Teheran, LiputanIslam.com – Juru bicara senior Angkatan Bersenjata Iran mengatakan bahwa sebagian besar jaringan spionase Israel dan AS terbongkar dan tergulung dalam Perang12 hari perang Iran VS Israel-AS pada bulan Juni 2025, dan bahwa ini merupakan pencapaian utama di bidang intelijen.
Dalam sebuah acara di Teheran pada hari Rabu (17/12), Shekarchi menyoroti kesalahan perhitungan AS-Israel selama perang, dan mengatakan bahwa mereka mengandalkan jaringan spionase dan komando langsung AS dan mengira sistem pemerintahan Iran akan runtuh dalam serangan awal.
Namun, lanjutnya, realitas di lapangan membuktikan kemauan nasional rakyat Iran tidak tergoyahkan.
Menurutnya, selama perang tersebut, kapasitas penuh militer NATO dan peralatan tercanggihnya dikerahkan sebagai bagian dari strategi perang hibrida habis-habisan melawan Iran.
“Musuh memasuki medan perang dengan penilaian yang salah,” kata Shekarchi.
“Meskipun ada korban jiwa di antara para komandan dan terjadi kerusakan awal, kekosongan komando dengan cepat terisi. Dalam beberapa jam setelah pertahanan, serangan terus-menerus Iran dimulai, meningkatkan kekuatan operasional dari hari ke hari dan membuat musuh benar-benar kebingungan,” tambahnya.
Shekarchi menjelaskan bahwa ketidakmampuan musuh mencapai tujuan strategisnya, termasuk perubahan rezim dan disintegrasi Iran, membawa mereka ke titik di mana mereka “memohon” penghentian perang, yang akhirnya menghasilkan pengumuman gencatan senjata sepihak.
Jenderal Shekarchi menyebut peningkatan stabilitas internal dan penguatan kepercayaan diri nasional sebagai hasil cemerlang dari perlawanan ini. “Kekuatan Iran kini telah menjadi kepercayaan internasional,” katanya.
Dia menambahkan, “Untuk pertama kalinya, semua komponen perang hibrida digunakan melawan kita, dan kita membuktikan bahwa dengan kohesi nasional dan ketergantungan pada rakyat, kita dapat mengatasi konspirasi apa pun.”
Dia juga mengatakan bahwa Iran menjadi lebih kuat setelah perang, karena jalur produksi senjatanya lebih aktif dari sebelumnya.
Musuh Beralih ke Perang Kognitif
Shekarchi menyebutkan bahwa musuh kini sedang mengalihkan fokusnya dari konfrontasi militer ke perang kognitif dan perang lunak.
Dia memperingatkan bahwa merebut pikiran lebih berbahaya daripada serangan militer, karena bertujuan mendistorsi persepsi dan perhitungan publik. Dia mengimbau masyarakat Iran tetap waspada dan tidak menggemakan retorika musuh.
“Musuh berusaha melemahkan Iran, sementara Iran tidak lemah; musuh hanya mencoba menyembunyikan kelemahan fundamentalnya dengan pencitraan media,” katanya.
Sherkachi memastikan negaranya memiliki ilmu pengetahuan, pengalaman, dan kapasitas untuk mengelola perang lunak dan mengubah ancaman ini menjadi peluang. Dia mengaku yakin bahwa Revolusi Islam Iran akan mewujudkan semua cita-citanya sementara pihak musuh pada akhirnya akan tumbang. (mm/presstv)