Teheran, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan bahwa pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington menghadirkan peluang bagus untuk penyelesaian masalah nuklir Iran.
“Babak baru negosiasi nuklir, yang telah dimulai di Oman dengan bantuan dan dukungan dari negara-negara tetangga kita, merupakan peluang bagus untuk penyelesaian masalah yang adil, rasional, setara, dan saling dapat diterima,” katanya dalam kata sambutan pada upacara peringatan 47 tahun kemenangan Revolusi Islam di Teheran, yang juga dihadiri oleh para duta besar negara-negara sahabat, Senin (9/2).
Dia menyebutkan bahwa Iran menginginkan jaminan atas hak pengayaan uraniumnya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan pencabutan sanksi, serta menyatakan harapan bahwa pihak lain akan mengesampingkan tuntutan yang berlebihan untuk memungkinkan hasil yang diinginkan.
“Pesan kami kepada dunia jelas: Iran adalah negara yang menepati janjinya, asalkan melihat kejujuran dan kepatuhan terhadap komitmen dari pihak lawan,” katanya.
Dia menilai dialog merupakan jalan yang berkelanjutan untuk menghadapi tantangan regional dan global, dan bahwa kebijakan luar negeri Iran ditentukan berdasarkan interaksi bermartabat.
Menurut Pezeshkian, Teheran menyambut baik setiap negosiasi yang berlandaskan hukum internasional, martabat dan penghormatan terhadap kedaulatan nasional, dengan kedudukan yang setara dan konsisten pada prinsip saling menguntungkan.
Negosiasi tidak langsung Iran-AS terbaru diadakan di Muscat, Oman, pada 6 Februari, setelah sekian minggu terjadi eskalasi ketegangan akibat pengerahan militer AS di kawasan sekitar Iran dan ancaman aksi militer terhadap Iran.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Iran, menyebut negosiasi itu sebagai “awal yang baik,” dan kedua belah pihak bermaksud melanjutkan diskusi.
Pezeshkian mengatakan Iran mengulurkan tangan persahabatan kepada semua negara yang menginginkan kerja sama tulus dengan Teheran.
Dia juga menyoroti kemampuan Iran di bidang ekonomi, transportasi, dan industri berbasis pengetahuan sebagai bidang kerja sama multilateral dengan negara lain, termasuk negara tetangga dan negara-negara regional.
“Prioritas Iran adalah meningkatkan kerja sama dengan negara-negara mitra dan kekuatan-kekuatan baru yang berupaya memperkuat multilateralisme dan menghormati hukum internasional dalam hubungan mereka,” pungkasnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam kata sambutannya pada seremoni penyambutan para duta besar negara-negara sahabat Republik Islam Iran dalam rangka peringatan ke-47 kemenangan Revolusi Islam, mengatakan: “Kami berupaya melakukan negosiasi yang tulus untuk mencapai hasil.”
Dia juga mengatakan, “Setiap kali rakyat Iran disapa dengan bahasa kekerasan, mereka akan melawan; dan setiap kali mereka disapa dengan bahasa penghormatan, mereka akan membalasnya dengan cara yang sama.”
Dia mengingatkan bahwa ketidakpercayaan Iran terhadap AS adalah akibat dari tindakan AS sendiri, dan menekankan bahwa Iran “terlibat dalam negosiasi yang sangat serius, dan kami berupaya melakukan negosiasi yang tulus untuk mencapai hasil, asalkan pihak lain serius dan siap untuk melakukan negosiasi yang berorientasi pada hasil.” (mm/presstv/alalam)