Teheran, LiputanIslam.com – Dewan Keamanan Iran dalam laporannya tentang gelombang kerusuhan yang beberapa waktu lalu melanda berbagai wilayah negara ini menyatakan korban jiwa mencapai 3.117 orang, termasuk warga sipil dan personel keamanan.
Menurut laporan tersebut, puncak kekerasan terjadi pada tanggal 8 dan 9 Januari, dengan tingkat kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Menurut dokumentasi yang dimiliki Dewan, selama dua hari ini, kekejaman skala penuh dilakukan dengan dukungan dari pihak-pihak yang berniat jahat terhadap bangsa Iran,” ungkapnya.
Unsur-unsur teroris terlibat dalam “kejahatan ala ISIS”, termasuk pemenggalan kepala, penusukan, dan pembakaran orang hidup-hidup.
Serangan-serangan itu juga menyebabkan kehancuran yang meluas dengan serangan sistematis terhadap pasar, toko, bank, masjid, rumah sakit, ambulans, stasiun pemadam kebakaran, klinik, dan infrastruktur publik.
Dewan tersebut mencatat bahwa peristiwa itu dimulai dengan protes damai oleh para pedagang dan kelompok perdagangan atas kesulitan ekonomi, di mana Presiden Masoud Pezeshkian secara pribadi bertemu dengan perwakilan untuk mendengarkan kekhawatiran mereka dan menginstruksikan polisi untuk menahan diri secara maksimal.
Namun, laporan tersebut mengatakan bahwa sel-sel pengacau terorganisir turun tangan untuk mencegah resolusi damai dan beralih ke serangan bersenjata yang bertujuan untuk menjatuhkan korban massal dan menggoyahkan pusat-pusat kota.
Dewan Keamanan menjelaskan, “Setelah tahap ini, pada tanggal 8 dan 9 Januari, berbagai aksi teroris dilakukan di beberapa bagian negara untuk mendorong situasi di luar kendali dan menggoyahkan kota-kota melalui kekerasan maksimal dan serangan bersenjata terkoordinasi di tempat-tempat umum dan pertemuan yang bertujuan untuk menyebabkan korban jiwa dan menghancurkan properti publik dan swasta.”
Temuan intelijen menunjukkan bahwa kerusuhan tersebut merupakan respon langsung terhadap kegagalan “perang 12 hari” yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada Juni tahun lalu.
Disebutkan bahwa setelah menyadari bahwa agresi militer saja tidak dapat menghancurkan tekad Iran, poros AS-Zionis beralih membidik solidaritas sosial Iran.
“Musuh menyimpulkan bahwa alat-alat militer tidak dapat membuat bangsa Iran menyerah. Karena itu, mereka menargetkan integritas sosial bangsa untuk menghancurkan tekad nasional kolektif,” ungkap Dewan.
Dewan memuji keberhasilan menumpas “konspirasi jahat” terhadap Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, pengorbanan pasukan keamanan, dan “peristiwa bersejarah 12 Januari”, ketika jutaan warga Iran turun ke jalan untuk mengecam kekerasan.
Laporan tersebut menekankan bahwa situasi di Iran sudah kembali normal, dan bahwa “persatuan nasional rakyat Iran kembali memberikan kekalahan kepada musuh-musuh Iran.” (mm/presstv)