Khartoum, LiputanIslam.com – Panglima Angkatan Bersenjata Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, menolak proposal gencatan senjata dari kuartet pimpinan AS, dan menyebutnya sebagai “proposal terburuk.”
Dalam sebuah pernyataan video yang dirilis oleh militer pada Minggu malam (23/11), al-Burhan menegaskan proposal tersebut tidak dapat diterima, dan menilai para mediator “tidak netral” dalam upaya mereka untuk mengakhiri perang.
Sebelumnya, penasihat senior presiden AS untuk urusan Arab dan Afrika, Massad Boulos, mengatakan kepada AP bahwa proposal terbaru tersebut menyerukan gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan yang diikuti oleh proses politik selama sembilan bulan.
Pasukan Dukungan Cepat (RSF) mengatakan mereka telah menyetujui gencatan senjata tersebut menyusul kemarahan internasional atas kekejaman yang dilakukan oleh kelompok paramiliter ini di El Fasher, Darfur.
Namun al-Burhan menyebut proposal itu “dokumen terburuk” karena “menghilangkan angkatan bersenjata dan menuntut pembubaran semua badan keamanan, sementara milisi tetap utuh, merujuk pada RSF. “Jika mediasi berlanjut ke arah ini, kami akan menganggapnya bias,” katanya.
Dia mengkritik Mosad Boulos dengan menyebutnya “berbicara seolah-olah hendak mendikte kami. Kami khawatir Boulos akan menjadi penghalang bagi perdamaian yang diinginkan seluruh rakyat Sudan.”
Dia juga menyebut-nyebut Uni Emirat Arab (UEA) dengan mengatakan bahwa karena Kuartet memasukkan negara Teluk ini sebagai anggota, kelompok mediasi tersebut “tidak terbebas dari tanggung jawab, terutama karena seluruh dunia menyaksikan dukungan UEA terhadap pemberontak yang menentang negara Sudan.”
Perang yang menghancurkan ini telah merenggut nyawa lebih dari 40.000 orang, menurut data PBB, tetapi organisasi-organisasi bantuan mengatakan angka ini masih kurang dari jumlah sebenarnya dan jumlah korban bisa jadi jauh lebih tinggi. Perang ini telah memicu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, memaksa lebih dari 14 juta orang mengungsi, memperparah wabah penyakit, dan membuat berbagai wilayah negara terdera bencana kelaparan. (mm/alalam)