Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Fokus

Perselingkuhan Kurdi-Israel-AS

Published 10/07/2014 7 Min Read
Share
7 Min Read
SHARE

kurdistanLiputanIslam.com – Seluruh Analis Politik menyimpulkan bahwa ada sebuah konspirasi sistematis di balik aksi offensif kelompok teroris ISIS di Irak akhir-akhir ini.

“Timur Tengah” diciptakan oleh kekuasaan kolonial Inggris dan Perancis hampir satu abad yang lalu dengan cepat runtuh begitu saja ketika ISIS dengan cepat membangun kekuasaan dari pinggiran kota Aleppo ke Tikrit dan dari Mosul ke perbatasan Yordania-Irak.

Wilayah geografi buatan, yang didirikan di tengah-tengah Perang Dunia I melalui  perjanjian Sykes-Picot tahun 1916, kini terancam. Bukan kebetulan jika ISIS itu sendiri, meskipun memimpikan kekhalifahan, juga menekankan tujuan sebenarnya.

“Negara-negara yang terbentuk dari fragmentasi Kekaisaran Ottoman itu kini semua berisiko. Dalam pusaran geopolitik ini elektron bebas utamanya adalah pastinya adalah gagasan pembentukan Kurdistan Raya.”

Demikian kesimpulan jurnalis senior Pepe Escobar dalam tulisannya di Russia Today awal bulan lalu, menyikapi fenomena kemunculan kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak.

“Irak tengah hancur di depan mata kita dan tampak bahwa pembentukan sebuah negara Kurdi merdeka adalah sebuah kepastian.”

Itu adalah kesimpulan Menteri Luar Negeri Israel, Avigdor Lieberman akhir bulan Juni lalu, seolah menunjukkan kegembiraan pemerintah Israel atas munculnya negara merdeka Kurdi.

Apa yang selalu dikatakan Lieberman kepada Menteri Luar Negeri AS John Kerry pekan ini terutama adalah fakta bahwa Pemerintah Otonomi Kurdistan di Irak (KRG), adalah pengekspor minyak ke Israel.

Dengan semua tujuan praktis, milisi Kurdi Peshmergas, sekarang juga mengendalikan wilayah kaya minyak Kirkuk yang menjadi sengketa antara pemerintah pusat Irak dan KRG, setelah penarikan memalukan tentara Irak di depan gerak maju ISIS. Presiden KRG Masoud Barzani pun dengan lantang mengatakan: “Kami akan membawa seluruh kekuatan kami untuk mempertahankan Kirkuk.”

KRG telah berusaha untuk mengendalikan Kirkuk dengan segala cara yang diperlukan sejak pendudukan Irak oleh AS tahun 2003. Dalam skenario masa depan, Kirkuk akan menjadi pompa bensin yang memberikan kekayaan besar bagi bangsa Kurdi yang makmur. Baghdad pun dihadapkan dengan ancaman serius lainnya.

Bukan rahasia lagi di masyarakat Timur Tengah bahwa Tel Aviv dan Kurdi telah memiliki hubungan akrab di bidang militer, intelijen dan bisnis, sejak tahun 1960-an.  Maka tidak perlu diragukan bahwa Israel akan menjadi negara pertama yang mengakui negara Kurdi yang merdeka.

Maka tidak mengherankan jika Presiden Israel Shimon Peres, juga di minggu yang sama dengan pernyataan Lieberman, mengatakan kepada Presiden AS Barack Obama, “Kurdi secara de facto, telah menciptakan negara mereka sendiri, yang demokratis. Salah satu tanda-tanda demokrasi itu adalah pemberian kesetaraan bagi perempuan.”

Mengapa secara tiba-tiba, pemimpin Israel yang tidak pernah peduli dengan perempuan-perempuan Palestina, sangat peduli dengan hak-hak perempuan Kurdi?

Sesuatu yang mencurigakan sedang terjadi. Apalagi setelah media seperti Wall Street Journal pun gencar mengkampanyekan kemerdekaan Kurdi.

Konsensus pernyataan pada media-media Israel adalah bahwa kemerdekaan Kurdi adalah “baik bagi Israel” karena Kurdi bukanlah orang-orang Arab, Persia atau Turki. Kurdistan, setidaknya di wilayah Kurdistan Irak, dipandang oleh Israel sebagai “entitas yang tidak bermusuhan”, dan yang terpenting, tidak tersentuh oleh penderitaan rakyat Palestina.

