Quds, LiputanIslam.com – Para petinggi militer dan keamanan Israel Di Tel Aviv meyakini bahwa pernyataan yang dikaitkan dengan sumber-sumber berpangkat tinggi atau intelijen mengenai Iran dan pemulihan kekuatan negara repubblik Islam ini dimaksudkan untuk menutupi isu-isu penting lainnya yang hendak dihindari oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu, antara lain penyelidikan atas peristiwa 7 Oktober, penarikan pasukan dari Jalur Gaza, dan pelaksanaan fase kedua gencatan senjata dengan Hamas.
Dikutip saluran berita al-Alam, Selasa (23/12), para perwira Israel itu memperingatkan bahwa pernyataan dan pengarahan media sedemikian rupa dapat menyulut perang baru yang menghancurkan dengan Iran, perang yang tidak ingin dilancarkan oleh kedua belah pihak.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth memuat berita utama dengan judul; “Kesalahan dalam Perlakuan terhadap Iran Dapat Memicu Eskalasi Baru.”
Ahmed Rafiq Awad, direktur Institut Studi Masa Depan di Universitas Al-Quds, mengatakan,”Netanyahu mencoba memanaskan situasi sebelum kunjungannya ke (Presiden AS Donald) Trump. Tujuannya adalah pertama-tama memeras Trump dan memenuhi tuntutan, keinginan, dan tekanannya agar dapat beralih ke tahap kedua. Karena itu, peningkatan ketegangan dan pemicuan konflik di front Gaza, Suriah, Lebanon, dan bahkan Iran adalah pendahuluan yang ingin digunakan Netanyahu untuk memaksakan persyaratannya.”
Menurut situs berita Israel Walla, satu di antara lima isu penting yang akan dibawa Netanyahu ke Washington adalah masalah Iran, di tengah kekhawatiran AS terhadap kemungkinan meningkatnya situasi regional menjadi perang besar, mengingat besarnya pengaruh Iran di kawasan. Tel Aviv tidak ingin kembali ke skenario yang menyerupai atau bahkan lebih buruk dari konfrontasi sebelumnya dengan Iran, yang memiliki persediaan rudal canggih dalam jumlah besar.
Semua faktor ini, menurut situs Walla dan para pengamat, menunjukkan bahwa Netanyahu tampak tidak akan mampu membujuk Trump agar meningkatkan ketegangan dengan Teheran.
Nihad Abu Ghosh, direktur Pusat Studi Masar, mengatakan “Netanyahu ingin memprovokasi Trump agar menekan Iran, tetapi pemerintahan Trump tentu memiliki perhitungan sendiri. Mereka mungkin khawatir akan kemampuan nuklir Iran, tetapi tidak tentang kemampuan misilnya. Tel Aviv memandang membaiknya kondisi ekonomi, politik, dan keamanan Iran sebagai ancaman bagi ambisi dan proyek Israel di kawasan.”
Di Tel Aviv, mereka memahami bahwa perang berikutnya dengan Iran akan jauh lebih besar risikonya daripada konfrontasi sebelumnya.
AS sepenuhnya menyadari bahwa konfrontasi dengan Iran pada tahap ini akan berarti bahwa tidak seorang pun dapat mengendalikan api yang akan berkobar di kawasan, atau mengendalikan letak geografis tempat konfrontasi akan terjadi, atau mengendalikan waktu terjadinya konfrontasi. (mm/alalam)