Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Lebanon kata Syeikh Naim Qassem kembali menegaskan bahwa seruan AS dan Israel untuk pelucutan senjata kelompok perlawanan Islam di Lebanon tersebut dirancang untuk melemahkan Lebanon dan membuatnya rentan terhadap agresi eksternal.
“Senjata perlawanan adalah kunci kekuatannya, dan senjata itu tidak akan diserahkan,” kata Syeikh Naim Qassem dalam pidato yang disiarkan televisi untuk memperingati Hari Syuhada pada hari Selasa (11/11).
Dia menegaskan, “Ancaman dan tekanan AS dan Israel tidak akan mengubah pendirian kami; kami akan mempertahankan tanah dan martabat kami, kami tidak akan menyerah. AS dan Israel harus putus asa. Kubu perlawanan tidak akan menyerah meskipun mengalami kerugian dan ancaman.”
Dia seruan pelucutan senjata Hizbullah sebagai “dalih” untuk melancarkan agresi terhadap Lebanon,.
“Kami menghadapi ancaman eksistensial yang nyata, dan merupakan hak kami untuk melakukan apa pun yang diperlukan untuk menghadapinya. Israel menolak mundur karena ingin mengendalikan masa depan Lebanon,” lanjut Syeikh Naim Qassim, mengacu pada pelanggaran Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang dicapai tahun lalu.
Menurutnya, AS dan Israel sedang mengintervensi urusan politik, militer, dan ekonomi Lebanon, dan Washington bertujuan melumpuhkan kemampuannya Lebanon mempersenjatai tentaranya dan melawan agresi musuh.
“Amerika memroyeksikan pendudukan dan agresi dengan menggunakan Israel sebagai alat untuk mencapai tujuannya,” tambah pemimpin Hizbullah tersebut.
Mengenai perjanjian gencatan senjata, Syeikh Qassem menyatakan bahwa otoritas Lebanon harus bertanggung jawab memastikan pelaksanaan perjanjian ini dengan segala cara yang sah, dan bahwa Israel harus menarik diri dari Lebanon Selatan, menghentikan agresinya terhadap Lebanon, dan membebaskan tawanan Lebanon.
“Tidak akan ada stabilitas di Lebanon dengan agresi Israel yang berkelanjutan dan tekanan Amerika,” tegasnya.
Israel dan Hizbullah menyetujui perjanjian gencatan senjata yang berlaku efektif pada 27 November 2024. Berdasarkan perjanjian tersebut, Tel Aviv diharuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari wilayah Lebanon, namun kenyataannya masih tetap menempatkan pasukan di lima lokasi sehingga jelas-jelas melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan ketentuan perjanjian November lalu.
Sejak gencatan senjata diimplementasikan, Israel telah melanggar perjanjian tersebut beberapa kali melalui serangan berulang kali di wilayah Lebanon. Otoritas Lebanon telah memperingatkan bahwa pelanggaran gencatan senjata oleh rezim tersebut mengancam stabilitas nasional. (mm/presstv)