Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Memprihatinkan, 60% Bahan Baku Makanan Harus Impor

Published 17/10/2014 3 Min Read
Share
3 Min Read
SHARE
impor-bahan-mie-instan-tinggi-gandum-nuklir-bisa-jadi-pilihan
foto: merdeka

LiputanIslam.com — Puluhan tahun merdeka, industri food ingredient atau bahan baku makanan di Indonesia masih sangat tertinggal, sehingga harus mengimpor dari luar negeri. Ir. Adhi S. Lukman, Chairman Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia mengatakan, hingga saat ini, 60% bahan baku makanan berasal dari luar negeri.

“Dengan jumlah penduduk yang besar dan kekayaan sumber daya alam, Indonesia  berpotensi menjadi basis produksi dan distribusi food ingridients, baik dalam maupun luar negeri,” kata Adhi, Kamis (16/10/2014) seperti dilansir Tribunnews.

Apalagi, Indonesia dihadapkan pada era pasar bebas, sehingga pengusaha Indonesia diharapkan mampu memproduksi makanan dengan bahan olahan sendiri.

“Penggunaan cara yang inovatif dan efisien akan sangat membantu perekonomian negara. Di samping itu, tidak perlu harus mengimpor bahan baku,” kata Adhi.

Seperti diketahui, bahan baku makanan ini digunakan dalam produksi ‘makanan rakyat’ seperti mie instan dan tempe. PT Indofood Sukses Makmur, produsen mi instan terbesar di Tanah Air misalnya, menyerap 300.000 ton gandum impor saban bulan untuk memenuhi permintaan pasar. Perusahaan itu beberapa kali mengatakan membuka lahan gandum sendiri kurang ekonomis dibanding membeli dari luar negeri.

Data Kementerian Perdagangan, impor bahan pangan tertinggi sepanjang 2013 adalah gandum, mencapai 6,3 juta ton senilai USD 2,3 miliar. Australia jadi pemasok gandum terbesar buat Indonesia, mencapai 4,4 juta ton, disusul Kanada (930.600 ton), India (107.500 ton), dan Ukraina (30.500 ton).

Lalu tempe, yang diasosiasikan sebagai makanan ‘murah’ yang dikonsumsi masyarakat menengah kebawah, ternyata bahan bakunya yaitu kedelai, juga harus diimpor dari luar negeri.

Pada tahun 2013, Indonesia mengalami defisit kedelai sebanyak 1,3 juta ton. Untuk menutupi defisit tersebut, Kementan terpaksa mengimpor sebanyak 1,2 juta ton kedelai dari sejumlah negara.

Solusi: Tingkatkan Kualitas Produksi Pertanian

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengaku punya solusi buat mengurangi ketergantungan pemerintah, khususnya pada komoditas gandum impor. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Utama Kajo bercerita program kemitraan dengan petani di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, sukses menghasilkan gandum berkualitas tidak kalah dari produk impor.

Varietas gandum itu bisa bertahan di iklim Indonesia karena sebelumnya dimutasi dengan sinar gamma, hasil teknologi Badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN).

“Tiga minggu lalu saya berhasil panen gandum Indonesia. Itu tujuh hektar hasil menanam selama tiga bulan. Ini gandum hasil mutasi dan sudah disesuaikan dengan iklim Indonesia,” ujarnya di Jakarta, Jumat (19/9/2014). (ba)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account