Teheran, LiputanIslam.com – Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan kemampuan pertahanan neganya dirancang terutama untuk mencegah serangan apa pun oleh agresor, dan tidak dapat dinegosiasikan.
Pada konferensi pers mingguan pada hari Senin (22/12), Baghaei menanggapi pertanyaan tentang propaganda media Israel dan AS mengenai kemungkinan agresi militer baru terhadap Iran dengan dalih demi mengendalikan proyek rudal negara Republik Islam ini.
“Saya ingin menyebutkan tiga poin. Pertama, proyek rudal Iran adalah proyek untuk pertahanan negara ini, bukan untuk dinegosiasikan. Jadi, dalam bentuk apapun, kami tidak mungkin akan menegosiasikan daya pertahanan Iran, yang selama ini telah menjadi faktor pencegah serangan terhadap Iran. Bidang ini tak bisa dirundingkan,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, “Kedua, kami melihat dalam masalah ini ada hipokrasi dan standar ganda. Proyek rudal Iran dikesankan sebagai ancaman, tapi di saat yang sama sebagian besar senjata pemusnah massal mengalir ke entitas Zionis Israel, yang menduduki dua negara dan telah menyerang tujuh negara. Ini merupakan kontradiksi, standar ganda, dan pertentangan moral. AS harus memikir masalah ini, dan negara-negara pendukung Israel harus menanggapi kritikan ini.”
Baghaei menambahkan, “Ada skenario yang sudah lama diupayakan entitas Zionis dengan bantuan AS serta para sekutu serta media massanya untuk menyerang Iran. Namun jelas bahwa kami berfokus pada pekerjaan kami sendiri, dan Angkatan Bersenjata kami mengetahui bagaimana dan kapan harus membela diri. Karena itu, saya tidak menggubris propaganda keji dalam masalah ini.”
Ditanya tentang kebangkitan kembali kelompok teroris ISISdi beberapa bagian kawasan dan dunia, Baghaei mengatakan AS dan rezim Israel harus bertanggung jawab atas dukungan mereka terhadap terorisme dan ISIS serta dampaknya.
Menurutnya, AS, Israel, dan beberapa pihak telah mendukung terorisme dan teroris Daesh dengan bertindak tidak bertanggung jawab dan mengabaikan konsekuensi dari tindakan mereka.
Dia menambahkan, “Getolnya kejahatan rezim Zionis, serangan terus-menerus terhadap Suriah, dan upaya rezim ini dan para pendukungnya untuk mengubah Suriah menjadi negara gagal dan negara yang terpecah belah, semuanya secara langsung berkontribusi pada perluasan dan reproduksi terorisme.”
Dia juga menyebutkan bahwa negara-negara regional telah mencapai pemahaman bahwa tindakan Israel, baik terhadap Palestina yang diduduki maupun terhadap negara-negara tetangga, secara langsung didukung dan disetujui oleh AS.
“Rezim Zionis telah berhasil memajukan perangnya dengan mengorbankan AS, sehingga melibatkan AS dalam siklus perang tanpa akhir dan permusuhan terus-menerus dengan negara-negara regional,” pungkasnya. (mm/alalam/pt)