Dari sudut pandang Israel yang ketat, Kurdi dianggap sebagai kaum moderat, Muslim sekuler yang telah menjadi korban chauvinisme Arab, baik itu dari kaum Islam nasionalis atau pun Islam garis keras.

Setidaknya dalam teori, Kurdi tidak akan memusuhi gagasan “penentuan nasib bangsa yahudi sendiri.” Dan lebih krusial lagi, negara Kurdistan Raya akan menjadi negara penyangga yang ideal yang bertindak bersama-sama dengan kepentingan strategis Israel yang lebih besar: secara bersamaan akan mengamputasi Turki, Iran, Irak dan Suriah.

Bahkan Kurdistan Irak yang merdeka tidak hanya akan menjadi “teman Israel” tetapi juga akan menjadi negara makmur. Irbil, misalnya, meskipun bukan Arab, ingin memasarkan dirinya sebagai Ibukota Pariwisata Arab. Dan semua ini, dalam pendangan Israel yang paranoid, sebagai sekeranjang kasus negara-negara gagal. Apa  yang tidak disukai Israel?

Lihat dari sekarang, segala bentuk langkah Israel untuk menciptakan Balkanisasi Irak menjadi negara Suni, Shiah dan Kurdi. Tidak diragukan bahwa Kurdi merdeka telah menjadi agenda lama sejak Perang Teluk 1991. Pertama dengan membentuk milisi bersenjata sendiri, Peshmerga, dan kini mengekspor minyaknya sendiri tanpa persetujuan pemerintah pusat di Baghdad.

Namun seluruh pertunjukan juga dipenuhi dengan mitos, seperti “konflik tak terdamaikan antara Arab dan Kurdi di Irak”. Sebenarnya selama hampir 10 tahun belum ada jajak pendapat yang kredibel yang menyatakan bahwa mayoritas Kurdi Irak menginginkan kemerdekaan. Sebanyak ada kerinduan untuk kemerdekaan, Kurdi juga merupakan bagian dari pemerintahan di Baghdad.

Benar, KRG telah menengahi gencatan senjata antara pemerintah Turki dan kelompok separatis Partai Pekerja Kurdistan (PKK). Tapi masalah bangsa Kurdi di Suriah dan Turki adalah sesuatu yang sangat kompleks. Kurdi Suriah telah menikmati otonomi yang jauh lebih besar setelah mencapai kesepakatan dengan Damaskus untuk tidak menuntut negara merdeka di Suriah. Sedang Kurdi Irak sibuk membantu mereka dengan cara mereka yang otonomus.

Masalah Kurdi menjadi semakin rawan sebagai sumber pertikaian antara kelompok Sunni melawan Syiah, yang telah terwujud dalam bentuk serangan cepat ISIS ke Irak.

Kaum muda Kurdi yang sebelumnya tidak terpengaruh di Turki, dihasut oleh retorika agama Saudi, senjata dan uang, sangat tertarik dengan semangat jihad di Suriah. Pemakaman ISIS di wilayah dominan Kurdi di Anatolia selalu menarik perhatian orang banyak, dan menjadi peluang sempurna bagi ISIS untuk merekrut anggotanya.

Apa yang pasti adalah bahwa angan-angan – dari Tel Aviv ke Washington, akan terus menyerap perhitungan tentang masalah Kurdi, seperti dalam asumsi Turki yang seolah diizinkan bergabung ke Uni Eropa, meski sebenarnya tidak. Dengan demikian Kurdistan akan menjadi perbatasan Uni Eropa yang sebenarnya di timur.

Apa yang diinginkan AS dan Israel adalah fatamorgana dari negara-negara eksportir minyak utama yang ramah dalam jangka panjang. Itulah sebabnya Balkanisasi terdengar sangat menarik. Ini tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan rakyat Kurdi yang secara historis selalu dirugikan.

Ini bisnis yang sesungguhnya. Dan kini, permainan “pecah belah dan kuasai” yang lain tengah berlangsung.(ca)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Fokus

Rudal Iran Sayyad-3G, Lompatan Besar Pertahanan Udara AL Iran

By Muhammad
Fokus

Konflik Teheran-Washington Pasca Unjuk Rasa Akbar Pendukung Pemerintah Iran

By Muhammad
Fokus

Kubu Pro-Saudi di Yaman Isyaratkan akan Bersekutu dengan Ansarullah, Ada Apa?

By Muhammad
Fokus

Jurnalis Atwan Menjawab Mengapa Iran Tiba-Tiba Membongkar Rahasia di Balik Perang 12 Hari

By Muhammad
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account