Khartoum, LiputanIslam.com – Lebih dari 19.000 orang ditahan oleh Pasukan Pendukung Cepat (RSF) paramiliter di Darfur Selatan di Sudan barat, kata petugas medis setempat, Rabu (10/12).
Jaringan Dokter Sudan di plaform X melaporkan lebih dari 19.000 orang disekap di penjara Dagris dan Kober, pusat penahanan terbesar di negara bagian Darfur Selatan.
Menurut kelompok medis tersebut, sekitar 5.434 tahanan berasal dari profesi sipil, termasuk 73 staf medis dan sejumlah politisi serta pekerja media.
Jaringan tersebut melaporkan peningkatan jumlah kematian di antara para tahanan karena kondisi penahanan yang memburuk, termasuk kekurangan obat-obatan, air minum, dan makanan yang akut, sel yang terlalu padat, sanitasi yang buruk, kurangnya isolasi medis, dan penyebaran penyakit menular di antara para tahanan.
“Lebih dari empat kematian tercatat setiap minggu karena kelalaian medis, di samping tidak adanya staf yang berkualitas dan kurangnya pertolongan pertama atau kemampuan untuk mengangkut kasus-kasus kritis ke rumah sakit,” tambahnya.
Jaringan Dokter Sudan menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan organisasi internasional lainnya untuk memberikan tekanan kepada RSF agar membebaskan tahanan sipil dan melindungi tahanan sesuai dengan standar kemanusiaan dan hukum.
Konflik antara tentara Sudan dan RSF, yang dimulai pada April 2023, telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan orang lainnya mengungsi.
Dari 18 negara bagian Sudan, RSF mengendalikan lima negara bagian di wilayah Darfur di barat, kecuali beberapa bagian utara Darfur Utara yang tetap berada di bawah kendali tentara. Di pihak lain, tentara menguasai sebagian besar wilayah dari 13 negara bagian lainnya di selatan, utara, timur, dan tengah, termasuk ibu kota, Khartoum. (mm/aa)