Teheran, LiputanIslam.com – Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa “perang teroris ala Daesh” baru-baru ini terhadap Iran memiliki tujuan yang mirip dengan serangan pager teroris Israel di Lebanon pada September 2024.
Pada 17 September 2024, ribuan perangkat komunikasi nirkabel milik anggota gerakan perlawanan Hizbullah meledak serentak di berbagai lokasi di Lebanon dan Suriah, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai sekitar 3.000 lainnya, sebagian besar warga sipil.
Rezim Israel secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pemboman pager tanpa pandang bulu, yang pertama kali dilaporkan di pinggiran selatan Beirut, diikuti oleh peledakan walkie-talkie pada hari berikutnya, yang juga mengakibatkan ratusan korban.
Pada sesi Parlemen Iran pada hari Senin (19/1), Ghalibaf mengatakan bahwa rencana yang telah ditentukan sebelumnya terdiri atas “kekerasan yang terang-terangan dan terorganisir, serangan teroris dan bersenjata, kerusuhan sipil yang sangat brutal, dan pembunuhan brutal terhadap ribuan warga sipil, anggota Basij (pasukan sukarelawan) dan polisi serta pasukan keamanan.”
Dia menjelaskan bahwa rencana tersebut bertujuan menimbulkan ketakutan di kalangan rakyat Iran, membuat mereka kehilangan kemampuan untuk menganalisis masalah dan berhenti mendukung negara, sehingga membuka jalan bagi AS dan tentara bayarannya untuk melakukan serangan terhadap Iran dan menghancurkannya.
Dia menilai hanya sedikit negara di dunia yang mampu dengan cepat memulihkan keamanan dan melindungi rakyatnya setelah tiba-tiba dihadapkan dengan “terorisme terorganisir dan brutal” seperti itu, yang secara terbuka dan resmi didukung oleh presiden AS.
Ghalibaf menekankan bahwa rencana baru-baru ini merupakan kelanjutan dari perang 12 hari yang dilancarkan oleh AS dan rezim Israel terhadap Iran pada pertengahan Juni.
Dia menambahkan “Seperti yang dinyatakan oleh Pemimpin Revolusi Islam Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, hasutan tersebut dipicu melalui campur tangan presiden AS, yang telah menghabiskan semua kredibilitasnya yang tidak ada dalam melanggengkan keresahan, ketidakamanan, dan pertumpahan darah di Iran.”
Akhir bulan lalu, Iran dilanda aksi protes jalanan yang dipicu oleh penurunan tajam mata uang Rial Iran, dan kesulitan ekonomi di ibu kota, Teheran, dan kota-kota lainnya.
Protes damai di seluruh Iran berubah menjadi kekerasan setelah Presiden AS Donald Trump dan pejabat AS lainnya bersumbar bahwa AS akan menggunakan agresi militer baru terhadap Iran jika terjadi apa yang mereka sebut sebagai “penindasan” Teheran terhadap demonstran perusuh yang didukung asing.
Ghalibaf lebih lanjut mengatakan bahwa kekalahan musuh dalam aksi Amerika-Israel belakangan ini kembali menunjukkan bahwa Iran, di bawah kepemimpinan Ayatullah Khamenei, merupakan “tempat paling tidak aman di dunia bagi teroris dan pengkhianat.”
“Inilah masalah yang membuat presiden AS putus asa dan memprovokasi reaksi kontradiktif dan penuh amarahnya,” tegasnya.
Ia mencatat bahwa semua negara yang menjunjung kebebasan di dunia menganggap Ayatullah Khamenei sebagai suara yang kuat dan pemimpin perlawanan rakyat tertindas terhadap kekuatan yang korup dan arogan seperti presiden AS dan pejabat Israel. (mm/presstv)