Teheran, LiputanIslam.com – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua opsi tersedia dalam negosiasi dengan Washington, “baik itu diplomasi berdasarkan martabat atau pendekatan defensif yang akan berujung pada penyesalan AS.”
Dia menegaskan bahwa jika Washington memilih melancarkan operasi militer ketika negosiasi sedang berlangsung maka mereka akan menghadapi respon yang tegas dan telak.
“Jika Anda memilih meja diplomasi, diplomasi yang menjaga martabat bangsa Iran dan menghormati kepentingan bersama, maka kami juga akan berada di meja yang sama,” tandasnya, Rabu (25/2).
“Tetapi jika Anda memutuskan, melalui tipu daya, kebohongan, salah tafsir, dan informasi yang salah, untuk mengulangi pengalaman masa lalu dan melancarkan serangan di tengah-tengah negosiasi, Anda pasti akan merasakan cengkeraman kuat rakyat Iran dan pasukan pertahanan negara,” sambungnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Teheran menuju Jenewa, pada hari Rabu, menjelang putaran pembicaraan baru dengan AS.
Putaran pembicaraan pada hari Kamis akan menjadi yang ketiga dalam upaya mediasi yang dipimpin Oman, setelah yang pertama di Muscat pada 6 Februari dan yang kedua di kota Swiss tersebut pada 17 Februari.
Hal ini terjadi ketika AS mengerahkan kekuatan militer besar-besaran ke wilayah Teluk dan Timur Tengah, dan terus mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran jika upaya diplomatik gagal. (mm/tasnim/irib)