Beirut, LiputanIslam.com – Badan Penyiaran Israel, Kan, melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memberi tahu para menterinya bahwa Presiden AS Donald Trump telah memberinya “lampu hijau” untuk menyerang Lebanon, dengan alasan penolakan Hizbullah untuk melucuti senjata.
Laporan pada pada Rabu malam (7/1) tersebut menambahkan, “Perdana Menteri Netanyahu memberi tahu para menteri kabinetnya bahwa Israel mendapat lampu hijau dari Presiden Trump untuk melancarkan serangan terhadap Lebanon karena Hizbullah menolak meletakkan senjatanya.”
Tidak ada keterangan lebih lanjut, dan tidak ada komentar langsung dari AS mengenai laporan Israel tersebut.
Pada akhir Desember, Kan melaporkan bahwa tentara Israel telah menyusun rencana untuk serangan skala besar terhadap target Hizbullah jika pemerintah dan tentara Lebanon gagal melucuti senjata kelompok pejuang Muslim Syiah tersebut.
Pada saat itu Kan mengutip pernyataan sumber keamanan berpangkat tinggi bahwa “AS telah diberitahu bahwa jika Hizbullah tidak benar-benar melucuti senjatanya, Israel akan melakukannya sendiri, bahkan jika ini menyebabkan pertempuran selama berhari-hari atau bahkan pecahnya kembali pertempuran di utara.”
Pada tanggal 5 Agustus 2025, pemerintah Lebanon menyetujui resolusi yang membatasi senjata hanya untuk negara, termasuk senjata Hizbullah, dan pada bulan September tahun yang sama menyambut rencana lima tahap yang dikembangkan oleh militer untuk menerapkan keputusan tersebut.
Namun, Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem berulang kali menyatakan pihaknya pantang melepaskan senjatanya, dan menganggap resolusi itu melemahkan Lebanon terhadap Israel. Dia juga menyerukan penarikan tentara Israel dari wilayah Lebanon.
Belakangan ini, media Israel telah melaporkan bahwa tentara Israel telah “menyelesaikan” rencana “serangan skala besar” terhadap posisi Hizbullah jika pemerintah dan tentara Lebanon gagal memenuhi komitmen mereka untuk melucuti senjata kelompok tersebut.
Hal ini terjadi ketika Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata tanggal 27 November 2014, melalui serangan udara hampir setiap hari, dan pendudukan berkelanjutan atas lima bukit Lebanon di selatan, yang direbutnya selama perang terakhir, selain wilayah lain yang telah didudukinya selama beberapa dekade.
Perjanjian gencatan senjata mengakhiri serangan Israel terhadap Lebanon yang dimulai pada Oktober 2013, sebelum meningkat menjadi perang skala penuh pada September 2014, yang mengakibatkan lebih dari 4.000 gugur dan sekitar 17.000 orang terluka. (mm/ry)