, pilihan yang dihadapi Recep Erdogan hanya 2 pilihan yang sama-sama pahit, ikut koalisi internasional pimpinan AS dan menghadapi resiko serangan-serangan terror di dalam negeri yang dilakukan ISIS, atau diam membisu dan menjadikannya sebagai pemimpin “idiot” di kawasan Timur Tengah, sangat jauh dari bayangan Erdogan. Maka mengijinkan beberapa ratus pejuang Peshmerga masuk ke kota Kobane dari perbatasan Turki menjadi pilihan paling tepat bagi Turki.(ca)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account