Gaza, LiputanIslam.com – Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigjen Ali Mohammad Naeini, menyatakan bahwa Perang 12 Hari Iran melawan Israel dan AS telah memperlihatkan kemampuan dan kekuatan nyata dan detentif rudal Iran, dan menyadarkan AS bahwa menghadapi rudal balistik Iran bukanlah pekerjaan yang mudah.
“Perang ini adalah yang paling kompleks di dunia, dan kesalahan perhitungan musuh terhadap komponen kekuatan Iran serta ketergantungannya pada infrastruktur fisik merupakan faktor utama kekalahannya,” kata Naeini pada acara Penjaga Perdamaian untuk Pembebasan , Kamis (20/11).
“Musuh semula yakin bahwa perang ini akan membuahkan hasil sesuai dengan kalkulasi mereka. Strategi operasional perang ini adalah memberikan pukulan cepat dan telak terhadap puncak komando perang Iran untuk merampas kemampuan Iran bertempur tepat waktu,” terangnya.
Naeini menyebutkan bahwa di pucuk pimpinan komando perang terdapat empat tokoh kunci: Brigjen Jenderal Rashid, Brigjen Bagheri, Brigjen Salami, dan Brigjen Hajizadeh, dan musuh menduga bahwa dengan menghabisi mereka maka militer Iran akan lumpuh dan pertahanannya akan runtuh, sehingga memicu perang di wilayah Iran.
Dia menjelaskan, “Musuh memperkirakan bahwa setelah runtuhnya infrastruktur pertahanan, masyarakat akan menerima pesan kekacauan, dan kekacauan itu akan berpuncak pada serangan jalanan dan masuknya kawanan penyabot melintasi perbatasan. Perang 12 hari ini adalah perang paling kompleks di dunia; mereka melihat segalanya dan membuat segala perhitungan.”
Dia menambahkan, “Namun, musuh gagal memahami komponen kekuatan kita. Kesalahan terbesar mereka adalah meyakini bahwa Republik Islam memperoleh kekuatannya semata-mata dari struktur keamanan dan pertahanannya. Mereka melakukan kesalahan yang sama dalam peristiwa perang delapan tahun (Iran-Irak, 1980-1988). Musuh meremehkan kekuatan sejati sistem, yaitu rakyat, dan menganggapnya sebagai bentuk kekuatan lunak dalam perhitungan mereka, dan mereka tidak mampu memperkirakannya.”
Juru bicara IRGC juga menegaskan, “Kesalahan musuh terletak pada analisisnya yang keliru tentang karakteristik kekuatan Iran. Kesalahan perhitungan dan kesalahpahaman ini bersumber dari perhitungan berbasis material musuh—yaitu, akumulasi kemampuan materialnya. Meskipun Iran sepenuhnya mengandalkan kekuatannya sendiri dalam menghadapi dua kekuatan nuklir global dan seluruh kemampuan gabungan Eropa dan regional, dalam perang ini, musuh sendiri menjadi korban perang persepsinya sendiri; artinya, ia percaya pada ‘Iran yang lemah’, persepsi yang mereka ciptakan dan ditindaklanjuti.”
Naeini menambahkan, “Sebaliknya, dalam Perang 12 Hari, dunia percaya pada Iran yang kuat. Terlihat jelas bahwa kekuatan rudal kita faktual dan detentif, dan AS menyadari bahwa menghadapi rudal balistik Iran bukanlah pekerjaan yang mudah.”
Brigjen Naeini menegaskan bahwa Perang 12 Hari merupakan “titik balik strategis dan merupakan “satu-satunya konfrontasi langsung Iran dengan NATO dan Komando Pusat AS (CENTCOM), yang kemudian mengubah perimbangan kekuatan di Asia Barat (Timur Tengah).”
Dia juga menyebutkan bahwa beberapa analis militer di dunia telah menunjukkan bahwa sejarah perang modern dan kontemporer terbelah menjadi pra dan pasca Perang 12 Hari, yang berarti bahwa Perang 12 Hari ini sedemikian krusial sehingga mereka menyajikannya sebagai peristiwa paling penting dan khas dalam peperangan di dunia. (mm/alalam)