Teheran, LiputanIslam.com – Iran memperingatkan bahwa konflik skala penuh dengan Amerika Serikat (AS) akan membawa malapetaka yang berkepanjangan, bahwa eskalasi militer hanya akan menyebabkan kehancuran jangka panjang.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan negaranya menjadi sasaran berbagai bentuk serangan oleh AS, dan mendesak Washington untuk “mengadopsi cara berpikir yang berbeda dan merasakan rasa hormat.”
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Wall Street Journal, pada hari Rabu (21/1), yang sebagian isinya dibagikan di akunnya di platform X, Araghchi menekankan bahwa berperang dengan Iran akan “berakibat malapetaka dan berlangsung lama,” memperingatkan bahwa konflik skala penuh akan sangat merusak dan amelampaui jangka waktu yang coba dipromosikan Israel kepada Gedung Putih.
Ia menyebutkan bahwa Iran telah menjadi sasaran berbagai serangan AS, termasuk serangan siber dan intervensi militer.
“Pesan Iran kepada Presiden Trump jelas: terlepas dari semua langkah permusuhan yang telah diambil AS terhadap Iran, mereka telah gagal total,” sambungnya.
Araghchi memperingatkan bahwa rakyat Iran menghadapi ancaman lain yang mengintai: “kegagalan diplomasi yang paling mendasar.”
Hal ini terjadi di tengah protes baru-baru ini di Iran karena krisis ekonomi yang memburuk, dan meningkatnya ketegangan serta ancaman antara Washington dan Teheran.
Sementara itu, Ketua Mahkamah Agung Iran Gholamhossein Mohseni-Eje’i mengatakan bahwa kekuatan musuh telah menggunakan penyebaran rumor dan perang psikologis terhadap Iran setelah gagal mencapai tujuan mereka dalam gelombang kerusuhan beberapa waktu lalu.
“Musuh, setelah menderita kekalahan dan mundur dalam kerusuhan baru-baru ini, kini beralih ke operasi psikologis yang meluas, penyebaran rumor, dan distorsi fakta,” kata katanya pada pertemuan para hakim dan staf Kehakiman di Provinsi Bushehr pada hari Rabu.
Menurutnya, sumber-sumber musuh menyebarkan angka-angka yang dibuat-buat dan dilebih-lebihkan tentang jumlah korban dalam peristiwa baru-baru ini. Dia memastikan klaim tersebut jauh dari kenyataan.
Mohseni-Eje’i menambahkan bahwa “musuh agresor,” selama perang 12 hari pada bulan Juni, telah keliru berasumsi bahwa Republik Islam Iran hampir runtuh.
“Namun, pada tahap itu, musuh mengalami kekalahan total. Akibatnya, mereka berusaha untuk melanjutkan konspirasi mereka dalam bentuk yang berbeda, menerapkannya melalui kerusuhan baru-baru ini. Karena itu, kerusuhan baru-baru ini merupakan kelanjutan dari perang 12 hari,” terangnya. (mm/raialyoum/presstv)