Washington, LiputanIslam.com – Presiden AS Donald Trump terus mengancam Iran dengan kemungkinan serangan militer jika Teheran tidak memenuhi tuntutannya mengenai berbagai isu, mulai dari pengayaan nuklir hingga rudal balistik.
Dalam komentarnya kepada media Israel Channel 12, yang disiarkan pada hari Selasa (10/2), Trump mengisyaratkan tindakan agresif jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dengan Iran.
“Entah kita mencapai kesepakatan, atau kita harus melakukan sesuatu yang sangat keras,” kata Trump kepada media tersebut.
Trump mengatakan demikian ketika kepala keamanan Iran Ali Larijani bertemu dengan sultan Oman, Haitham bin Tariq Al Said, untuk membahas hasil pembicaraan antara pejabat AS dan Iran pekan lalu.
Dalam beberapa pekan terakhir, Trump telah berkoar tentang peningkatan pasukan militer AS di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya, setelah mengirimkan “armada besar”, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, ke perairan terdekat.
Channel 12 dan kantor berita Axios pada hari Selasa melaporkan bahwa Trump juga mempertimbangkan untuk mengirim kapal induk kedua ke Timur Tengah.
Peningkatan kekuatan militer tersebut telah memicu kekhawatiran akan serangan AS yang akan segera terjadi terhadap Iran. Para kritikus khawatir serangan demikian dapat mendestabilisasi kawasan tersebut.
Pada hari Senin, AS telah mengeluarkan pedoman kepada kapal-kapal komersial berbendera AS, memperingatkan mereka untuk tetap berada “sejauh mungkin” dari perairan teritorial Iran.
Sejak Januari, Trump telah meningkatkan tekanan AS terhadap Iran, memperingatkan bahwa militer negaranya “siap tempur dan siap beraksi”.
Trump juga membandingkan situasi Iran dengan situasi Venezuela, di mana operasi militer AS pada 3 Januari mengakibatkan penculikan dan pemindahan Presiden Nicolas Maduro.
“Seperti halnya dengan Venezuela, (militer AS) siap, bersedia, dan mampu untuk segera memenuhi misinya, dengan kecepatan dan kekerasan, jika perlu. Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan setara,” tulis Trump di media sosial pada 28 Januari. (mm/aljazeera)