Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang perlawanan Hizbullah yang berbasis di Lebanon secara resmi mengumumkan kesyahidan komandan seniornya, Haytham Ali Tabatabai, bersama sejumlah pejuang lainnya akibat serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut, Minggu (23/11).
“Hizbullah mengumumkan kepada rakyat perlawanan dan rakyat Lebanon kesyahidan komandan jihad agung Haitham Ali Tabatabai alias Sayyid Abu Ali, yang telah bangkit dan gugur dalam pengorbanan untuk Lebanon dan rakyatnya akibat serangan berbahaya Israel di Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut,” ungkap Hizbullah dalam pernyataan resmi pada Minggu malam.
Hizbullah memuji keteguhan dedikasi Tabatabai kepada gerakan perlawanan, dan menyebutnya telah berperan penting dalam membangun kekuatan kelompok perlawanan ini sejak awal. Hizbullah menegaskan gugurnya Tabatabai justru menginspirasi harapan dan tekad baru di kalangan pejuang perlawanan, dan berjanji untuk melanjutkan perjuangan melawan Zionis, dan pelindungnya, AS.
Serangan Israel terhadap apartemen hunian di Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut, pada hari Minggu menggugurkan sedikitnya lima orang, termasuk Komandan Tabatabai, dan melukai 28 lainnya.
Agresi Israel telah memicu kembali perdebatan global mengenai kemitraan AS-Israel dan perannya dalam mempertahankan kekerasan di Lebanon, serta keterlibatan Washington dalam kejahatan perang Israel di Gaza. AS telah lama memberi Israel dukungan militer, keuangan, dan diplomatik yang luas, termasuk persenjataan canggih, pembagian intelijen, dan perlindungan politik di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut para analis, dukungan Washington memungkinkan Israel untuk melancarkan serangan udara dan kampanye militer secara lebih luas di kawasan.
Dua pejabat senior AS mengomentari serangan Israel tersebut. Pejabat pertama mengatakan bahwa Israel tidak memberi tahu AS sebelumnya tentang serangan tersebut. “Kami diberitahu segera setelah serangan dilakukan,” katanya.
Pejabat senior kedua mengatakan, “AS telah mengetahui selama beberapa hari bahwa Israel berencana meningkatkan serangannya di Lebanon, tetapi tidak mengetahui sebelumnya waktu, lokasi, atau target serangan tersebut.”
Presiden Lebanon Michel Aoun mengecam serangan udara itu dan menyebutnya sebagai bukti nyata ketidakpedulian Tel Aviv terhadap seruan internasional yang berulang kali untuk penghentian pelanggaran di wilayah Lebanon.
“Israel menolak untuk menerapkan resolusi internasional dan semua upaya yang bertujuan untuk mengakhiri eskalasi dan memulihkan stabilitas,” kata Aoun, sembari mendesak komunitas internasional untuk mengambil tindakan guna mencegah agresi lebih lanjut.
Gerakan Jihad Islam Palestina juga mengecam serangan tersebut, dan meminta pertanggungjawaban komunitas internasional.
“Komunitas internasional bertanggung jawab dan terus memberikan perlindungan atas serangan-serangan ini selama mereka tidak mengekang para penjajah,” kata Ali Abu Shahin, anggota biro politik kelompok tersebut.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa tentara Israel melakukan serangan “di jantung kota Beirut.” Netanyahu dilaporkan menyetujui operasi tersebut setelah mendapat rekomendasi dari pejabat tinggi keamanan Israel.
Kedutaan Besar Iran untuk Lebanon di akun X-nya menyatakan serangan “pengecut” Israel tidak akan dapat mengalahkan tekad rakyat Lebanon. (mm/alalam/presstv)