Kairo, LiputanIslam.com – Liga Arab mengutuk keras kunjungan menteri luar negeri Israel ke Hargeisa, ibu kota Somaliland, dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Republik Federal Somalia.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Senin (5/1), Sekjen Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit, mengatakan kunjungan tersebut merupakan upaya sia-sia untuk melegitimasi pemisahan diri Somalia barat laut dan menganggap pengakuan Israel terhadap Somaliland sebagai realitas yang sudah mapan.
Aboul Gheit menegaskan kembali penolakan tegas Liga terhadap setiap urusan resmi atau semi-resmi dengan otoritas wilayah separatis di luar kerangka pemerintah federal Somalia. Dia menekankan bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran mencolok terhadap persatuan dan kedaulatan Somalia.
Dia memperingatkan bahwa langkah-langkah ini berisiko merusak perdamaian dan keamanan regional, sekaligus memperburuk ketegangan politik di Somalia, Laut Merah, Teluk Aden, dan wilayah Tanduk Afrika yang lebih luas.
Juru bicara Sekretaris Jenderal, Gamal Roshdy, mengatakan bahwa Dewan Liga Arab telah menganggap langkah tersebut batal, tidak sah, dan tidak dapat diterima selama pertemuannya pada 28 Desember 2025.
DIa menambahkan bahwa Dewan Liga Arab memandang langkah tersebut sebagai upaya untuk memfasilitasi rencana pemindahan paksa rakyat Palestina dan untuk membuka pelabuhan Somalia bagi pendirian pangkalan militer asing.
Roshdy juga memastikan Liga Arab akan terus memberikan dukungan politik dan teknis kepada lembaga-lembaga negara Somalia dalam menghadapi upaya untuk menciptakan titik konflik baru yang mengancam stabilitas dan persatuan negara, atau membahayakan koridor maritim Arab yang vital.
Pernyataan demikian mengemuka di tengah kecaman internasional yang meluas terhadap pengakuan Israel atas Somaliland. Liga Arab, Uni Afrika, Dewan Kerja Sama Teluk, Organisasi Kerja Sama Islam, dan beberapa negara, termasuk Mesir, Qatar, Iran, Arab Saudi, Pakistan, Tiongkok, Nigeria, dan Otoritas Palestina, semuanya menolak tindakan Israel tersebut, dan menganggapnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan campur tangan dalam urusan internal Somalia.
Secara historis, Somaliland mendeklarasikan kemerdekaannya setelah jatuhnya rezim Mohamed Siad Barre pada tahun 1991, tetapi belum menerima pengakuan internasional dan dianggap sebagai bagian integral dari Republik Federal Somalia berdasarkan hukum internasional dan resolusi PBB. (mm/alahram/dawanafrica)