Teheran, LiputanIslam.com – Laksamana Ali Shamkhani, yang menjabat sebagai sekretaris Dewan Pertahanan Iran, yang bernaung di bawah Dewan Tinggi Keamanan Nasional (SNSC), menegaskan bahwa kemampuan rudal balistik Iran adalah “garis merah” yang tidak akan pernah dibawa ke meja perundingan.
Pernyataan tersebut di tengah suasana pawai dan rapat akbar peringatan Revolusi Islam Iran ke-47, Rabu (11/2) setelah Washington terus mencoba menekan Iran agar memperluas pembicaraan nuklir dengan memasukkan masalah pengembangan rudal Teheran. Komentar Shamkhani tersebut merupakan tanggapan langsung terhadap seruan baru dari pemerintahan Presiden Donald Trump untuk pembatasan rudal.
Meskipun Iran telah menyatakan kesediaan untuk membahas aktivitas nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi, Iran secara konsisten memisahkan program rudal pertahanannya dari negosiasi tersebut.
Shamkhani mengatakan “kebiasaan” Washington menggabungkan ancaman dengan diplomasi adalah taktik usang yang digunakan untuk memberikan “kredibilitas” pada sikap negosiasinya, tetapi Teheran tetap tidak terpengaruh oleh sikap tersebut.
Shamkhani mengatakan bahwa provokasi militer sebesar apapun akan dibalas dengan respon yang total. Dia memperingatkan AS perihal “serangan terbatas” terhadap kepentingan Iran, dengan mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah memberi sinyal melalui pernyataan resmi dan demonstrasi kekuatan di lapangan bahwa agresi apa pun akan dianggap sebagai awal dari perang besar.
“Konflik militer di wkawasan dengan tingkat sensitivitas dan kepadatan kepentingan seperti itu tidak dapat dibatasi pada geografi tertentu atau hanya dua pihak,” tegas Shamkhani.
Menurutnya, karena infrastruktur energi bersifat vital di kawasan Teluk Persia dan sekitarnya, konflik apa pun akan memiliki “konsekuensi global” yang memengaruhi kehidupan jauh di luar Timur Tengah.
Shamkhani mengatakan satu-satunya jalan logis ke depan bagi Barat adalah mengejar “dialog serius” dan meninggalkan “perilaku teatrikal dan propaganda” yang hanya dimaksudkan untuk semakin menggoyahkan stabilitas wilayah tersebut.
Penegasan tersebut mengemuka ketika Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berkunjung ke Washington dan diperkirakan akan bertemu dengan Trump untuk mendorong sikap AS yang lebih keras, khususnya menuntut agar kesepakatan di masa mendatang mencakup batasan ketat pada persenjataan rudal balistik Iran.
Pada malam sebelum pertemuan di Gedung Putih, Presiden Trump memberi sinyal bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk mengirim “armada” angkatan laut kedua ke Timur Tengah untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.
Pada tanggal 8 Februari, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan kembali bahwa program rudal Iran “tidak pernah, dan tidak akan pernah,” menjadi bagian dari agenda dalam pembicaraan nuklir. (mm/presstv)