Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa bangsa Iran dengan perlawanan nasionalnya yang tangguh telah mematahkan sepak terjang musuh untuk mengubah identitas keagamaan, historis, dan kultural nasional Iran.
“Dengan perlawanan nasionalnya, bangsa Iran telah dan akan terus menggagalkan upaya musuh yang berkelanjutan untuk mengubah identitas keagamaan, historis, dan kultural nasional (Iran). Sekarang pun, dengan segala tantangan dan kekurangan yang ada, bangsa Iran terus melanjutkan jalannya ke depan, bersama urgensi adanya kesiapan defensif dan ofensif untuk menghadapi aktivitas propaganda dan media musuh, yang membidik nalar, hati dan keyakinan,” ujarnya dalam kata sambutan pada majelis peringatan milad Sayyidah Fatimah Zahra, putri Nabi Muhammad saw, Kamis (11/12).
Ayatullah Khamenei mendefinisikan “perlawanan nasional” sebagai keteguhan hati dalam menghadapi berbagai tekanan dari kekuatan penindas, baik militer, ekonomi, media, budaya, maupun politik. Dia menyebutkan bahwa tekanan media dan propaganda Barat terkadang bertujuan untuk ekspansi regional, kontrol atas sumber daya, atau mengubah gaya hidup dan identitas nasional.
Dia menekankan bahwa upaya kekuatan arogan untuk mengubah identitas “agama, sejarah, dan budaya” bangsa Iran telah berlangsung selama lebih dari satu abad, dan Revolusi Islam telah menggagalkan upaya-upaya tersebut. Dia memuji ketahanan rakyat Iran, yang telah menolak tekanan terus-menerus selama beberapa dekade terakhir.
Pemimpin Besar Iran juga menyinggung penyebaran konsep dan literatur perlawanan dari Iran ke negara-negara di kawasan dan sekitarnya, sembari memastikan bahwa beberapa tekanan yang dihadapi Iran sudah cukup untuk menggulingkan negara lain mana pun.
Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa lantunan doa keagamaan selama peringatan Imam Hussein memperkuat ingatan akan para martir dan menyebarkan konsep perlawanan, dan bahwa musuh saat ini menghadapi “perang propaganda dan media” setelah menyadari bahwa wilayah Iran tidak dapat ditaklukkan hanya dengan tekanan militer.
Dia menegaskan keharusan mengetahui tujuan dan formasi musuh, seperti halnya di medan militer, dan mengidentifikasi titik-titik sasaran mereka seperti wawasan keislaman, isu Sunni-Syiah, dan revolusi Islam Iran. Dia menekankan bahwa keteguhan dalam menghadapi perang propaganda dapat dilakukan. (mm/alalam)