Teheran, LiputanIslam.com – Dirjen Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Uruguay El Observador menyebut program nuklir Iran sebagai “isu kompleks”, namun mengakui bahwa Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.
Dikutip lembaga pemberitaan Tasnim milik Iran, Jumat (21/11), Grossi mengatakan, “Situasi seputar program nuklir Iran memang kompleks. Ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan karena itu saya tidak berwenang menilai apakah ini baik atau buruk, tetapi sampai pada titik di mana Israel, kemudian AS, memutuskan untuk menyerang fasilitas nuklir di negara itu.”
Para pejabat Teheran juga telah berulang kali menegaskan program nuklir Iran sepenuhnya bertujuan damai. Pemimpin Besar Iran Ayatullah Ali Khamenei bahkan telah mengharamkan produksi dan penggunaan senjata nuklir.
Grossi menilai serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni 2025 sekilas tampak mengurangi kapasitas Iran untuk mengembangkan senjata nuklir. “Faktanya, serangan ini telah menyebabkan kerusakan yang sangat signifikan pada infrastruktur nuklir Iran,” ujarnya.
Para pejabat Iran menyebut serangan itu sebagai aksi teror dan pelanggaran hukum internasional secara terbuka. Mereka juga menegaskan hak mereka membela diri dan melakukan rekonstruksi.
Dirjen IAEA mengatakan, “Tidak semua kemampuan teknis ini tidak dapat direproduksi; ini bukanlah teknologi yang tidak dikenal Iran.”
Mengenai situasi saat ini, Grossi mengatakan, “Yang terjadi adalah Iran sedang mengembangkan teknologi yang sangat canggih dan terus meningkatkan stok uranium yang diperkaya tinggi.”
Teheran memandang kegiatan itu sebagai haknya berdasarkan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan untuk tujuan damai, termasuk pengadaan bahan bakar reaktor dan produksi radiofarmasi.
Grossi menyimpulkan; “Semua ini berdampak. Negara-negara bertanya pada diri sendiri: Mengapa? Apa tujuan akhirnya? Dan itulah mengapa ada mekanisme verifikasi untuk memastikan tidak ada hal tidak pantas yang terjadi.”
Iran telah berulang kali menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan kerja sama penuh dengan IAEA jika sanksi dicabut dan semua pihak kembali pada komitmen mereka pada perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA). (mm/tasnim)