Teheran, LiputanIslam.com – Ratusan ribu warga Iran berunjuk rasa di Teheran dan lebih dari 900 kota lainnya untuk menandai peringatan peristiwa pengambilalihan Kedutaan Besar AS oleh mahasiswa pada tahun 1979, sebuah peristiwa yang diperingati sebagai Hari Nasional Melawan Arogansi Global.
Mahasiswa, pemuda, ulama, dan keluarga berpartisipasi dalam demonstrasi pada hari Selasa (4/11), yang diwarnai kutukan terhadap AS dan Israel, antara lain terkait dengan agresi 12 hari mereka terhadap Iran pada bulan Juni 2025.
Para peserta membawa bendera Iran dan poster para martir dalam serangan AS dan Israel sambil meneriakkan slogan-slogan “Mampus Amerika” dan “Mampus Israel.”
Para pejabat dari lembaga pemerintah dan militer, keluarga para martir, dan veteran perang Iran-Irak tahun 1980-an juga ikut serta dalam aksi nasional tersebut.
Di Teheran, pawai dimulai di Alun-alun Palestina dan berlanjut menuju bekas Kedutaan Besar AS, menampilkan orasi, nyanyian keagamaan, dan pembacaan resolusi yang mengecam AS dan Israel.
Pameran budaya yang menyoroti “kejahatan” Barat dan Israel selama puluhan tahun juga ditampilkan. Pameran simbolis rudal dan sentrifus Iran digelar di sepanjang rute, dan dilakukan aksi pembakaran bendera AS dan Israel.
Sidang simbolis Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga digelar.
Sejak pagi, para pelajar, pemuda, dan keluarga berkumpul di sepanjang rute menuju Alun-alun Palestina, mengibarkan bendera tiga warna Iran.
Di sepanjang Jalan Taleghani hingga bekas komplek Kedubes AS, paduan suara sekolah, marching band, dan stan-stan budaya turut memeriahkan suasana, dengan lagu-lagu revolusioner dan yel-yel “Mampus Amerika” menggema di sepanjang jalan.
Resolusi resmi demonstrasi di Teheran dibacakan dengan lantang, menekankan hari itu sebagai titik fokus perlawanan Republik Islam terhadap hegemoni global dan sebagai peringatan bagi para pelajar dan pemuda yang mempelopori revolusi.
Pernyataan tersebut menegaskan kembali komitmen Iran untuk melawan dominasi AS dan Israel, dukungan aktif bagi gerakan global yang menentang hegemoni asing, dan pembelaan hak-hak Palestina.
Aksi ini menyerukan persatuan nasional di bawah kepemimpinan Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, pelestarian kemandirian militer dan ekonomi Iran, serta promosi kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi.
Para peserta mengikrarkan kesetiaan kepada Pemimpin Besar dan bersumpah untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Revolusi Islam dan warisan para martir, terutama mahasiswa dan pemuda, sebagai hal yang esensial untuk menjaga kedaulatan Iran.
13 Aban (4 November) diperingati sebagai Hari Mahasiswa sekaligus Hari Nasional Anti-Arogansi, yang menandai tiga peristiwa sejarah penting: pengasingan Imam Khomeini ke Turki pada tahun 1964, pembunuhan mahasiswa yang berunjuk rasa pada tahun 1978, dan pengambilalihan Kedutaan Besar AS pada tahun 1979.
Hari ini melambangkan martabat nasional, perlawanan, dan pembangkangan terhadap musuh dalam ingatan kolektif Iran.(mm/presstv)