Khartoum, LiputanIslam.com – Serangan drone terhadap sebuah taman kanak-kanak dan rumah sakit di Sudan, menewaskan tak kurang dari 114 orang, termasuk 63 anak-anak, di kota Kalogi, di wilayah Kordofan Selatan pada hari Kamis (4/12). Demikian dikatakan oleh kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, Senin (8/12), sembari menyebutnya “tidak masuk akal”.
Tentara, dan sebuah organisasi medis, Jaringan Dokter Sudan, menyatakan serangan itu didalangi oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF), salah satu pihak dalam perang saudara yang berkecamuk di negara itu.
Dalam perkembangan lain, RSF mengklaim menguasai ladang minyak terbesar di negara itu, Heglig.
Sudan telah dilanda perang sejak April 2023 ketika perebutan kekuasaan pecah antara RSF dan tentara, yang sebelumnya merupakan sekutu. Terletak di antara ibu kota Sudan, Khartoum, dan Darfur, wilayah yang terdiri dari Kordofan Utara, Kordofan Selatan, dan Kordofan Barat ini telah menjadi garis depan dalam perang saudara.
Pertempuran untuk warga Kordofa, yang berpenduduk hampir delapan juta jiwa, semakin intensif seiring pasukan militer bergerak maju menuju Darfur, yang berada di bawah kendali RSF.
Laporan awal menunjukkan bahwa setidaknya 50 orang, termasuk 33 anak-anak, tewas di Kalogi, yang dikuasai oleh tentara.
Menurut sistem pemantauan, serangan terhadap Layanan Kesehatan WHO, 114 orang meninggal dunia dan 35 orang luka-luka.
Pejabat setempat Essam al-Din al-Sayed, kepala unit administrasi Kalogi, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa serangan drone menyerang “pertama sebuah taman kanak-kanak, kemudian sebuah rumah sakit, dan yang ketiga kalinya ketika orang-orang berusaha menyelamatkan anak-anak”.
Belum ada komentar langsung dari RSF, yang sebelumnya membantah telah melukai warga sipil, tetapi dituduh oleh Tedros pada bulan Oktober telah membunuh ratusan warga sipil di rumah sakit utama di kota el-Fasher, Darfur.
Tedros mengatakan pada hari Senin bahwa para penyintas serangan Kalogi telah dipindahkan ke Rumah Sakit Abu Jebaiha, Kordofan Selatan, untuk perawatan dan bahwa panggilan darurat sedang dilakukan untuk donor darah dan dukungan medis lainnya.
“Yang meresahkan, paramedis dan responden diserang saat mereka mencoba memindahkan korban luka dari taman kanak-kanak ke rumah sakit,” tambahnya.
Dua juga mengatakan, “WHO menyesalkan serangan tak berperikemanusiaan ini terhadap warga sipil dan fasilitas kesehatan, dan kembali menyerukan diakhirinya kekerasan, serta peningkatan akses terhadap bantuan kemanusiaan, termasuk kesehatan.”
Tanpa menyalahkan pihak mana pun atas serangan hari Kamis, Tedros menyerukan diakhirinya perang, dengan menulis di kolom X: “Rakyat Sudan sudah terlalu menderita. Gencatan senjata sekarang!”
RSF menyebut keberhasilannya merebut ladang minyak Heglig, dekat perbatasan selatan, sebagai momen “penting”.
Sebuah sumber militer mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa pasukan pemerintah telah ditarik mundur untuk melindungi fasilitas minyak dan mencegah kerusakan. Sumber lain yang bekerja di ladang minyak tersebut menambahkan bahwa tentara dan pekerja minyak telah ditarik ke Sudan Selatan, yang merdeka dari wilayah Sudan lainnya pada tahun 2011.
Menurut Reuters, Heglig merupakan lokasi fasilitas pemrosesan utama minyak Sudan Selatan, yang menyumbang sebagian besar pendapatan pemerintah Sudan Selatan dan juga vital bagi pendapatan mata uang keras Sudan. (mm/alalam/bbc)