Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Hizbullah dalam sebuah pernyataan berjanji untuk melawan agresi militer Israel.
“Kami menegaskan kembali hak sah kami untuk membela diri terhadap musuh yang memaksakan perang terhadap negara kam. Kami menegaskan kembali hak sah kami untuk melawan pendudukan dan agresi dan mendukung tentara dan rakyat kami demi melindungi kedaulatan negara kami,” tegas Hizbullah, Kamis (6/11).
Hizbullah menolak segala negosiasi politik dengan Israel, dan menyatakan bahwa perundingan demikian “tidak akan melayani kepentingan nasional.”
Hizbullah mengingatkan bahwa meskipun Lebanon terikat oleh gencatan senjata, namun tidak berkewajiban terlibat dalam negosiasi politik dengan Israel.
Dalam sebuah surat kepada pemerintah Lebanon, Hizbullah menolak gagasan pelucutan senjata sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata November 2024 dengan Israel, dan menyebut tuntutan itu tidak dapat diterima. Hizbullah menekankan bahwa mereka tidak akan tunduk pada “pemerasan dan pemerasan” Israel.
Perkembangan ini terjadi menyusul meluasnya manuver intimidasi media Barat yang dilakukan kaum Zionis terhadap Lebanon, bersamaan dengan tekanan politik AS untuk membawa Beirut ke dalam perundingan langsung dengan rezim Israel.
Tom Barrack, utusan khusus AS untuk Suriah, di Forum Dialog Manama di Bahrain belum lama ini mengklaim bahwa stabilitas regional bergantung pada pelucutan senjata Hizbullah dan kemajuan diskusi perbatasan dengan Israel.
Seruan Barrack untuk pelucutan senjata Hizbullah muncul ketika rezim Israel, selama beberapa tahun terakhir, berulang kali melanggar kedaulatan Lebanon melalui serangan udara, serangan drone, dan serangan lintas batas.
Israel menerima gencatan senjata dengan Hizbullah pada 27 November 2024, setelah menderita kerugian besar di medan perang dan gagal mencapai tujuannya meskipun telah menewaskan lebih dari 4.000 orang di Lebanon. Namun Israel masih terus menyerang Lebanon hampir setiap hari dan menolak menarik pasukan pendudukannya dari negara Arab tersebut.
Pasukan pendudukan Israel tetap ditempatkan di lima lokasi di dalam wilayah Lebanon dan terus menembaki sebagian wilayah Lebanon selatan dan timur, serta pinggiran selatan Beirut. Agresi Israel, sejak gencatan senjata November, telah menggugurkan sekitar 300 orang dan melukai lebih dari 650 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, menurut data pemerintah Lebanon.
Sekjen Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, pada hari Jumat pekan lalu mengkritik peran AS di Lebanon, dan mengecam Washington sebagai sponsor agresi, alih-alih mediator yang imparsial. (mm/presstv)