Teheran, LiputanIslam.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi meninggalkan Teheran menuju kota Jenewa, Swiss, untuk melakukan putaran kedua pembicaraan nuklir tidak langsung Iran dengan AS.
Memimpin delegasi diplomatik dan ahli, Araghchi melakukan perjalanan ke Jenewa pada hari Minggu, di mana ia juga dijadwalkan untuk mengadakan konsultasi diplomatik.
Putaran kedua pembicaraan antara delegasi Iran dan AS dijadwalkan akan berlangsung di Jenewa pada hari Selasa, dan perwakilan dari Oman akan bertindak sebagai mediator.
Diplomat senior Iran tersebut berencana mengadakan pertemuan dengan rekan-rekannya dari Swiss dan Oman, direktur jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), dan beberapa pejabat internasional yang berbasis di Swiss, menurut Kementerian Luar Negeri Iran.
Sebelum keberangkatannya, Araghchi memberi pengarahan kepada kabinet Iran tentang status terbaru pembicaraan tidak langsung tersebut.
Delegasi Iran dan AS, yang masing-masing dipimpin oleh Araghchi dan Utusan Khusus AS Steve Witkoff, melanjutkan pembicaraan nuklir di Muscat pada 6 Februari, beberapa bulan setelah agresi Israel pada Juni 2025.
Menteri Luar Negeri Oman Sayyid Badr Al Busaidi berbolak-balik antara kedua pihak, dengan pembicaraan yang diadakan secara tidak langsung seperti sebelumnya.
Di akhir pembicaraan yang dimediasi Oman, Araghchi menyebut negosiasi dengan AS sebagai “awal yang baik” dan dapat dilanjutkan.
Tuntutan utama Iran di Muscat tetaplah pencabutan sanksi ekonomi yang efektif dan dapat diverifikasi. Para pejabat di Teheran telah berulang kali menyatakan bahwa setiap perjanjian tanpa manfaat ekonomi yang nyata akan tidak berarti dalam praktiknya.
Negosiasi akan berlangsung ketika Presiden AS Donald Trump telah mengerahkan pasukan militer ke kawasan sekitar Timteng sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan aksi militer baru.
Para pejabat AS beberapa hari lalu mengatakan bahwa Pentagon mengirimkan kapal induk tambahan, dan menambah ribuan pasukan lagi bersama dengan pesawat tempur dan kapal perusak.
Pada akhir Januari, Trump berbicara tentang armada lain yang menuju ke arah Iran dan mengklaim bahwa kegagalan untuk mencapai kesepakatan akan membawa konsekuensi “jauh lebih buruk” daripada serangan Juni terhadap fasilitas nuklir Iran.
Organisasi anti-perang memperingatkan bahwa konfrontasi lain akan menjadi bencana, sembari menyebut pada Perang 12 Hari pada Juni 2025 sebagai contoh nyata. (mm/presstv)