London, LiputanIslam.com – Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Iran hampir siap untuk mengerahkan rudal yang mampu menyerang AS. Demikian dilaporkan Reuters, Jumat (27/2).
Mengutip sumber yang mengetahui penilaian rahasia, kantor berita Inggris itu mengabarkan bahwa klaim Trump dalam pidato kenegaraannya pada hari Selasa berlebihan dan tidak didukung oleh laporan intelijen.
Namun klaim tersebut menjadi inti dari argumen publiknya yang diperbarui untuk kemungkinan agresi militer terhadap Iran.
Dalam pidato tersebut, Trump mengatakan kepada anggota parlemen bahwa Teheran sedang “mengerjakan rudal yang akan segera mencapai” AS, tanpa memberikan bukti, merujuk pada apa yang secara teknis dikenal sebagai rudal balistik antarbenua (ICBM).
Dia juga menuding Iran sedang membangun kembali program nuklir yang, menurutnya, telah “dihancurkan” oleh serangan udara AS dalam Perang 12 Hari pada Juni 2025.
Di sisi lain, dalam pemerintahan Trump sendiri, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menggunakan bahasanya lebih hati-hati. “Iran sedang menuju kemampuan untuk suatu hari nanti mengembangkan senjata yang dapat mencapai daratan AS,” ujarnya, jauh dari upaya mengesankan akan adanya ancaman yang segera terjadi seperti diklaim Trump.
Kontroversi tak pelak memicu kekhawatiran internasional karena Trump secara bersamaan meningkatkan tekanan militer, memerintahkan peningkatan signifikan pasukan AS di Timteng, termasuk pengerahan dua kapal induk, pesawat tempur, dan sistem rudal di sekitar Iran.
Teheran berulang kali menanggapi hal itu dengan peringatan keras. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Seyyed Ali Khamenei memperingatkan bahwa senjata yang dapat menenggelamkan kapal induk Amerika “lebih berbahaya” daripada kapal induk.
Retorika perang Trump terhadap Iran mengemukal ketika putaran ketiga pembicaraan tidak langsung Iran-AS, yang dimediasi oleh Oman, diadakan pada hari Kamis di Jenewa, dengan negosiasi berlangsung selama berjam-jam dan berhenti untuk konsultasi dengan ibu kota masing-masing sebelum dilanjutkan kemudian pada hari itu.
Pembicaraan tersebut dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, dengan kepala pengawas nuklir PBB Rafael Grossi menyampaikan poin-poin teknis antara kedua pihak.
Ancaman Trump yang terus berlanjut telah memperdalam kekhawatiran bahwa retorika perang Washington dapat menggagalkan negosiasi yang menurut Iran menghasilkan kemajuan.
Kegelisahan juga tumbuh di dalam AS. Anggota Kongres dari Partai Demokrat mengatakan mereka akan memaksa pemungutan suara minggu depan tentang resolusi kekuasaan perang yang dirancang untuk mencegah Trump melancarkan serangan apa pun terhadap Iran tanpa persetujuan Kongres.
Langkah bipartisan tersebut, yang diajukan oleh Anggota Kongres Ro Khanna dan Thomas Massie, berupaya untuk menegaskan kembali wewenang konstitusional Kongres untuk menyatakan perang.
Para pemimpin Partai Demokrat, yang dipimpin oleh Ketua Minoritas DPR Hakeem Jeffries, memperingatkan dalam sebuah pernyataan bahwa “melancarkan perang pilihan di Timur Tengah, tanpa pemahaman penuh tentang semua risiko yang menyertainya bagi anggota militer kita dan terhadap eskalasi, adalah tindakan yang gegabah.” (mm/presstv)