Islamabad, LiputanIslam.com – Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC), Ali Larijani, berterima kasih kepada Pakistan atas dukungannya kepada Iran dalam peristiwa Perang 12 Hari Iran melawan rezim Zionis dan AS pada bulan Juni 2025.
Dalam sebuah postingan di X, Selasa (25/11), Larijani yang sedang berkunjung ke Pakistan memuji negara ini karena “bertanggung jawab dalam mendukung Iran,” dan menyebut sikap ini mencerminkan “pemikiran rakyat Pakistan yang teguh dan berprinsip.”
Larijani juga menyampaikan salam dari Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei kepada rakyat Pakistan.
Sebelumnya, dia mengadakan pertemuan terpisah dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Presiden Asif Ali Zardari, dan Ketua Majelis Nasional Sardar Ayaz Sadiq.
Menurut pernyataan pemerintah Pakistan, Larijani dan Sharif menekankan hubungan historis dan persaudaraan antara Iran dan Pakistan, serta menyerukan kerja sama yang lebih erat di berbagai bidang.
Sharif memuji pendirian regional Iran yang dinilainya berprinsip. Dia juga menyatakan berterima kasih atas solidaritas Teheran dengan Pakistan.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Qalibaf di Teheran menegaskan “tangan agresif” rezim Israel harus diputus dari kawasan untuk menghentikan “kejahatan tanpa batas”. Dia mengatakan rezim Zionis telah menggunakan pendekatan tersebut di bawah “perdana menteri kriminalnya (Benjamin Netanyahu)”.
“Bagi mereka, tidak ada perbedaan antara Teheran, Beirut, Doha, Islamabad, Khartoum, dan Istanbul,” ujarnya.
Qalibaf menyatakan demikian setelah Israel membunuh komandan senior gerakan perlawanan Lebanon, Hizbullah, Haytham Ali Tabatabai, dan empat anggota kelompok lainnya dalam serangan udara di pinggiran selatan Beirut.
Qalibaf menekankan bahwa Hizbullah tetap “kuat dan tak tergoyahkan,” terus bergerak maju, meskipun Tel Aviv terus berusaha mengganggu stabilitas kawasan.
Dia menyebut Israel sebagai musuh yang “tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan” dan tidak menganggap dirinya terikat oleh aturan atau perjanjian apa pun.
Menurutnya, dalam situasi demikian, hanya “keberanian dan kekuatan” yang dapat menghalangi musuh. Dia menekankan bahwa pencegahan rezim tersebut dari melanjutkan jalur kriminalnya sangat penting untuk memulihkan stabilitas regional.
“Situasi ini tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Kesabaran ada batasnya,” ujarnya, sembari menekankan bahwa kubu perlawanan “berperhitungan dengan cermat, tapi bertindak tegas, tidak mencari perang, tapi bertempur dengan baik.”
Qalibaf juga mengecam kekuatan global dan organisasi internasional karena menjadi saksi atas “kebrutalan” rezim tersebut, namun “tidak memiliki keinginan untuk menghentikannya.” (mm/presstv)